Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 15 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 15 Part 2 Bahasa Indonesia

April 25, 2017 Kirz Oiishii


Kualifikasi dan Pengujian [Shikaku to Shiren](Part 2/2)

"Hei aku sekarang bisa melihat apa yang ada di dalam sana, memangnya akan terjadi sesuatu kalau aku ikut bersamamu kedalam sana? Menurutmu gimana kalau sekarang kita berburu harta saja di dalam sana?" (Otto)




"Tapi aku denger-denger sih, baru-baru ini ada ahli sihir yang dikenal sangat jahat, seluruh tubuhnya terluka disaat dirinya mencoba masuk kedalam sini, dan saat ini Ia masih dalam masa penyembuhan luka-lukanya itu. Dan apa nantinya yang akan terjadi padamu, aku nggak begitu yakin juga..." (Subaru)

"Serem amat!" (Otto)

Mendengar Otto mengatakan ini dengan sangat ketakutan, kali ini, Subaru merasa kalau keinginannya telah tercapai. Seharusnya Ia saat ini menjelajah masuk kedalam kuburan itu lebih dalam lagi, akan tetapi jika Ia melakukan ini, kemungkinan Otto nanti akan mengikutinya diam-diam dari belakang, sehingga mau tidak mau Subaru harus membuang jauh-jauh pemikiran itu untuk saat ini.

Bagaimanapun juga, yang Subaru ingin lakukan saat ini hanyalah memastikan kalau dirinya terkualifikasi untuk mengikuti Pengujian, dan juga memastikan kalau apa yang dikatakan Echidona kepadanya saat itu dapat dipercaya olehnya.
Sehingga, kalau ternyata Ia memang bisa memasuki kuburan itu, maka pengetahuan dan situasi yang diceritakan Echidona waktu itu kepadanya, bersama dengan bayaran yang Ia minta kepadanya, semua itu nyata. Termasuk juga, semua penyihir yang Subaru temui didalam mimpi itu.

"Kalau ternyata itu semua benar, berarti 400 tahun yang lalu, penyihir-penyihir 'ENYAHLAH DARI HADAPANKU' itu sudah melakukan 'HYA-HA!' di seluruh penjuru dunia ini. Uhh kaya apa dah situasinya saat itu...... untung aku di kirim ke dunia ini, di setting waktu yang sekarang" (Subaru)

Membayangkan zaman dimana para dosa penyihir itu sedang bertempur dengan penyihir kecemburan, membuat dirinya menganggap zaman yang sekarang ini lebih baik jika dibandingkan dengan saat itu. Meskipun kekejaman para Uskup Agung Pemuja Dosa dapat mematahkan pemikiran ini, tapi tetap saja, rintangan yang dialami para Dosa Penyihir waktu itu, lebih berat dari yang Ia alami sekarang ini.

"Dan rupanya, semua persiapanku telah berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal menunggu malam datang, dan melihat rintangan apa yang akan datang nanti. Baiklah kalau gitu, sekarang adalah saatnya untuk bersikap tenang, dan siap dengan segala situasi yang akan terjadi" (Subaru)

Dengan berkata seperti itu, menandakan kalau dirinya sekarang sudah tidak ada lagi rencana lain. Mengatakan itu, Subaru melihat kebelakang, menatapi pintu masuk kuburan itu sekali lagi, disaat dirinya yang saat ini tengah berjalan meninggalkan tempat itu.

Ia saat ini kembali menuju Otto yang terlihat gelisah, dan kemudian Subaru melepas ikatan yang mengelilingi pinggangnya dan meninggalkannya di sebelah pintu masuk kuburan itu.

"Mungkin tali ini akan berguna nanti, mungkin aku akan membutuhkannya nanti malam, jadi aku akan menyembunyikannya disini dulu. Dan juga, maafkan aku yang telah merepotkanmu, memintamu menemaniku kemari, Otto" (Subaru)

"Oh nggak, nggak apa kok, selama kau balik dengan selamat..... tapi, yakin nih kita balik nggak bawa apa-apa? Kau datang ke kuburan itu tapi kembali dengan tangan kosong, terus apa gunanya tadi kau masuk kedalam?" (Otto)

"Aku sebetulnya bingung apa harus aku tanggapi dengan serius ucapanmu ini, tapi mungkin aku akan menganggap ucapanmu ini sebagai tanda kecintaanmu terhadap seni. Memang aku ini bukan orang yang religius atau semacamnya, tapi walau begitu, mencuri sesuatu dari kuburan itu bukanlah hal yang akan kulakukan, 'tau?" (Subaru)

Memang sulit dimengerti kenapa Jepang yang notabenenya negara yang tidak beragama, bisa memberi penghormatan terhadap 8 juta dewa namun tidak taat dengan sungguh-sungguh kepada satupun dewa-dewa itu. Bahkan seseorang di negara ini bisa berkata kalau dewa-dewa itu hanyalah sekumpulan makhluk yang diceritakan dalam cerita-cerita religius. Atau, hanyalah kelompok pengecut yang percaya kalau hantu itu memang benar-benar ada.

"Tentu saja omonganku itu cuma bercanda. Tapi kalau memang benar tujuanmu seperti itu, kau nggak perlu ngajak aku kemari, kan? Terus kenapa kau membawaku kemari juga kesini?" (Otto)

"Sebetulnya, aku ini nekat datang kesini, dan aku nggak tahu juga apakah nantinya aku akan berhasil masuk kedalam sana ataukah tidak. Sehingga, siapa yang nantinya akan bersamaku otomatis akan kebingungan melihat diriku terjatuh, atau bisa-bisa jadi trauma setelah melihat tubuhku ini hancur, dan, menurutku dirimulah yang paling cocok untuk mengalami semua itu..." (Subaru)

"Pemikiran macam apa itu!!? Dan Aku merasa kalau kau telah melakukan eliminasi sebelumnya!!" (Otto)

"Bakaaa!!!, dirimu lah yang pertama kali langsung muncul dibenakku, bukanlah orang lain. Plis jangan bikin aku mengatakan ini dengan keras, memalukan 'tau!" (Subaru)

"Memang pantas orang yang memiliki pikiran seperti itu di permalukan!" (Otto)

Mendengar Subaru dengan tanpa rasa malu menjelaskan itu kepadanya, Otto pun membalas ucapannya itu dengan berteriak hingga bergema, disepanjang hutan, di sekitar kuburan itu, dan suaranya itu terdengar sangat memalukan.

Siapapun akan berharap, pendengar yang mendengar suara itu hanyalah serangga-serangga atau binatang yang bersembunyi dibalik pohon, bukanlah seseorang, akan tetapi――

"Ribut amat dah pagi-pagi. Membuat keributan diatas penyihir yang lagi tidur, lu itu kaya 'Yohororoi yang berkokok di pagi hari' tau ga!" (???)

"Ckckck.. menyusahkan sekali Yohororoi itu yah. Aku akan bicara dengannya kalau aku bertemu dengannya nanti" (Subaru)

Mengatakan ini, kemudian mengalihkan pandangannya dari pintu masuk Kuburan, Subaru melihat, seseorang yang berada di sampingnya, yang datang dari hutan, memotong percakapan mereka―― menggaruk-garuk rambut emasnya yang pendek, menunjukkan taring putihnya, orang itu adalah Garfiel.

Dan sambil menggosok-gosok keringat di dahinya,

"Denger gue, gue tadi itu nggak sengaja ngelihat lu pada, jadi gue samperin deh. Setiap pagi memang gue selalu lari-lari memutari perbatasan Sanctuary ini. Jadi, lu pada nggak usah ngeliat gue sampe segitunya dah" (Garfiel)

"Kita ini bukannya ketakutan melihat sosokmu disini. Tapi kita cuma nggak mau pembicaraan kita ini sampe didenger orang lain, ya nggak Otto? Kita benar-benar ingin merahasiakan pembicaraan ini" (Subaru)

Terhadap omong kosong itu―― atau apalah kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan ucapan Garfiel, Subaru mengangkat bahunya, dan kemudian memukul-mukul pundak Otto.

Seolah-olah kebingungan mengapa pundaknya dipukul-pukul, Otto pun berkata 'Eee?'

"Eeee,, aaah iyaa, nggak ada masalah yang serius ataupun gawat kok! Kita ini cuma sedang latihan untuk merampok di kuburan nanti, cuma latihan yang kecil kok...." (Otto)

"Waaah mantap Otto!. Baru pertama kali lho aku melihat seseorang begitu bahagia menggali kuburannya sendiri didepan kuburan orang lain" (Subaru)

Melihat Otto yang tiba-tiba mengucapkan ini dengan semangat, seakan-akan tidak sadar apa sesungguhnya yang telah Ia katakan, Subaru dengan cepat langsung memotong omongannya itu dan melihat reaksi Garfiel. Tapi, melihat reaksi Garfiel saat ini, sepertinya Pengakuan-Otto yang terpotong tadi itu benar-benar tidak dicerna oleh orang ini.

"Apa yang terjadi sebenarnya, ayolah, gue nggak bakalan marah atau apapun kok. Selama lu pada nggak ngerusak barang atau ngelakuin sesuatu yang buruk pada Sanctuary ini, aku nggak akan melakukan apapun" (Garfiel)

"Oh begitu kah. Kalau begitu terima kasih atas jaminan yang kau berikan itu. Yah sayangnya, meskipun aku sebetulnya ingin menghadapimu tapi aku ini tidak akan pernah bisa menang darimu" (Subaru)

"Yaah gue juga sebenernya nggak tega untuk ngelawan lu.... ahhh nggak, lupakan. Gue ini nggak pernah peduli sama kondisi lawan gue. Bagaimanapun juga, gue adalah orang yang terkuat di dunia ini" (Garfiel)

Dengan kedua matanya yang nampak berseri-seri, Garfiel dengan begitu percaya diri mengatakan ini.
Memang kenyataan, melihat bagaimana kemampuannya itu, hanya orang bodoh lah yang akan mengajukan keberatan terhadap ucapannya itu.
Tapi, karena Subaru mengenal Reinhard, yang tingkatannya berada di dimensi yang berbeda, Ia tetap ada keinginan untuk mengeluarkan keberatannya ini.

Tapi dirinya, tetap berusaha menahan keinginannya ini, dan kemudian, Ia sedikit mengangkat tangannya sambil berkata 'Baaiklah..',

"Sekarang adalah waktunya bagi Emilia-tan untuk bangun, Aku ingin memastikan dirinya baik-baik saja disaat Ia menjalankan rutinitas nya di pagi hari ini, jadi aku mau balik dulu. Kau juga sedang ditengah-tengah rutinitas lari pagi mu kan, kan? Jadi mari kita..." (Subaru)

"Lu mau pergi ke katedral, ya. Kalau begitu, biar gue temeni lu kesana" (Garfiel)

Disaat Subaru ingin mengucapkan perpisahannya dan pergi, dirinya tiba-tiba tersentak mendengar tawarannya Garfiel. Terkejut, Subaru langsung menolaknya dengan mengatakan 'Aaa.. nggak usah repot-repot', dan kemudian,

"Aneh amat, lu harusnya terima tawaran gue ini. Lagipula, seharusnya lu nggak boleh keluar cuma berdua saja di Sanctuary ini, tanpa adanya penjagaan. Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti" (Garfiel)

"――? Apa maksudmu. Kau mengatakan hal yang aneh. Seakan-akan disini itu berbahaya" (Subaru)

"Lah, justru itulah alasan kenapa gue pingin nuntun lu" (Garfiel)

Melihat Subaru tetap bingung tidak mengerti maksud dari ucapannya, Garfiel menggertakkan giginya sambil berkata 'Duh sebetulnya gue nggak boleh ngasih tau lu ini', dan kemudian, mendekat, melanjutkan berbicara dengan sangat pelan,

"Sebenernya gue males ngomongin permasalahan keluarga, tapi, sebetulnya, penduduk di Sanctuary ini nggak semuanya memiliki pemikiran yang sejalan" (Garfiel)

"Maksudnya?" (Subaru)

"Rencana yang dibuat nenek, sebagai pemimpin dari desa ini, tentang menjadikan Roswaal dan para manusia sebagai tahanan, serta memaksa Emilia-sama mengikuti pengujian, menuntaskan semuanya atau semacamnya, sebetulnya.... nggak semua penduduk disini setuju dengan rencana yang dibuat nenek tua itu..." (Garfiel)

Disaat mengatakan ini, suara Garfiel menjadi semakin pelan.

"Karena ada beberapa orang yang masih ingin bertahan di Sanctuary ini, kalian hanyalah penganggu bagi mereka yang berpikiran seperti itu. Demi menghalangi Emilia-sama mengikuti Pengujian itu, kita nggak akan pernah tahu masalah apa yang akan mereka perbuat" (Garfiel)

"Jadi maksudmu.... bisa saja mereka menyerang diriku ataupun Otto?" (Subaru)

"Ada kemungkinan mereka akan berbuat hal yang sangat kasar pada Emilia-sama, sepertinya. Yaaah, mereka itu cuma 'Sesuatu yang merepotkan, yang keluar dari dalam lubang'. Tapi selama gue ada disini, gue nggak akan ngebiarin mereka melakukan apapun untuk mengganggu mu" (Garfiel)

Meskipun Garfiel mengatakan ini dengan santai, Subaru mulai merasa khawatir karena telah meninggalkan Emilia begitu saja.
Atau lebih tepatnya, Ia membenci dirinya sendiri kenapa dari awal tidak memiliki pemikiran seperti ini.

Rupanya, terdapat perbedaan tujuan di antara penduduk Sanctuary yang dipimpin oleh Garfiel, dan penduduk dari desa Arlam.

Kalau memang seperti itu kasusnya, kenapa pemerintahan disini tidak berusaha menyatukan perpecahan internal ini?

Tidak mungkin semuanya disini bisa setuju begitu saja dengan rencana yang dibuat oleh pemimpin Sanctuary disini. Sesungguhnya, situasi ini tidak akan pernah bisa berjalan dengan baik, seperti yang mereka perkirakan sebelumnya.

Subaru sendiri pun sadar akan kenyataan ini.

"Aku harus segera kembali.........!" (Subaru)

"Aaah.. gue dah bikin lu khawatir ya? Nggak usah khawatir kek gitu, orang-orang itu jugaan nggak bakal nyerang pagi-pagi gini, lagipula bukannya Emilia-sama sekarang ada di Katedral? Siapa juga yang ingin membuat situasi jadi semakin gaduh, dengan menyerang seseorang yang berada ditempat seramai itu? Kalau mereka ingin melakukan serangan, mereka akan menyerang orang-orang seperti elu-elu pada ini, yang sekarang ini berada jauh dari keramaian" (Garfiel)

"Mu..... Bener juga. Kalau mereka sampai menyerang semua orang yang nggak sejalan sama mereka secara terang-terangan, yang ada mereka hanya memperburuk situasi mereka sendiri, jadi nggak mungkin mereka akan melakukan sesuatu yang terburu-buru seperti itu" (Subaru)

Kekhawatirannya kini menjadi semakin berkurang, Subaru pun menghela nafas legah dan mencoba untuk mengontrol hati nya yang panas.
Kemudian, sadar tentang sesuatu, Ia menaikkan alis matanya sekali lagi.

"Oh berarti, karena inilah kau mengikuti aku dan Otto dari tadi?" (Subaru)

".....Aaaaah" (Garfiel)

Melihat subaru membungkukkan lehernya disaat menanyakan ini, Garfiel terkejut dan terdiam beberapa saat. Kemudian, Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke belakang sehingga Subaru tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini.

"Nggak.. oi!. Ini cuma kebetulan.. Kebetulan aja gue ngelihat lu cuma berdua saja disini.., jadi bukan berarti dari awal gue punya niatan ngebuntutin lu pada!" (Garfiel)

"Kau lihat, Otto? Inilah contoh dari Tsundere. Beberapa waktu yang lalu dipertemuan pertama kita, kita telah melihat Tsun yang berapi-api dan keras kepala, dan sekarang, bukankah Dere yang malu-malu dan menggemaskan ini sama indahnya?" (Subaru)

"Enn~~, sebetulnya, saat itu aku merasakan adanya Tsun didalam diriku ini, yahh aku nggak senang juga sih dengan kenyataan itu, tapi kurasa orang yang kau bilang Tsun itu bukanlah orang yang jahat, emm.. entah kenapa, aku kok ngerasa nggak enak ya, aku merasa seperti sedang ditipu saat ini" (Otto)

"Uwaah,kau memang gampang banget ditipu yaah.." (Subaru)
(TLN: orang yg dimaksud Subaru itu adalah Otto)

"Tuh kaan!!!" (Otto)

Disaat teriakan Otto kembali terdengar di dalam hutan di pagi hari ini, burung-burung langsung berterbangan mengepakkan sayapnya ke atas langit.

Otto yang berisik, dan Garfiel yang sangat sulit untuk dibenci. Hidup berdampingan dengan kedua orang yang seperti ini, membuat Subaru merasa kalau dirinya yang dikirim ke dunia paralel ini, ditakdirkan untuk memiliki teman yang memiliki watak yang buruk, yang sama buruknya dengan dirinya.

"Yaah, aku sendiri sebetulnya juga mudah dibodohi" (Subaru)

Dan kemudian, Subaru tersenyum dengan santainya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Menunggu malam tiba, menunggu didepan pintu masuk kuburan, Subaru merasa angin yang saat ini menyerang kulitnya, terasa sangat berbeda dari angin dingin yang tadi pagi.

"Malam ini, suasana nya terasa sangat mengerikan yah. Bahkan lebih mengerikan dari yang kemarin" (Emilia)

Menatapi pintu masuk kuburan sambil mengatakan ini, orang yang berbicara itu adalah Emilia, yang saat ini rambut putihnya sedang dihembuskan oleh angin.

Bermain-main dengan ujung rambutnya yang di kepang helai tiga, Ia menatapi Subaru,

"Menurutmu, apa nggak masalah kalau sekarang aku masuk kedalam sana?" (Emilia)

"Kalau mereka bikin tanda di depan pintu masuk itu, mengatakan 'Kami Buka Jam 7' sih, mungkin aku jadi gampang mengetahuinya, tapi kenyataannya mereka nggak ada melakukan itu....... Emm tapi kalau memang pengujian itu jadwalnya dimulai sekitar malam hari, selama disekitar kita sekarang udah mulai gelap, menurutku sekarang juga udah bisa sih" (Subaru)

"Um begitu ya. Yahh, kalau gitu aku masuk aja sekarang" (Emilia)

Sambil menghela nafas dengan kecil, meskipun gadis itu mengatakan ini, tetap saja gadis itu, Emilia, terlihat ragu-ragu dengan pemikirannya. Dan yang saat ini berada disampingnya, menunggu gadis itu mengumpulkan keberanian, Subaru, mengalihkan pandangannya kebelakang untuk melihat hal yang berada dibelakangnya.

Sebetulnya, masih ada empat orang lainnya yang ikut mengantarkan Emilia pergi ke kuburan ini.

Orang-orang itu adalah orang dari tim Sanctuary, yaitu Garfiel dan Lewes. Dan juga disana terdapat orang terpercaya Roswaal, yaitu Ram. Serta, seseorang yang tidak jelas juga kenapa dia bisa ikut kesini, Otto.

Tapi, kalau seandainya kita rekrut mereka menjadi bagian dari tim sukses di Fraksi Subaru dan Emilia, kemungkinan saja Fraksi Emilia dan Subaru akan menjadi fraksi yang terbesar disini.

"Tapi di sisi lain, kalau kita menghitung jumlah penduduk di Sanctuary ini sekarang, dapat dipastikan kalau fraksi kita ini fraksi terkecil disini. Yaah, hidup mulai menjadi semakin sulit sekarang ini" (Subaru)

"Hah kamu ngomongin apaan? Aku nggak ngertiiiii sama sekali" (Emilia)

"Ah,, aku cuma ngomong sendiri tadi. Emilia-tan, kamu fokus saja bersiap-siap. Tapi jujur sih, sejak aku gagal mencari tahu apa yang di ujikan di pengujian itu, aku semakin nggak bisa tenang sampai sekarang ini......" (Subaru)

"Bukannya memang udah wajar ya, peserta ujian itu nggak diberitahu apa yang diujikan pada mereka, ya kan? Aku nggak mau berbuat licik ataupun curang saat pengujianku berlangsung nanti. Apapun yang terjadi, aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik!" (Emilia)

Melihat Emilia mengepalkan tangannya yang kecil, menyemangati dirinya sendiri, Subaru dengan cepat mengangkat satu tangannya kearah wajahnya, menutupi kedua matanya, seakan-akan Ia sedang melindungi kedua matanya dari cahaya sinar yang begitu terang.

Dan karena kejadian ini, sikapnya yang waktu itu, yang berusaha meminta bantuan dari Penyihir untuk membantunya berbuat curang, sekarang benar-benar menjadi terlihat sangat licik.

Karena dibandingkan dengan dirinya, Emilia jauh lebih polos dan mulia.

"Oooooh E・M・K!!! (Emilia-tan・Maji・Kishi-michi)" (Subaru)
(TLN: Emilia-tan yang maha kesatria (エミリアたん・マジ・騎士道) atau bisa dibilang gagah)

"Ah, sudah lama aku nggak denger Subaru ngomong kaya gitu" (Emilia)

Mulai tertawa dengan kecil, ketegangan yang dari tadi nampak di wajah Emilia, menghilang disaat Ia mendengar kalimat yang sudah lama tidak diucapkan Subaru itu. Melihat dirinya tersenyum seperti ini, Subaru merasa kalau kalimat itu, berguna untuk situasi semacam ini, dan kemudian Ia mengangguk,

"Bagaimanapun juga, Aku nggak tahu apa yang akan terjadi didalam sana, tapi kalau kamu merasa ada yang bahaya, cukup teriak saja panggil namaku. Karena disaat dirimu memanggil namaku nanti, diriku akan langsung meluncur menuju sisimu" (Subaru)

"Tapi kalau kamu masuk, kamu nggak bakalan batankyu~ kan nanti?" (Emilia)

"Sudah lama aku nggak dengar seseorang mengatakan batankyu kepadaku...." (Subaru)
(TLN: batankyu (バタンキュー) - Falling asleep immediately - langsung tak sadarkan diri)

Emilia mengembungkan pipinya, melihat Subaru berkomentar seperti itu sambil menggaruk pipinya, dan kemudian, Ia melanjutkan berkata 'Tapi',

"Makasih ya karena kamu sudah khawatir kepadaku. Emm tapi Puck belum muncul-muncul juga sampai sekarang, jadi aku sekarang ini benar benar nggaaaaak bisa tenang. Tapi sepertinya sekarang, aku menjadi semakin berharap kepadamu, Subaru" (Emilia)

"Tentu, kamu boleh berharap penuh pada diriku ini, dan kalau perlu kamu senderkan saja beban tubuhmu pada diriku ini. Berat Emilia-tan itu seperti sehelai bulu bagiku, dan bahkan, kalau dari waktu ke waktu aku nggak ada menyentuhmu, memastikan kalau dirimu baik-baik saja, maka aku akan menjadi sangaaat gelisah" (Subaru)

"Entah kenapa, aku merasa kalau jari-jarimu itu akan berbuat yang aneh-aneh kepadaku, hehe.." (Emilia)

Melihat Subaru tanpa hentinya menggerak-gerakkan jari-jarinya sambil menatapi dirinya, Emilia pun memberikan senyum yang seakan-akan dipaksakan. Dan dengan terlihat gugup, Ia sedikit meregangkan tubuhnya yang kecil itu, membuat dirinya terlihat lebih tinggi.

"Entah kenapa, aku merasa kalau diriku ini memang agak ringan. Dan dari awal kita ketemu, Subaru sangat menginginkan tubuhku ini, kan?" (Emilia)

"Kalau memang diriku memiliki keinginan seperti itu, maka selama ini aku nggak mungkin menjadi seorang pria yang kesepian, yang menghabiskan hidupnya mempelajari origami hingga mampu membentuk 'Rindouguruma'" (Subaru)

Dia merasa sangat bangga karena dirinya mampu menciptakan seni seindah itu. Meskipun sesungguhnya Ia hanya baru menunjukkannya pada kedua orang tuanya saja.

Mendengar Subaru tiba-tiba menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya, Emilia sedikit memiringkan kepalanya, menunjukkan kebingungannya. Dirinya yang berpose seperti ini, membuat dirinya terlihat benar-benar imut.

Dan kemudian Subaru, melipat kedua tangannya dan mengangguk.

Sementara Emilia, yang masih tidak mengerti dengan maksud Subaru, mengalihkan pandangannya, fokus melihat kearah Kuburan itu.

"――Baiklah sekarang aku akan pergi. Doakan aku semoga balik dengan selamat yah" (Emilia)

"Aku akan terus berdoa sampai patung Buddha mengeluarkan darah dari telinganya sekalipun" (Subaru)

Mengucapkan kalimat ini, Ia melihati Emilia yang mulai masuk kedalam kuburan itu, dari belakang. Dan, saat Ia memasuki pintu masuk kuburan itu, seketika lampu didalam sana mulai menyala satu per satu, sama seperti yang terjadi saat Subaru masuk pagi tadi.

Dan kemudian, Emilia semakin lama semakin masuk kedalam kuburan itu. Tampaknya lokasi dari pengujian itu terletak sangat jauh didalam kuburan itu. Bahkan mungkin lebih jauh dari perkiraan Subaru saat kedua matanya pagi tadi berusaha membayangkan letaknya.

"Wajahmu itu kelihatan cemas sekali, nak" (Lewes)

Dan kemudian berjalan mendekati Subaru yang terlihat sangat khawatir, orang itu adalah seorang gadis kecil―― yang terlihat amat dewasa, Lewes. Tidak menunjukkan keimutan ataupun sifat kekanak-kanakan, dirinya saat ini menunjukkan senyum yang entah bagaimana terlihat seperti seorang nenek.

"Daijobu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pengujian itu, atau bagaimanapun kau menyebutnya, tidak akan sampai mengancam nyawa seseorang ataupun semacamnya" (Lewes)

"Oh jadi kau tahu apa yang diujikan di pengujian itu, bagaimana bisa?" (Subaru)

"Aku sudah pernah mengikutinya. Dilahirkan sebagai pemilik darah-campuran dan terkualifikasi, jadi wajar saja aku tahu. Meskipun pada akhirnya, aku gagal....... tapi lihatlah, Aku tetap baik-baik saja dan sehat seperti biasanya" (Lewes)

Demi menunjukkan dirinya yang masih sehat, Lewes melompat.

Melihat dirinya mencoba bersikap sangat imut seperti itu, demi menghilangkan rasa tegang yang ada dalam diri Subaru, dari lubuk hatinya yang terdalam, Subaru, menghargai sikapnya itu, dan,

"Jadi begini caramu menunjukkan karakter Loli mu, dan tetap berusaha bersikap seperti seorang nenek? Uh seandainya Emilia-tan menjadi loli Emilia-tan, pasti akan sangat imut juga, tapi kira-kira dia suka nggak yah?" (Subaru)

"Bodohnya aku menanggapimu dengan serius, tidak memperkirakan kalau kau akan membalas sikapku dengan ucapanmu yang seperti itu. Kau tahu, Su-bo, kau benar-benar sama dengan Gar-bo, tidak tahu bagaimana cara bersikap yang sopan terhadap orang yang lebih tua dari dirinya" (Lewes)

"Lho kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Justru karena dirimu lah, perasaanku sekarang jadi semakin lebih baik. Emm.. Maafkan aku karena telah membuatmu sampai-sampai khawatir kepadaku" (Subaru)

Melihat Subaru menundukkan kepalanya, Lewes menghembuskan nafas dengan keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengatakan 'Kenapa tidak dari awal kau mengucapkan itu', dan kemudian menggosok-gosok kedua matanya dengan pergelangan tangannya yang tertutupi oleh lengan bajunya sendiri, seakan-akan kalau air mata sedang jatuh dari kedua matanya, padahal Ia hanya berpura-pura saat ini.

Di sisi lain, menunggu, dan menyaksikan semua ini, Garfiel melipat kedua tangannya, menunjukkan ekspresi seakan-akan jijk dengan kejadian itu, lalu dengan pelan mengalihkan pandangannya, fokus kearah kuburan itu.

Tak disangka saat ini Otto dan Ram, terlihat sedang bercakap-cakap membicarakan sesuatu, dan percakapan mereka terlihat sangat ramah dan tidak ada satupun keributan.
Bagi Subaru, yang tidak pernah bisa bersahabat jika bercakap-cakap dengan Ram, pemandangan ini merupakan masalah yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

"Aku tidak bisa diam begitu saja terhadap ini. Aku akan meminta Otto mengajariku bagaimana cara berbicara dengan Ram, tanpa membuatnya marah". Subaru dengan pelan mengatakan ini dalam hatinya, sebelum akhirnya Ia kembali fokus melihat kearah Kuburan itu.

Tanpa Ia sadari, jempol ditangannya saat ini saling bersentuhan, seolah-olah dirinya sedang berdoa.







Situasi sekarang ini benar-benar menyakitkan, tidak dapat berbuat apa-apa selain diam menunggu. Bahkan Subaru sebetulnya merasa lebih baik langsung menjalani pengujian itu sendiri, daripada harus menunggu seperti ini,.
Tapi, disaat pemikiran yang amat sombong ini terlintas dikepalanya, secara tiba-tiba perubahan terjadi dihadapan dirinya.

"――――!"

Melihat perubahan ini, secara bersamaan semua orang yang menunggu diluar kuburan itu terkejut.
Berulang kali mengedipkan mata, seakan-akan mereka sedang menormalkan penglihatan mereka, yang habis terkena cahaya yang amat terang, yang telah menghilang, dan kemudian,

"Lampu-lampu kuburannya mati!?" (Subaru)

"Hmm.. seharusnya selama pengujian masih berjalan, lampu-lampu itu tetap menyala..." (Lewes)

"Berarti maksudmu seharusnya mereka nggak mati seperti sekarang ini!!!?" (Subaru)

Ia pun menatapi wajah Lewes yang seharusnya tahu sesuatu tentang ini, meskipun wanita itu sendiri kelihatan kebingungan terhadap kejadian ini.

Tampaknya situasi ini tidak sangka oleh mereka sebelumnya.
Entah itu Garfiel, yang berhenti melipat kedua tangannya dan mulai ingin berlari, atau Ram, yang mulai menaikkan alisnya, atau si panik Otto, yang terlihat kebingungan harus mengatakan apa.

Sehingga,

"Su-bo!? Kau belum memiliki kualifikasi, makam itu tidak akan membiarkanmu masuk kedalam sana...." (Lewes)

"Sebetulnya baru-baru ini seseorang menceritakan banyak hal kepadaku, dan kemudian orang itu memberiku kualifikasi karena mau mendengar seluruh ceritanya. ――Jadi biarkan aku masuk kedalam sana. Nggak mau tau pokoknya aku ingin membawa Emilia-tan keluar dari dalam sana!!" (Subaru)

Ia tidak ingin berdiam saja dan menunggu.
Dan disaat Subaru dengan tanpa rasa takut, menginjakkan kakinya masuk kedalam kuburan itu, lampu-lampu di dalam terowongan itu kembali menyala, seperti saat Emilia masuk tadi.

Lewes dan Garfiel hanya bisa terkejut dibelakang dirinya itu, tidak mampu berkata apapun untuk menghentikan dirinya, karena Subaru sudah meluncur masuk kedalam kuburan itu.

Tentu didalam terowongan itu dipenuhi dengan debu, bahkan sekali hirup saja sudah dapat membuat paru-paru merasa tidak nyaman.
Suara hentakan kakinya saat ini bergema dengan keras didalam ruangan itu, dan semakin lama, Subaru semakin jauh masuk kedalam terowongan itu―― kedalam kuburan sang penyihir keserakahan.

"Duh, kacau bener dah aku ini. Kenapa dah aku diem aja dari tadi, terdiam tak melakukan apa-apa menunggu sesuatu terjadi, seharusnya aku masuk barengan tadi sama Emiliaaaaaa......aaaaa" (Subaru)

Dengan penuh rasa penyesalan, Subaru berlari.
Dan kemudian tiba-tiba, Ia melihat cahaya yang sangat terang diujung terowongan itu, Ia pun mendekati arah datangnya cahaya itu dan kemudian, Ia tiba didalam ruangan yang sangat sempit.

Menghentikkan langkah kakinya dengan sliding, Subaru melihat sekiling ruangan yang sempit itu. Ruangan itu terlihat seperti, ruangan yang berbentuk persegi panjang, yang memiliki empat sudut. Dan, tidak ada satupun perabotan yang menghiasi ruangan itu, melainkan satu pintu yang dihiasi lampu berwarna putih di tengah-tengahnya.

――Dan di depan pintu itu, terdapat seorang gadis berambut putih yang sedang tergeletak tak sadarkan diri.

"――Emilia!!" (Subaru)

Berteriak, Subaru langsung meluncur mendekati Emilia. Menyentuh kulitnya yang halus itu, tidak peduli mau bagaimanapun, Ia akan membawa gadis ini keluar dari sini――

"――Tapi, kau harus menghadapi masa lalumu terlebih dahulu"

Berikutnya yang terjadi, sensasi dari sesuatu yang baru saja membisiki kupingnya membuat dirinya kehilangan kesadaran.
Suara siapakah itu, tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal ini.

Berlutut, kini Ia sudah tidak mampu bergerak lagi, dan kemudian ambruk seperti sebuah boneka. Berguling-guling di lantai, dengan sekuat tenaga Ia berusaha bergerak mendekati Emilia yang tergeletak.
Kemudian, menidurkan dirinya di samping Emilia yang tak sandarkan diri, saat ini kesadaran Subaru juga telah memudar――

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Terbangun dari tidurnya, Subaru seketika langsung menghirup udara, seolah-olah kepalanya saat ini muncul ke permukaan air. Ia kali ini merasa seperti baru saja keluar dari dalam lautan mimpi, yang membuat dirinya merindukan kenyataan seperti tubuhnya yang saat ini merindukan udara――

"GUMMMMMOOOOOーーーーーーNINGU, nak!!" (???)

"HAMURABIHO-TENNN!!!" (Subaru)

Sambutan pagi yang sangat puitis ini mengejutkan dirinya, dan juga memberi beberapa penderitaan pada dirinya.
Menderita rasa sakit menahan beban yang berat, hingga angin diperutnya keluar melalui mulutnya,
Tubuh Subaru yang baru saja bangun ini, langsung seketika melompat terkejut keluar dari kasur, bersama dengan beban yang menimpa dirinya itu, dan akhirnya Ia terbatuk-batuk dengan keras.

"Oioioioi, kenapa kamu ini... Ini cuma lompatan-indah-penuh-cinta yang seperti biasanya akan membangunkan dirimu. Kamu berlebihan sekali kali ini!" (???)

"Gahk, ehk, oi jelas lah... aku tadi itu masih belum sadar betul..." (Subaru)

Apa sesungguhnya yang telah terjadi, Ia pun mengangkat kepalanya, melihat kedepan dengan air mata diwajahnya. Dan terlihatlah seseorang sedang berdiri dihadapan Subaru yang setengah terlentang, memutar kepalanya kekiri dan kekanan,

"Kenapaa... Kamu ini kaya baru kali ini aja ngelihat ayahmu pagi-pagi telanjang begini" (Ayah)

Pria yang baru saja berkata seperti itu, sambil bergaya adalah Ayah Subaru, yang sudah biasa telanjang badan dipagi hari―― Natsuki Kenichi, yang saat ini sedang tertawa dengan gembiranya, senang melihat anaknya yang telah bangun dari tidurnya.

-=Chapter 15 End=-


No comments:

DMCA.com Protection Status