Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 15 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 15 Part 1 Bahasa Indonesia

April 24, 2017 Kirz Oiishii

Kualifikasi dan Pengujian [Shikaku to Shiren](Part 1/2)

――Keesokan pagi harinya, menginjakkan kaki di atas rerumputan yang masih diselimuti embun pagi, Subaru melihat kearah makam yang amat tua, yang telah Ia kunjungi sebelumnya.

Kemarin, tidak memiliki waktu yang cukup, Ia tidak sempat untuk melihat-lihat kondisi bagian luar makam itu. Tapi saat Ia menyaksikannya sekarang, rupanya makam ini terlihat nampak begitu terawat dengan baik.
Meskipun aura yang teramat sangat mengerikan terpancarkan dari pintu masuk makam itu, tanaman yang mengelilingi makam itu terlihat begitu rapi, dan dia juga bisa melihat bahwa di makam itu sendiri, terdapat beberapa perbaikan pada permukaan dinding yang sudah sangat tua itu.

"Hubungan apa sesungguhnya yang telah terjadi antara orang-orang disini dengan makam ini yah.." (Subaru)

Menempatkan tangannya di atas permukaan dinding yang memiliki warna yang tidak biasa, dibawah terik matahari, Subaru mengatakan ini sambil menghembuskan nafasnya.

Ia memikirkan kembali pembicaraannya dengan Garfiel dan Lewes yang kemarin malam, di ruangan dimana Roswaal ditahan. Mereka semua meminta Emilia untuk mengikuti pengujian, dan berharap, gadis itu dapat membebaskan mereka dari Sanctuary.

"Mengingat dari apa yang kemarin mereka katakan, bagi Garfiel dan yang lainnya, Penyihir ini seharusnya hanya ancaman bagi mereka, kan? Terus kenapa mereka bisa merawat kuburan ini seakan-akan kuburan ini penting bagi mereka yaah......." (Subaru)

"Mungkin karena untuk kuburan ini beda lagi kasusnya. Kuburan inilah yang menjadi alasan mengapa mereka dilahirkan di tempat ini, ya kan? Jadi, sampai ada seseorang menyelesaikan pengujian itu, mereka nggak diperbolehkan membiarkan kuburan ini rusak tak terawat begitu saja. Toh kalau memang dengan menghancurkan kuburan ini mereka bisa bebas, Garfiel seharusnya udah ngelakuin itu dari awal, kan?" (Otto)

Orang yang menyimpulkan pikiran Subaru ini ialah Otto, yang berbicara dibelakang dirinya, sambil menatapi seluruh bagian dari Kuburan.
Saat pagi-pagi buta tadi, Otto, yang sedang tertidur didalam gerobak naga seperti yang diperintahkan kepadanya, dibangunkan dan dipaksa untuk ikut dengan Subaru menemaninya dalam mencari tahu sesuatu. Tentu saja, Otto mengomel awalnya terhadap hal ini, tetapi....

"Dan juga, sebetulnya jarang lho mendapatkan kesempatan mengunjungi tempat seperti Kuburan dari Penyihir Keserakahan ini..... mungkin dengan ikut pergi denganmu adalah keputusan yang tepat bagaimanapun juga. Siapa tahu kita nanti tiba-tiba menemukan sesuatu yang berharga, yang dimiliki penyihir keserakahan. Bisa-bisa kita makmur nih!!" (Otto)

"Kalau kau ikut bersamaku lalu menjual beberapa item yang berhubungan dengan penyihir, bukannya para Pemuja Penyihir yang begitu menjunjung tinggi penyihirnya itu bakal datang dan menghabiskanmu? Memang salah keputusanku yang ngebangunin kau tadi, maafin aku dah kalo gitu, karena ngebangunin tadi, tapi kumohon.. jangan di pamerin ke semua orang dan menciptakan bencana di tempat ini" (Subaru)

Berkata seperti ini, berusaha menolong Otto yang tergiur dengan pemikirannya, Subaru melihat kearah kuburan itu sekali lagi. Suasana pun menjadi hening, yang saat ini terdengar hanyalah, kicauan burung-burung dan gemeresik dedaunan yang dihembuskan angin.

Udara dingin yang berhembus disekitar Sanctuary saat ini sangat cocok untuk jalan-jalan pagi.

"Tapi, kita kesini bukan cuma sekedar menikmati udara lalu pulang begitu saja, nggak kan? Lagipula, kalau kau memang ingin menikmati jalan-jalan pagimu, seharusnya kau membawa Emilia-sama bukannya diriku" (Otto)

"Kebetulan banget, Emilia-tan sekarang ini kondisi hatinya lagi nggak pas. Meskipun melihat Emilia-tan yang grogi saat baru bangun itu terlihat begittuuuu menggemaskan.....  Tapi aku harus menunda itu dulu sampai semua ini beres. Kemungkinan dia masih setress, kepikiran terus, setelah pembicaraan yang kemarin itu, jadi aku ingin membiarkannya tidur lebih lama" (Subaru)

"Ooh rupanya kau memilih mengajak pergi bareng seorang pria disaat sang pujaan hati sedang tertidur. Wah, pak, anda nakal juga ya..." (Otto)

Melihat Otto yang menyipitkan matanya dengan gembira dan tersenyum menghina, Subaru hanya mengangkat bahunya. Tapi tetap, Otto telah salah menarik kesimpulan. Sesungguhnya, semua ini terjadi karena Ia ingin melakukan sesuatu yang memang Ia tidak ingin Emilia melihatnya, yaitu Subaru yang datang kekuburan.

"Terus, kita ngapain disini? Aku nggak terlalu yakin sama kemampuan sihir ku, tapi kalau berhubungan dengan Angin atau Sihir Air untuk meredamkan suara hentakan kaki atau, untuk menyembunyikan diriku dengan cepat..... Ahh, aku juga bisa memindahkan bekas jejak kakiku ke tempat lain" (Otto)

"Sihir mu itu, bukannya cocok banget ya buat kucing yang lagi nyurik, ya nggak?" (Subaru)

"Yaah, orang-orang memang selalu salah menafsirkannya. Tapi aku nggak bakalan menggunakan semua kemampuan ini untuk mencuri. Meskipun aku nggak ragu memanfaatkannya untuk menguping pembicaraan sih" (Otto)

Melihat Otto mengatakan ini dengan kedua mata disipitkan dan tersenyum hingga menampakkan seluruh giginya, Subaru mendengus keheranan.
Lalu, mengangkat satu jarinya di hadapan Otto yang begitu-bersemangat, dan kemudian, Subaru mengarahkan jarinya ini kearah kuburan itu.

"Aku ingin melihat sebentar kedalam kuburan itu. Kalau prediksiku ini benar, maka lampu-lampu didalam kuburan itu akan memberkatiku untuk perjuanganku nanti. Tapi kalau aku salah, maka kemungkinan aku akan terjatuh dan nggak akan bisa bangun lagi, kalau nanti yang terjadi seperti ini, maka aku mengandalkanmu untuk mengirim diriku keluar dari sana..." (Subaru)

"Orang macam apa yang masih bisa mengatakan 'OH OKE! SIP DAH' setelah mendengar penjelasan seperti itu!? Terjatuh dan tidak mampu bangun, apa maksudnya itu, tolong hentikan semua ini, aku jadi takut sekarang nih!" (Otto)

Mendengar Subaru membicarakan hal yang teramat-sangat serius, Otto berteriak. Tapi mendengar Otto yang komplain, Subaru mengalihkan pandangannya seolah-olah sedang menghadapi seorang anak kecil yang teriak-teriak mengatakan hal yang tidak penting, dan kemudian,

"Denger aku, tempat ini adalah kuburan dari penyihir keserakahan. Sederhananya, kalau kau sampai menginjakkan kakimu didalam tempat itu tanpa seizin penyihir disana, maka kesadaranmu akan menghilang. Aku sudah mengalaminya kemarin. Jadi tempat ini sangat berbahaya, jangan pernah sekali-sekali kau masuk kesana" (Subaru)

"Kalau kau kemarin gagal, maka Natsuki-san seharusnya nggak bakal masuk lagi kesana, kan? Kalau kau tahu kau bakalan terjatuh dan kehilangan kesadaran, terus kenapa kau tetap kekeh ingin masuk kesana, semua ini cuma akan memperburuk keadaan, mending nggak usah dah ngelakuin itu. Lagipula, kalau benar nanti yang terjadi seperti itu, gimana juga caranya aku ngebawa Natsuki-san keluar dari sana?" (Otto)

"Selalu saja, nanya,, nanya dan nanya...... kalau kau terus-terusan nanya seperti itu mengharapkan jawaban dari segala masalahmu, kau bakalan jadi manja nanti, 'tau!" (Subaru)

"Tolong berhenti mempengaruhi pikiranku dengan hal yang tidak-tidak cuma karena dirimu malas menjelaskan!" (Otto)

Menyaksikan dirinya yang berkata seperti ini, Subaru mendecakkan lidahnya dan cemberut kesal.
Melihat bagaimana Otto yang belum lama mengenal dirinya sudah bisa mengalahkannya dalam suatu perdebatan, Subaru menggelengkan kepalanya dengan kesal,

"Nih, aku bawa beberapa tali dari gerobak naga. Aku akan mengikatkan ini dipinggangku. Jadi kalau aku tiba-tiba terjauh didalam, kau akan bisa dengan hati-hati, tenang, dan penuh kasih sayang menarikku keluar dari sana" (Subaru)

"Nggak peduli mau dengan hati-hati, tenang, dan penuh kasih sayang aku menarikmu, kau akan tetap berlumpur dan penuh dengan luka, menurutku" (Otto)

"Yah aku nggak bisa milih-milih juga apa yang akan aku alami, mengingat situasi saat ini. Yah anggap saja yang kau lakukan sekarang ini untuk membalas kebaikanku" (Subaru)

"Loh bukannya justru kau yang sekarang berhutang budi padaku!!!?" (Otto)

Disaat Otto mengeluarkan rasa keberatannya dengan tatapan yang begitu tidak terima, Subaru sudah mengikatkan tali mengelilingi pinggangnya dan memberikan ujung tali dari ikatannya itu kepada Otto. Dengan berat hati menerima tali itu, Otto dengan teliti memeriksa ikatan yang mengelilingi pinggang Subaru, dan menarik-nariknya untuk memastikan kalau sudah aman.
Walau dirinya itu sering komplain, namun sesungguhnya dirinya itu tetaplah seseorang yang sangat bertanggung jawab dan teliti.

"Meskipun kau ini pedagang, tapi kau gampang banget ya nurut... Apa nggak masalah orang seperti kau ini menjalankan suatu bisnis?" (Subaru)

"Kau tahu, sebetulnya kau benar-benar lupa kalau hidupmu sekarang berada dalam genggaman tanganku" (Otto)

Disaat Subaru menatapi dirinya dengan tatapan khawatir, Otto menyipitkan kedua matanya, menarik-narik tali digenggamannya dan berkomentar.

Dengan senyuman menghinanya, Subaru seketika langsung meluncur, dan memalingkan tatapannya, kearah pintu masuk kuburan itu.

Udara busuk, semakin lama semakin tercium dari kuburan itu. Cahaya terik matahari pagi, yang sama seperti cahaya matahari senja kemarin, dapat menerangi hanya sampai beberapa meter dari luar pintu masuk tempat itu, sebelum akhirnya menghilang. Terowongan didalam sana begitu gelap gulita, dan tidak ada yang berubah dari kondisi permukaan yang membuat dirinya terjatuh pada saat itu.

"Yah, permukaannya itu kayanya nggak bakal runtuh jugaan, oke aku akan coba langsung menginjakkan kedua kakiku disana, jadi nanti akan lebih mudah menarikku keluar, menurutku" (Subaru)

"Natsuki-san, kau bisa pergi kapanpun kau siap, cukup beritahu saja aku saat kau sudah siap" (Otto)

"Okeeh, Aku masuk!!" (Subaru)

Subaru tanpa keraguan membuat keputusan itu.
Kemungkinan terburuknya, Ia akan jatuh pingsan dan dipanggil kembali oleh Penyihir untuk pesta teh lainnya. Meskipun sebetulnya Ia tidak ingin melihat lagi lengannya terputus, dipukuli habis-habisan dalam penyembuhannya, dan meminum cairan tubuh――

"Tapi dibandingkan dengan seluruh kematian yang telah kualami, ini bukanlah apa aaaaaaa――pa!" (Subaru)

Mengatakan ini, Subaru dengan cepat melompat kedalam kuburan itu.
Terdapat ambang batas――atau apalah namanya itu, menjembatani permukaan tanah yang gelap didalam ruangan, Subaru pun dengan pelan-pelan membuka kedua matanya.

Padahal kemarin, saat Ia masuk kedalam, seketika Ia langsung menjumpai siksaan yang amat berat itu――

"Permukaannya keras. Aku nggak jatuh" (Subaru)

Ini merupakan kemajuan dari yang kemarin, dan walau permukaan ini tidak begitu jelas terlihat, tapi memang benar kalau ada yang berbeda dari tempat ini dengan yang kemarin. Menarik nafas dalam-dalam, Ia mencoba melangkah maju. Dan dengan dirinya yang melangkah semakin masuk kedalam kuburan, dirinya menjadi semakin tertelan oleh kegelapan yang menyelimuti terowongan itu.
Bagi Otto, yang menunggu diluar, Subaru sudah tidak dapat dilihat sama sekali.

"Natsuki-san, apa kau baik-baik saja? Kalau kau merasa ingin pingsan, tolong beritahu aku seperti 'Aku pingin pingsan!!' saat kau ingin pingsan nanti" (Otto)

"Bukankah itu rasanya agak sulit untuk dilakuin..... Dan juga aku nggak bisa terima kalau diriku pingsan, yang ada mungkin aku bakal teriak 'Aku nggak mau pingsan!!'" (Subaru)

"Masih bisa aja ya kau keras kepala di saat situasi yang seperti ini!" (Otto)

Saling sahut menyahut seperti yang biasa mereka lakukan, sesungguhnya mereka telah menghilangkan rasa khawatir yang melanda mereka, dengan mengkonfirmasi kondisi mereka dalam bentuk suara.

Dan kemudian, diyakinkan oleh rasa legah itu, Subaru mengambil langkah selanjutnya, langkah ketiga, lalu kemudian keempat.

"――Oh" (Otto)

"Ah...." (Subaru)

Berikutnya yang terjadi, secara tiba-tiba perubahan terjadi dihadapan kedua mata Subaru.
Kegelapan yang menyelimuti terowongan itu menghilang, dan semua bagian didalam ruangan itu saat ini sudah dapat terlihat.

Di kedua sisi dinding didalam terowongan itu, yang diletakkan kurang lebih sejajar dengan bahu Subaru, terdapat lampu-lampu, yang saat ini menyala, menerangi jalan dengan samar-samar.
Dinding dari terowongan itu terbuat dari bahan yang sama dengan dinding bangunan yang di luar, Lebar terowongan itu kurang lebih selebar Subaru jika merentangkan kedua tangannya, atau dua orang yang berjalan bersama satu sama lain. Tinggi dari terowongan itu kurang lebih akan membuat Subaru membenturkan kepalanya jika ia melompat. Atau, jika pria tua botak raksasa itu ada disini, mungkin akan ada goresan dari kulit kepalanya jika Ia berjalan tidak membungkuk.

"....Lampu-lampu didalam sana menyala. Apa itu berarti sesuatu?" (Otto)

"Ini semua adalah sambutan bagi seseorang yang memiliki kualifikasi untuk mengikuti pengujian dimalam hari, yah kurang lebih begitulah kata mereka.......... Kukira awalnya aku tadi lagi melamun dan membayangkan semua ini" (Subaru)

Sekali lagi, mencoba meyakinkan dirinya kalau apa yang Ia lihat sekarang ini nyata, Subaru mengangkat kedua telapak tangannya dan melihat kearah kedua tangannya. Lalu, Ia menyentuh dahinya sendiri, Subaru pun mengingat kembali sensasi sentuhan yang Ia terima dari ujung jari gadis itu, di mimpinya yang waktu itu.

"Sepertinya kau telah memberiku oleh-oleh yang sangat luar biasa. Meskipun sesungguhnya kau memberikan ini tanpa seizinku dan langsung meminta bayaran yang tinggi kepadaku...... Tapi untuk saat ini, aku nggak akan memberitahu siapapun tentang fakta ini, bagaimanapun juga" (Subaru)



(TLN: Part selanjutnya menyusul...., maaf ane pisah, karena yg slanjutnya nggak kuat untuk diselesaikan hari ini juga wkwkwk..)

No comments:

DMCA.com Protection Status