Evil God Average Chapter 15 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 15 Bahasa Indonesia

April 03, 2017 Christian Tobing

Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 15 – Last Boss Battle

Beberapa hari telah berlalu setelah invasi tim pahlawan yang membuatku merinding.
Tindakan mereka yang melampaui ekspektasiku dalam artian berbeda kemudian anti-klimaks yang dibalut ketegangan membuatku menyayangkan banyaknya energi yang terbuang percuma. Bisa menyakiti dungeon master tanpa bertarung secara langsung… yang namanya pahlawan memang menyeramkan. Tapi kurasa para musclehead itu lebih pantas disebut para pahlawan (:v).
Terus ada satu hal yang kusadari.
Di dunia lamaku, memecahkan puzzle dalam sebuah dungeon adalah hal yang wajar, walau di dunia ini tidak seperti itu. Aku tanpa sengaja berhasil mengusir mereka. Tapi kalau dipikir lagi, semakin sulit dungeon ini maka tingkat keamananku juga bertambah, kan. Karena itu, aku memutuskan untuk merombak lantai 11 hingga 20 dengan menambahkan puzzle dan trik lain.
Mengingat kembali trik dalam RPG lama sebagai referensi, aku mencoba menambahkan beberapa hal: kuis, lantai bergerak, lantai berputar, hand-cart, tombol yang harus ditekan sesuai urutan, tempat yang mengharuskanmu jatuh dalam lubang untuk bisa lanjut, lantai tak terlihat, 2 wadah berisi air yang tingginya harus disamakan, lorong yang mengirimmu kembali ke  pintu masuk kalau tidak mengikuti arah tertentu… Hmm, mungkin aku sedikit berlebihan. Tapi yah, karena ini demi nyawaku, kurasa aku tidak perlu menahan diri. Setidaknya, dengan ini tim wira kemarin tidak akan bisa sampai ke bawah seumur hidup mereka.
Ah~ tentu saja aku sudah mengganti keping batu yang mereka curi.

Puas setelah menyelesaikan perombakan, suara alarm kembali menggema dalam telinga.
Ada orang lain yang berhasil menembus lantai 4… eh, bukan tim pahlawan (:v) yang tempo hari kan?
Berpikir demikian, aku melihat ke arah layar dan menemukan seorang gadis cantik dengan rambut perak yang tergerai di punggungya. Gadis tersebut mengenakan pakaian merah yang memberikan kesan gabungan gaun dan armor. Kelihatannya dia tidak menggunakan pedang, karena dia tadi menghancurkan beberapa iron golem hanya dengan tangan kosong.

Name:    Leonora Romariel
Race:     Demon Race
Sex:       Female
Age:      16
Job:       Magic Boxer
Level:   24
Title:     Demon King Successor

"De-Demon King…?"
Kemarin ada pahlawan, sekarang raja iblis!? Apa dungeon ini dikutuk? Eh, tunggu… kalau dilihat lagi title-nya bukan “Demon King” tapi “Demon King Successor/penerus raja iblis”. Karena tertulis “penerus”, apa mungkin dia anaknya raja iblis?
Ini pertama kalinya aku melihat seseorang dari bangsa iblis. Selain fakta bahwa dia adalah gadis cantik, penampilannya tidak begitu berbeda dari manusia biasa. Walau begitu, kekuatannya jelas ada dalam level yang berbeda. Sejauh ini memang ada beberapa penantang dungeon yang memiliki level setara, tapi kalau dilihat-lihat, dia sepertinya jauh lebih kuat, bahkan dibandingkan dengan tim pahlawan (:v) tempo hari.
Sepertinya untuk setiap level, masing-masing ras punya kekuatannya sendiri, sehingga walau di level yang sama, kekuatan antar ras bisa berbeda. Lagipula, menembus lantai 4 sendirian bukanlah hal yang bisa dilakukan manusia berlevel 20. Yang menyeramkan lagi, dia melenyapkan para wraith dengan tangan kosong, padahal harusnya mereka tidak bisa terkena serangan fisik…
Uwah, nai waa.
Ah, apa mungkin dia menyerang dengan membuat selubung mana di tangannya? Kalau begitu, dia mungkin jadi bisa menyentuh roh. Tapi ya tetap saja itu bukan perbuatan manusia sih.

“Hmph, cuma begini?”

Leonora bergumam selagi membersihkan tangannya dengan gaun/armor yang dia kenakan. Melihat sikapnya yang gagah dan berwibawa, kalau aku tidak melihat title “Demon King’s successor”, aku mungkin sudah mengiranya sebagai Battle Maiden. (TLN: petarung wanita)

“Kalau hanya begini, sepertinya dungeon master yang menyebut dirinya Evil God bukan masalah besar. Tak lama lagi aku akan sampai, akan kubuat dia menyesal telah menantang bangsa iblis.”

Hah?
Entah kenapa aku jadi begitu dibenci untuk sesuatu alasan yang tak kuketahui. Menyebut diriku Evil God? Sejak kapan aku memutuskan begitu!? Dia iblis pertama yang kutemui, tidak mungkin aku pernah menantang mereka.
Tanpa mengetahui kebingunganku, Leonora menemukan tangga menuju lantai 5 dan terus menuruni dungeon.
….
Stamina yang dia miliki begitu mengerikan, berhasil menuruni setiap lantai hanya dalam tempo 1 jam. Semua monster yang ditemui langsung hancur dalam satu pukulan, dan mereka bahkan tidak menghambatnya sedikit pun.
Aku sama sekali tidak menyangka hari ini akan ada seseorang yang menyentuh lantai 10.

“Hmph, kau pikir permainan anak-anak seperti ini bisa menghentikanku?”

Tidak seperti pahlawan (:v) tempo hari, dia berhasil menyelesaikan puzzle batu di lantai 10.
Hmm, apa ini? Walau dia berhasil memecahkan teka-tekiku, rasanya aku ingin berterima kasih kepadanya.
Aku tidak akan menyinggung kalau dia menggerutu selama satu jam.
Setelah meletakkan tiga keping batu ke pedestal, dinding di hadapannya terbelah menjadi 2, memperlihatkan sebuah jalan menuju aula pertemuan.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu.”

Leonora memasuki ruang audiens tanpa ragu.
Di ujung karpet merah yang mewah tersebut terdapat sebuah tahta, singgasana bagi Raja para Undead.

“Selamat datang, wahai pengelana. Kau adalah orang pertama yang berhasil sampai di sini.”
“Jadi kau No Life King yang dimaksud tadi? Sepertinya kau memang pantas bersikap arogan, ya?”

Menghadapi Leonora yang berdiri di depan singgasana dan menatap tajam ke arahnya, No Life King tetap berbicara dengan angkuh.
Ini pertama kalinya Leonora jadi terlihat gugup.

“Benar, yang di hadapanmu ini adalah sang pemimpin, raja para undead. Aku tak berniat untuk berlutut pada siapaun, bahkan walau itu raja iblis.”
“Sepertinya kau tahu siapa aku. Awalnya aku hanya ingin menghajarmu, tapi sudahlah. Akan kubuat kau berhenti sebagai dungeon master lalu menjadikanu pelayanku yang akan memperoleh tahta nanti.”
“Sudah kukatakan aku tak akan berlutut. Jangan besar kepala, gadis kecil.”

Walau terlihat berbicara dengan tenang, ketegangan di antara mereka semakin memuncak.

“Kalau begitu akan kubuat kau menyerah dengan paksa!!”
“Maju. Menjadikan putri raja iblis sebagai bawahanku akan menjadi hal menarik!”

Aura tegang yang terus meningkat pecah saat keduanya menembakkan sihir mereka, memulai sebuah pertarungan menegangkan di ruangan tersebut.

Pertarungan mereka hanya bisa digambarkan sebagai “pertarungan sengit”.
Ketika No Life King menembakkan banyak peluru kegelapan, Leonora menghindari semuanya dan menembakkan api sebagai balasan, namun No Life King memanggil beberapa zombie dan skeleton dan menjadikan mereka perisai. Undead kelas atas seperti Dullahan dan Spectre juga dipanggil dan mengepung Leonora. Tapi dengan tangan berselubung mana yang begitu padat hingga dapat terlihat, Leonora berhasil menghabisi mereka tanpa terkecuali.
Leonora terlihat unggul, tapi semakin lama pertempuran berlangsung, situasinya mulai berubah. No Life King dan bawahannya bukanlah mahluk hidup, membuat mereka tidak bisa lelah. Lain halnya denga Leonora, dia memiliki batasan stamina dan pertarungan yang memakan waktu adalah sesuatu yang harusnya dihindari.
Ketika ada celah pada konsentrasi Leonora karena kehabisan nafas, salah satu lengan Dullahan yang terpotong memegangi kakinya. Tak terantisipasi olehnya, Leonora kehilangan keseimbangan dan terjatuh. No Life King yang lihai mengoordinasi bawahannya tidak mungkin melewatkan kesempatan tersebut dan menembakkan peluru kegelapan terbesar sejauh ini tepat ke arah Leonora.
Leonora tak mungkin menghindar karena posisinya di tanah. Peluru tersebut menghantam, membuat tubuhnya terlempar sejauh 10 meter sebelum akhirnya jatuh kembali ke tanah.

“Gu… Ugh…”
“Sepertinya hanya sampai sini.”

Memastikan kemenangannya, No Life King berjalan dengan santai ke arah Leonora yang merintih di tanah.

“Kena!”

Akan tetapi, mungkin itu semua hanya tipuan. Begitu No Life King cukup dekat, Leonora mengangkat tubuh dan menciptakan api di tangannya.

“Hmph, hentikan saja… APA!?”

Walau berada dalam cakupan Leonora, No Life King bisa saja menembakkan sihir yang diciptakan untuk meloloskan diri. Akan tetapi Leonora dengan sengaja meledakkan sihir api di tangannya. Api yang kehilangan kendali tersebut bahkan membakar tangannya sndiri. Leonora melompat kearah No Life King yang terkejut lalu melayangkan kepalan tinjunya yang masih diselimuti api.

“Makan ini!!”
“Mu… Mustahil…”

Tidak dapat bereaksi atas serangan mendadak itu, No Life King menerima pukulan tepat di dadanya. Suara nyaring bergema dari tulang-belulangnya hancur dan api Leonora mulai membakar jubah yang dia kenakan.
No Life King terjatuh ke belakang, dan Leonora yang mengerahkan semuanya pada pukulan tadi juga ikut terjerembab. Walau tersungkur di tanah, dia berhasil memadamkan api di tangannya.

“Ugh…!”

Leonora terlihat menahan sakit saat dirinya bangkit dari tanah. Akan tetapi, walau dengan luka di seluruh tubuhnya dan tangan kanan yang terbakar yang menandakan dirinya babak belur, kecantikan dan wibawanya tidak pudar.
Leonora berjalan ke arah No Life King yang terbakar di tanah dan memandanginya dari atas. Undead yang ada di sekitarnya kini menghilang karena kekalahan majikan mereka.

“Tak kusangka kau sampai membakar diri sendiri demi mengalahkanku. Kau gadis yang gila…”
“Mana mungkin aku melakukannya dengan sengaja. Aku sebenarnya ingin membuatmu menyerah tanpa menghancurkanmu. Karena itu, kau boleh bangga telah memaksaku sejauh ini, wahai Raja para Undead.”
“Angkuh sampai akhir… Kau… Hah… sudahlah…. Nona… Nri… Maafkan… ham… ba…”

No Life King perlahan hancur, meninggalkan mahkota yang terjatuh di tanah, namun pada akhirya mahkota itu juga turut berubah menjadi debu.
Leonora mengawasi kehancuran musuhnya hingga akhir.

Kemudian, suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.


No comments:

DMCA.com Protection Status