Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 16 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 16 Bahasa Indonesia

April 29, 2017 Kirz Oiishii

Pagi Di Keluarga Natsuki [Natsuki-ka no Asa]



'HAHA-HAHAHA', mendengar tawa yang sangat mengganggu itu, Subaru menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menghilangkan sisa-sisa rasa kantuknya.

Saat Ia biasa bangun sendiri, Ia selalu merasa bangga karena dirinya bisa bangun sendiri dalam sekejap, berbeda dengan dirinya yang dibangunkan secara paksa seperti sekarang ini.

Disaat saat ini darah masih belum mengalir kembali menuju kepalanya, Subaru menggosok-gosok kedua matanya yang masih sedikit terasa sakit, dan kemudian dengan samar-samar melihat kearah sekelilingnya―― yang saat ini terlihat sama dengan ruangan kamarnya yang dulu.

Rak-rak didalam kamarnya itu dipenuhi oleh manga dan beberapa Light-Novel, dan terdapat beberapa celana jeans yang digeletakkan dengan berantakan di lantai kamarnya itu. Meja belajarnya yang terlihat tidak pernah dirawat, dipenuhi tumpukkan buku yang belum selesai dibaca, dan dikamarnya itu juga terdapat televisi model kuno yang dapat merekam sesuatu, yang sekarang ini hanya dipergunakan olehnya untuk bermain game, siapapun yang melihat benda itu akan merasa kasihan terhadap benda itu.

Terbaring diatas futon yang sudah lama tidak dicuci, sambil menggerak-gerakkan persendian lehernya, entah kenapa, Subaru merasa ada yang tidak beres dengan semua pemandangan yang begitu sangat familiar dengannya ini. ――Dan mengapa dadanya terasa sakit sekarang?

"O~i oi, tega sekali ya kamu cuekin ayah, ayah juga bisa sedih lho? Pagi ini adalah pagi yang cerah dan sehat, sambutlah pagi ini dengan penuh semangat!" (Ayah)

"Bukannya lebih tepat, menyambut pagi yang cerah dan sehat setelah mengalami penderitaan? Duh nggak usah ngelucu dah. Punggungku sekarang ini lagi bermasalah karena yang tadi itu, jadi lebih baik aku balik tidur saja, mulihin punggungku ini" (Subaru)

Mengabaikan perintah yang diberikan orang tuanya, sekali lagi Subaru kembali membaringkan dirinya keatas futon. Melihat Subaru membelakangi dirinya dan tidak menuruti perintahnya, seseorang yang berdiri disamping futon itu mulai merasa tidak senang, berteriak 'APAINIAPAINIAPAINI',

"Jangan bilang kalau sekarang ini masa-masa membantah mu! Pasti sekarang ini masa membantahmu, ya kan! Ayah tahu hari ini akan datang, tapi ayah nggak nyangka kalau datangnya dipagi ini, ayah belum siap!! Daripada menyiapkan sarapan pagi, lebih baik ayah menyiapkan nasihat yang cocok untuk anakku ini! S~I~A~L, Aku benci sebetulnya bersikap keras seperti ini..." (Ayah)

"Kalau memang begitu, terus kenapa ayah menarik-narik kakiku ini..... oi!, tunggu, auu!! aaaauauauaauauauauu!" (Subaru)

"YOOOSSSH, telah Ayah putuskan, Ayah akan terus bersamamu, menasihatimu sampai besok pagi. Oke pertama-tama, mari kita urus tubuhnya dulu! Yon'noji yon'noji! Gimana, cara ini bekerja dalam membangkitkan persendianmu yang malas ini kan!" (Ayah)

Kedua kakinya saat ini telah diputar oleh teknik pengunci Figure-four ayahnya, Subaru melambai-lambaikan tangannya disaat Kenichi melakukan serangan-mematikan pada lutut dan tulang keringnya. Dan sementara Subaru saat ini meraung kesakitan, Kenichi tertawa bahagia, seolah-olah mendapatkan kegembiraan hidup yang luar biasa.

"Wadooo, apa apaan nih. Payah sekali kamu, nggak malu dikalahin sama ayah yang udah hampir tua ini? Mwahahaha…… Arggh, tunggu, awww! sakitsakitsakitsakitsakit!!"(Ayah)

"Bodohnya! Teknik kuncian Yon'noji (Figure-four) mu itu gampang banget untuk ditangkis bagiku ayah, ayah dah pikun ya!? Aku akan mengembalikan rasa sakit ini pada ayah lagi, sebagai bentuk balas dendamku kepada orang yang telah melakukan teknik kuncian Yon'noji kepadaku..... ehh, tunggu, aaarggh, jangan diputer! Jangan puter!!!!!" (Subaru)

Dengan kedua tangan dan kaki yang terlentang, kedua pria dewasa itu saat ini saling menjerat satu sama lain dan berguling-guling seperti diadegan gulat, membuat suara kegaduhan. Disaat si penyerang dan korban itu saling bergantian berteriak, menjerit kesakitan, buku-buku di sekitar mereka terlempar dari mejanya, tidak lupa juga mereka telah menjatuhkan game-station yang ada disana.

Dan ditengah-tengah perkelahian sengit sang anak dan ayah dipagi hari ini――



"――Heeh tenanglah kalian berdua. Ibu ini lapar 'tau, Ibu pingin cepat-cepat sarapan" (???)

Pertarungan sengit mereka seketika dihentikan oleh suara ketukan pintu, dan kemudian diikuti oleh nada bicara yang santai.
Dalam kondisi hampir menangis karena menahan rasa sakit, di sudut penglihatan Subaru yang menderita, terlihatlah seseorang berdiri dipintu masuk ruangan ini――orang itu adalah wanita yang saat ini terlihat cuek, berdiri disana dengan tatapan yang menyeramkan. Saat pertama melihatnya, tatapannya yang menyeramkan itu memberi kesan kalau mungkin saat ini dirinya sedang dalam kondisi hati yang buruk, karena memang kenyataannya, setelah mengenalnya lebih dari 17 tahun, Subaru sudah tahu kalau dia itu orangnya tidak peduli dengan apapun, apalagi kalau lagi bad mood.

Hanya dengan tatapan menyeramkan di kedua matanya, dapat memberitahu kalau dia itu adalah seorang ibu, ibu dari Subaru, Natsuki Naoko.
Dan disaat Ibu muncul, Kenichi langsung berkata 'Ah sial!', mendecakkan lidahnya dan melompat bangun,

"Maaf maaf, aku terlena menghabiskan waktu memberi pelajaran pada Subaru, anakmu ini. Tapi kalau kamu mau, silahkan kamu sarapan saja duluan" (Ayah)

"――? Tapi kita kan sudah biasa makan pagi bersama-sama, bagaimana bisa aku makan duluan? Bukannya lebih baik kalau kita makan bersama-sama?" (Ibu)

Bingung mendengar ucapan Kenichi, Naoko memiringkan kepalanya lalu menanyakan pertanyaan ini padanya. Ia kali ini hanya mengatakan apa yang ada dikepalanya, tidak bermaksud untuk menghina pria itu atau semacamnya.
Melihat istrinya memiliki sifat seperti itu, Kenichi menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat,

"Begitu ya. Yak istriku memang luar biasa!! Aku mengerti. Sarapan akan terasa semakin enak kalau dinikmatinya bersama-sama!" (Ayah)

"Sarapan, makan siang, ataupun makan malam, sebetulnya makan bersama-sama tak akan berpengaruh bagi cita rasa masakannya, ya kan. Cuma, kalau langsung semuanya ikut makan saat waktu itu juga, nyuci nya nggak akan ribet nanti, bisa sekali cuci" (Ibu)

"Ah, ternyata gitu yah, tentang masalah nyucinya. Rupanya aku terlalu bersemangat tadi" (Ayah)

Terhadap penjelasan yang sangat jujur itu, wajah yang terlihat begitu semangat tadi, disaat Ia merasa telah mengatakan kalimat yang luar biasa, saat ini menjadi suram. Menundukkan bahunya, Kenichi menatap Naoko dengan ekspresi tak menyangka, dan sementara Naoko, hanya mengalihkan pandangannya kearah Subaru, yang masih terbaring didepannya.

"Subaru, kamu ikut juga ya. Soalnya Mama dah masak sulit-sulit untuk sarapanmu" (Ibu)

Dan kemudian, Ia memberikan senyumannya, yang hanya orang paling terdekatnya lah yang mengerti maksud dari senyumannya itu.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Menggosok-gosok kedua matanya yang masih mengantuk, dalam perjalanannya menuju meja makan di lantai satu, Subaru yang masih setengah mengantuk tiba-tiba dibangunkan oleh aroma yang menyengat hidungnya.

"Emm.. Mah... Apa Mama yakin kalau Mama dah masak sulit-sulit tadi...." (Subaru)

"Hu-um. Mama dah masak sulit-sulit buat kamu. Mama udah dari pagi nyiapin ini semua" (Ibu)

'Hm... hm', Naoko dengan bangga menggosok hidungnya entah karena alasan tertentu. Tidak mampu untuk menyalahkan dirinya yang berkata dan bersikap seperti itu, Subaru hanya menghela nafas.
Dan dibelakang Subaru yang menghela nafasnya, yang habis dari kamar mandi lalu menuju ke meja makan, Kenichi berkata 'Oooh' sambil mengacungkan jempolnya.

"Wuaaah keren Subaru. Sepertinya kamu dibuatkan menu spesial sama mama mu. Lihat, benar-benar terlihat seperti hutan" (Ayah)

"Terima kasih banyak untuk itu Ayah. Emmm, tapi.... sebenarnya ada apa sih!? Kok bisa ada kacang kacang hijaunya disini?" (Subaru)

Sambil merespon ucapan Kenichi dengan anggukan, Subaru menunjuk kearah tumpukkan――yang di hidangkan didepan kursi makan yang biasanya dia pakai, disamping hidangan yang lainnya. Hidangan itu memancarkan atmosfir yang menyeramkan. Kacang hijau yang ditumpuk disana itu, seakan-akan ingin membunuh salah satu anggota keluarga disini, dan tidak jelas juga, apakah sesungguhnya ada menu lain dibawah tumpukkan kacang itu, atau memang tidak ada.

Dan kebetulan juga, Subaru membenci kacang hijau.

"Heei, beberapa waktu lalu Subaru pernah bilang kan, kalau Subaru benci kacang hijau? Bagi mama, memilih-milih makanan itu nggak baik. Jadi, mama manfaatkan kesempatan ini untuk kamu mencicipinya, jadi kamu bisa membuang pikiranmu itu" (Ibu)

"Jadi Mama ingin memperbaiki kebiasaan burukku, berdasarkan kejadian yang nggak pernah kuingat juga. Dan, kesempatan apaan...... hari ini bukanlah hari spesial atau apapun, kan?" (Subaru)

"Fufu, dirimu tampak semakin hijau, Subaru~. Okeh denger ayah, mau apapun sebenarnya hari ini, hari ini dan saat ini itu nggak bisa terulang kembali. Mungkin kamu berpikir kalau kejadian seperti ini akan terjadi lagi di lain hari, tapi dengan bersikap seperti itu, kamu hanya akan membiarkan kesempatanmu terbuang 'PERCUMA'....." (Ayah)

"Ya ya ya, dah cukup, nggak usah ceramah" (Subaru)

Menyenggol Kenichi yang sedang berbicara, ke samping, Subaru menghela nafas dalam keluhannya, dan kemudian duduk dikursinya. Kemudian, meminggirkan piring yang berisi tumpukkan kacang hijau, menjauhi dari jangkauan dirinya.

"Aku hargai mama yang berpikiran untuk menyiapkan ini kepadaku, tapi sekarang ini aku nggak mau memakannya. Aku nggak mau pagi-pagi sudah mengisi perutku dengan sesuatu yang nggak aku suka" (Subaru)

"Selalu saja kamu begitu. Terus, gimana nanti kalau didunia ini nggak ada lagi yang tersisa kecuali kacang hijau? Apa yang akan kamu lakukan?. Ujung-ujungnya kamu akan memakannya juga, kan?" (Ibu)

"Di dunia yang seperti itu, kita semua ujung-ujungnya akan mati juga, karena mendapatkan nutrisi yang nggak seimbang, jadi bukannya nggak makan kacang-kacang itu nggak masalah ya?" (Subaru)

Membalas pendapat Naoko yang lemah, Subaru melipat kedua tangannya dan membusungkan dadanya,

"Meskipun Armageddon datang ke dunia ini sekalipun, aku tetap saja nggak mau memakannya" (Subaru)

"Duh, hidupmu akan susah nanti kalau makan saja masih pilih-pilih. Um, sayang, tukaran sama tomatku yah, aku nggak suka soalnya, jadi kamu makan saja" (Ayah)

"Yak itulah ayahku.... berbicara seperti itu, padahal dianya sendiri begitu" (Subaru)

Kenichi menaruh beberapa tomat yang tidak disukainya ke atas salad Naoko, menukarnya dengan beberapa telur yang ada di salad Naoko. Mereka sudah biasa seperti ini, jadi istrinya pun tidak merasa keberatan. Melirik kesamping, Subaru melihati hidangan lainnya―― Sup Miso yang baru matang dan Roti Panggang-madu yang diolesi madu mewah diatasnya, Subaru pun kemudian menepuk kedua tangannya,

"Aku penasaran, kenapa Mama memasak hidangan barat ke timur-timuran juga sekarang?" (Subaru)

"Yah karena ada banyak sekali rumput laut didapur, sehingga Mama berpikir untuk masak sup miso, dan juga, Mama suka aja sama roti yang diolesi madu" (Ibu)

Ucapannya itu tidak terdengar seperti sebuah jawaban. Tapi, ucapannya itu nyambung sama pertanyaannya juga. Jadi kalau dia merasa keberatan dengan jawaban Ibunya itu, yang ada Ia hanya mendapati Ibunya memiringkan kepalanya, membalas keberatan dirinya nanti.

Subaru pun dengan pelan mengucapkan 'Itadakimasu' dan lalu 'Slruup!' pada sup miso nya itu, Kenichi dan Naoko yang duduk di kursinya masing-masing pun juga.
Dua orang itu juga menepuk kedua tangannya sambil 'Itadakimasu', dan kemudian, dengan gerakan yang sama dengan Subaru, Dia melakukan hal yang sama dengan Subaru pada Sup Miso itu. Tidak ada yang menyadarinya, kalau sesungguhnya mereka bertiga, bersama-sama telah melakukan harmonisasi.

"Uuuuuummmmmm, sup miso ini....... Sayang, apa masakanmu akan jadi semakin enak kalo aku nggak melihatimu pas masaknya?" (Ayah)

"Oh iya? Sebenernya sih, aku kemarin merekam acara masak 3 menit di tv" (Ibu)

Oh jadi, begitu ya.
Mendengar jawaban Naoko yang kelihatannya tidak sesuai dengan harapan Kenichi, wajah Subaru berkedut-kedut. Mengingat bagaimana Naoko selalu mengatakan hal yang memang apa yang dia lakukan, saat dia mengatakan 'merekam' tadi, kemungkinan dia memang HANYA merekam pada saat itu, tanpa menontonnya. Dan bahkan, mungkin, dia cuma meninggalkannya begitu saja rekamannya disitu tanpa menontonnya.
Sehingga yang sebetulnya terjadi,

"Mengingat Ayah hari ini sudah bangun lebih awal pagi-pagi, Sup miso dan Roti Panggang itu yang buat pasti ayah, kan?" (Subaru)

"Oioioi, tajam sekali matamu itu yah, nak. Jadi kamu menyadarinya ya..... 'mendengar keterangan saksi yang berbeda, kemudian kamu langsung mengajukan keberatanmu berdasarkan keanehan itu'!" (Ayah)

"Kenapa ayah masih saja membahas game kuno itu sampai sekarang ini! Memang sih yang ayah bilang bener, tapi nggak usah pake kejadian di game itu dah, dah kuno banget jugaan!" (Subaru)

Dia pasti telah mengambil gameboy yang berada di meja Subaru. Memang game itu pas banget buat ngabisin waktu.... tapi melihat seseorang yang sudah tua masih saja gemar dengan gameboy itu, membuat Subaru gregetan.
Dan, sambil mengunyah Roti Panggang manisnya, Subaru melanjutkan mengatakan 'Ngomong-ngomong..',

"Sekarang ini masih jam berapa, Ayah, kok bisa ya berpakaian terbuka begitu? Memang sih udah kelihatan mau panas sekarang, tapi tetap saja, nggak pantes kan kemana-mana cuma pake singlet sama celana training tidurmu itu" (Subaru)

"Lho bukannya kamu sekarang juga lagi pake celana panjang tidurmu? Sama juga, Ayah itu sebenarnya juga kedinginan, pas bangun pagi-pagi tadi, ayah menggigil, jadi tadi pagi ayah langsung keluar kehalaman, ngelakuin 'Kanpu masatsu'" (Ayah)

"Kanpu Masatsu, bukannya lebih cocok kalo pas hawa dinginnya itu dah hilang ya?" (Subaru)

"Ah itu cuma pendapat orang-orang! Kalau kamu terlalu percaya dengan pendapat orang lain tanpa mencobanya dulu, kamu nggak akan pernah mencapai apa yang kamu inginkan. Duh sayang, ini lho anakmu, bantu aku jelaskan padanya" (Ayah)

"Iya itu benar sekali, Subaru. Selagi hawanya masih dingin, Mamah juga ngilu sekali ngeliat ayahmu tadi ngelakuin 'Kanpu Masatsu' nya itu, 'tau" (Ibu)

"Loh!? Sayang, bukannya ucapanmu itu, sama sekali nggak ngedukungku!?" (Ayah)

"Eeeh... iya kah? Tapi aku bener-bener ngilu waktu ngeliat kamu saat itu lho" (Ibu)

"Kamu itu bukannya nya ngebantu aku, tapi malah memberi pukulan maut padaku, 'tau!?" (Ayah)

Melihat Kenichi menggoyangkan kursinya ke depan dan kebelakang, menunjukkan ketidaksenangannya, Naoko hanya berbicara dengan santai, 'Eh kalau dibiarin dingin nanti makanannya nih, lebih baik cepet dihabiskan'.

Melihat orangtuanya seperti ini, Subaru memejamkan kedua matanya dan melanjutkan menyantap sarapannya. Dan kemudian, Subaru menggeser piring berisi tumpukkan kacang hijau ke hadapan ayahnya. Dan karena Kenichi saat ini juga sedang kesal dengan anaknya, Ia menggeser piring itu kehadapannya Naoko. Akan tetapi, Naoko malah menggesernya kembali ke hadapan Subaru lagi, mengakhiri pertukaran yang luar biasa ini.

"Rupanya nggak ada yang mau yah, memakan makanan ini. Terus mau diapain nih kacang-kacang hijaunya. Nih, makan mah, tanggung jawab dong" (Subaru)

"Tapi, mamah nggak suka sama kacang hijau...." (Ibu)

"Lahh mamah sendiri juga nggak suka, tapi malah nyuruh-nyuruh aku ngilangin kebiasaan ku yang benci kacang!" (Subaru)

"Ah, jangan salah sangka dulu ya. Mamah itu bukan cuma sekedar benci kacang-kacang hijau itu..... cuma.. mereka itu kecil-kecil bulet gitu... Mamah bener-bener mau mual rasanya waktu ngunyahnya.." (Ibu)

"Omongan mamah sama sekali nggak masuk akal, nggak ngerti aku, apa hubungannya coba.." (Subaru)

Tapi memang kenyataannya, selama ini Ia tidak pernah melihat ibunya itu memasukkan apapun yang 'berbentuk' seperti kacang kedalam mulutnya, berpikiran seperti ini, Ia pun mendorong piring itu kehadapan Ayahnya, Kenichi.

"Kalau gitu, karena seorang suami lah yang paling bertanggung jawab atas istrinya, maka ayah tolong makan ini" (Subaru)

"Kamu itu kaya nggak kenal ayah saja, Subaru. Kita ini keluarga yang paling kompak dan paling akrab satu-sama lain, yang sulit dijumpai di zaman sekarang ini, bukan? Maksudku, kalau kamu dan mama mu membencinya, maka ayah pasti membencinya juga" (Ayah)

"Sungguh kacang-kacang ini sama sekali nggak bikin siapapun merasa happy, malah memberi masalah!" (Subaru)

Rupanya kacang-kacang itu adalah tumpukkan kacang yang satupun tidak ada yang ingin memakannya. Yang pada akhirnya membuat Kenichi membuat keputusan, 'Mungkin lain kali bisa dicampur saja bersama 'pilaf' sebagai pilihan terakhir. Kita bisa tutupi dia dengan banyak nasi dan daging, heheheheh!' dengan ekspresi ilmuwan-jahat di wajahnya.

Dan memang, kalau nantinya kacang-kacang itu di campur dengan sesuatu, maka Subaru kemungkinan lebih bisa mentoleransi untuk memakannya, kecuali Naoko, yang akan tetap saja merasa mual, walaupun mau bagaimanapun kacang-kacang itu di masaknya. Jadi pada akhirnya, hanya dua pria itu saja yang nantinya akan menghabiskan makanan itu.








"Gochisōsamadeshita" (Subaru)
(TLN: (ごちそうさまでした) Terima kasih untuk makanannya)

"Oi, Osomatsu-san. Sekarang, cepat cuci piringmu, dan bersiap-siaplah untuk berangkat ke sekolah!" (Ayah)
(TLN: Ayahnya mengatakan Osomatsu-san (おそ松さん), yang sama dengan Osomatsu-san (お粗末さん) salah satu tokoh kartun yang terkenal nakal)

"Aku dah bosen mendengar kalimat ini untuk menyuruhku berangkat kesekolah. Dan jugaan, aku nggak ingat kalau aku punya kebiasaan abis makan langsung main cabut aja" (Subaru)

Menaruh piring-piringnya ke bak cuci piring, Kenichi menoleh kebelakang dan tersenyum hingga menunjukkan giginya. Melihat ini, Subaru mengangkat bahunya dan bangun dari kursi makannya. Kemudian, meninggalkan tempat dengan mengucapkan 'Aku akan tidur sampe sore saja' dengan pelan, sambil menggaruk-garuk kepalanya, berjalan menuju kamar tidurnya di lantai dua, tanpa berpikir untuk membersihkan piringnya terlebih dahulu.

――Dan berikutnya yang terjadi, kedua kakinya tiba-tiba berhenti bergerak.

"Apa-, ini..?" (Subaru)

Merasakan sakit di pelipis matanya, Subaru langsung memegang dahinya dan memejamkan kedua matanya. Cahaya yang berkilau, bersinar dibalik pejaman matanya. Dan panas terasa membakar kerongkongannya.
Sepertinya ada yang salah. Sesuatu yang aneh telah terjadi.

Melihat kembali kebelakang, Subaru melihat wajah kedua orang tuanya.
Kenichi yang cemberut, yang kecewa karena permintaannya ditolak, dan Naoko yang saat ini sedang mengelap meja dengan lap, menatapi Subaru dengan tatapan yang kesepian, yang kini nampak dikedua matanya.

Melihat tatapan Ayah dan Ibunya――menyadari perasaan yang mereka miliki, Subaru tak mampu menahan rasa panas didadanya. Menyadarinya wajahnya mulai memerah, dengan cepat Ia mengalihkan pandangannya kebelakang sehingga mereka tidak dapat melihat ekspresinya kali ini, dan kemudian, Subaru berlari pergi――lebih tepatnya, berlari menuju kamar tidurnya.

"Apa ini? Kenapa, kenapa aku merasa seperti ini?" (Subaru)

Memegang dadanya, Subaru ngos-ngosan, terkejut dengan cepatnya detukan jantungnya. Kemudian, menjatuhkan badannya ke futon-nya, seperti sedang pingsan, Ia dengan rasa gelisah, melihat kesekeliling ruangan. Ruangannya masih sama dengan saat Ia baru bangun tadi. Tidak ada yang berbeda dengan ruangan yang sering Ia jumpai saat Ia terasa ngantuk ini.
Ruangan ini masihlah sama, Ia sangat yakin kalau tidak ada yang berbeda dengan ruangan ini.
Seperti hal nya dengan pemilik ruangan ini, yang tidak pernah berubah sama sekali.

Melihat kearah jam, saat ini masih jam 8:00 pagi. Sekolah dimulai jam 08:30, dan ia hanya membutuhkan waktu 20 menit jika berangkat dengan sepeda dari rumahnya. Jadi itu artinya, masih bisa dia datang kesana tepat waktu.
Akan tetapi, meskipun demikian, Subaru tidak bergerak sekalipun untuk bersiap-siap, melainkan memeluk lututnya diatas futon, diam menatapi jarum jam yang terus berjalan. Detik per detik, menit per menit, jarum jam itu terus bergerak, dan pada akhirnya menuju angka 12――menandakan waktu telah habis.
(TLN: Pukul 9:00)

――Ia sudah tak dapat datang ke sekolah lagi hari ini.

"Yah, aku sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Yap betul, aku nggak bisa ngapain-ngapain lagi, kan" (Subaru)

Jika saja masih ada tersisa sedikit waktu lagi untuk dirinya mengumpulkan tekadnya, mungkin dia akan pergi. Namun, 'kenyataan' telah memberi batas waktu bagi Subaru. Sehingga, tak ada pilihan lain lagi bagi dirinya saat ini.

Akan tetapi, meskipun demikian,

".......Biasanya, aku santai-santai saja. Tapi kenapa aku merasakan ini sekarang?" (Subaru)

Jantungnya tak mau berhenti berdetak, pernapasannya saat ini tidak menandakan ketenangan pada dirinya. Bingung dengan apa yang terjadi pada tubuhnya, Subaru bahkan saat ini juga ketakutan dengan suara giginya yang menggigil dengan sendirinya,

――Bagi Subaru, pagi inilah yang paling mengerikan dari pagi lainnya.

"Oi tenanglah, tenang.... waktunya jugaan sudah habis. Nggak apa-apa kok, tenang saja" (Subaru)

Menenangkan tubuhnya yang menggigil, lagi dan lagi Subaru berbicara dengan dirinya sendiri. Sudah saatnya semua siksaan hari ini berakhir, pikirnya. Besok pagi, diwaktu yang sama, Ia akan menghadapi semua horror ini lagi, tapi setidaknya, Ia telah melewatinya hari ini.

Tak ada siapapun yang saat ini mendorong hatinya, dan pula tak ada siapapun yang saat ini memaksanya. Satu-satunya orang yang menghantuinya, membawa kekhawatiran kehatinya, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah Subaru sendiri.

Pergi ke sekolah atau tidak yah―― pilihan itu sendirilah yang memberi penderitaan pada Subaru saat ini.

Memutuskan untuk membolos, setelah sekian lama absen, tak mampu menatapi keburukannya sendiri, saat ini, yang terjadi hanyalah masalah semakin bertambah.

Menunggu waktu berlalu, dalam kondisi membenci dirinya sendiri, hingga yakin kalau kesempatan untuk berangkat kesekolah telah hilang, dan berikutnya yang terjadi, Ia merasa telah dibebaskan, karena dapat menghabiskan sisa waktunya dengan bermalas-malasan.

Dan karena Ia merasa menderita hari ini, Rasa bebas yang dia rasakan saat ini benar-benar berbeda dengan yang biasa Ia rasakan di hari-hari sebelumnya, sungguh terasa luar biasa dari yang biasa Ia rasakan di hari-hari sebelumnya.

Terus berusaha membuat dirinya senang, Ia terus mencari alasan, tidak peduli seaneh apapun alasan itu nantinya.

Namun, meskipun Ia dengan sungguh-sungguh melakukan itu, menghibur dirinya, waktu tetap saja sudah berlalu――

"Tapi kenapa cuma hari ini aku begini..." (Subaru)

Rasa bersalah dari dirinya, kegelisahan yang ada pada dirinya, tak kunjung juga menghilang.

Tak mengerti sumber dari kekhawatirannya saat ini, membuat dirinya ingin merobek dadanya sendiri, bahkan pernapasannya sendiri tak bisa tenang, disaat Ia terbaring dengan penuh keringat, menggeliat kesakitan diatas futon nya.

Hingga saat ini, ingatan akan tatapan kedua orang tuanya disaat dirinya meninggalkan meja makan tadi, tak mau menghilang.
Ekspresi yang seperti tadi, percakapan yang seperti tadi, pertengkaran yang seperti tadi, pembantahan yang seperti tadi, serta, kemalasan yang seperti sekarang ini―― Semua ini sesungguhnya sudah sering terjadi.
Tapi entah kenapa hari ini, semua rutinitas yang sudah biasa terjadi itu, yang selalu terjadi setiap waktu sebelumnya, menyiksa hatinya tanpa akhir.

――Memikirkan semua kejadian ini, sepertinya ada sesuatu yang salah, sejak saat Ia terbangun pagi ini.

Ayahnya, Kenichi setiap harinya memang selalu memikirkan segala cara yang cerdik untuk membangunkan Subaru dari tidurnya. Saat Subaru menolak berangkat ke sekolah, atau saat Ia tak mampu memilih kata-kata yang pas untuk menasihatinya, ayahnya tidak pernah merubah cara perlakuan terhadap dirinya. Dan kenyataannya, interaksi pagi ini tidak ada yang berbeda dengan apa yang biasa dia lalui selama 17 tahun terakhir―― lantas sesungguhnya apa yang spesial dari pagi ini, apa karena lompatan-indah yang tadi itu, yang membuat dadanya terasa sakit sekarang ini?

Meskipun Ibunya itu tidak pernah peka akan perasaan orang lain, Ia sesungguhnya selalu mendahulukan kepentingan Subaru. Dengan Subaru bersembunyi didalam rumah, Naoko tentunya akan punya banyak waktu untuk menghabiskan waktunya bersama anaknya. Tapi meskipun begitu, seolah-olah membiarkan waktu berlalu begitu saja, Ia hanya menatapi Subaru dari kejauhan dengan tatapan lembut yang biasanya.  ――Di ruang makan, Ia sering melihati tatapan yang tulus itu.

Ia tak mengerti kenapa baru sekarang Ia merasakan ini, bahkan saat ini, setelah waktu untuknya pergi ke sekolah telah berlalu, gejolak dihatinya tetap saja membakar tubuhnya.

"Ada yang nggak beres ini. Kenapa sebetulnya ini? Apa yang terjadi? Aku yakin kemarin itu..." (Subaru)

Mengingat apa yang terjadi kemarin, memeras otaknya untuk berfikir apa yang terjadi kemarin, apa yang berbeda dengan hari ini―― seketika dirinya merasa mati rasa, dan berhenti mengingat.

Seolah-olah rasa panas membakar kedua matanya dari dalam, rasa panas itu menyerang dirinya, seakan-akan menghalangi Subaru untuk mengingat kejadian itu. Tak percaya, Subaru mencoba sekali lagi untuk mencoba menjarah ingatannya―― namun sekali lagi, ia gagal.
Tidak peduli berapa kali Ia mencoba, yang terjadi sama saja.

Kemarin, atau kemarin lusa, atau kemarin lusa nya lagi, seharusnya Subaru hanya menghabiskan hari-harinya tanpa melakukan apapun, tak ada hal aneh yang terjadi.

Tapi, sekarang ini dirinya malah diserang oleh rasa sakit, sehingga Ia sama sekali tak mengerti apa yang menyebabkan hal ini terjadi.

Pasti ini hanya kebetulan, karena hingga hari ini, Ia sama sekali tak pernah peduli dengan ekspresi kedua orang tuanya, pasti inilah alasannya.

"――Bo~lehkah ayah masuk, Subaru?" (Ayah)

Dan, disaat kesimpulan yang Ia buat kali ini tetap saja tidak menghilangkan sedikitpun rasa sakitnya, Ia tiba-tiba mendengar suara dari balik pintu kamarnya.
Menoleh kearah pintu, Ia melihat Kenichi mengintip dengan setengah tubuhnya, sebelum akhirnya Ia dengan pelan-pelan membuka pintu, dan masuk kedalam ruangan. Dengan gerakan kaki yang hampir menyamai King of Pop――
(TLN: Michael Jackson)

"Kalau ayah masuk tanpa menunggu orang itu menjawabnya, apa gunanya terus ayah bertanya tadi?" (Subaru)

"Oioi, dengan status ayah dan anak diantara kita, apakah perlu melakukan hal semacam itu lagi? ....Oh iya, benar juga. Biasanya anak laki-laki yang lagi pubertas itu, ingin melakukan sesuatu yang nggak boleh dilihat oleh siapapun, sehingga Ia mengunci dirinya sendiri dikamarnya. OK! Ayah mengerti. Ayah akan kembali sekitar 10 menit lagi" (Ayah)

"Jangan langsung mengambil kesimpulan begitu saja lah! Nggak ada apa-apa kok, aku nggak lagi ngapa-ngapain!" (Subaru)

Meneriaki pemikiran yang seharusnya tidak terpikirkan itu, meskipun Subaru meneriakinya dengan keras, jauh dilubuk hati Subaru, sesungguhnya Ia terhibur dan menjadi tenang karena ucapan itu. Mendengar jawaban Subaru, Kenichi menjawab 'Oh iya?' dengan tatapan curiga, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya lagi dan kembali melanjutkan melakukan 'Moonwalk', masuk kedalam ruangan.

Dan kemudian, menatap wajah anaknya, yang juga sedang menatapi dirinya, dan lalu, Ia mengangkat jarinya, menunjuk keatas.

"Okeh Subaru. Sebenarnya hal ini nggak perlu ayah kasih tahu lagi sih, karena udah jelas, tapi, sekarang ini ayah lagi libur" (Ayah)

"Hu-um, aku udah nyadar kok. Karena ayah masih saja sibuk mengurus pekerjaan rumah di jam segini. Terus, emang kenapa?" (Subaru)

"Yahh santai saja lah, nggak usah terburu-buru gitu ingin menyelesaikan pembicaraan. Ayah cuma, ada beberapa hal yang ingin ayah omongin sama kamu, jadi ayah pikir, saat inilah saat yang tepat untuk ayah ngobrolin ini sama kamu, iya kan" (Ayah)

"Ngomongin apa? Tentang ngebersihin piring sehabis makan?" (Subaru)

"Yah itu juga sih ya. Ayah soalnya capek disuruh ngebersihin piring lagi. Ayah memang semangat nyiapin persiapan untuk sarapan, atau memasak, ayah sangat suka, tapi kalau sudah disuruh bersihin piring, hilang rasa semangat ayah" (Ayah)

Kenichi yang terlihat semangat pun hilang. Melihat ayahnya yang biasanya selalu semangat, mengucapkan hal ini, Subaru mengerutkan dahinya, dan tak dapat berbuat apa-apa selain merasa kalau ayahnya saat ini, seperti takut-takut menjelaskan sesuatu.

Berusaha menghindari inti pembicaraan, bersenda gurau, menunggu mengumpulkan tekad―― Dan tetap saja pada akhirnya tidak ada hasilnya, tetap terlihat menyedihkan. Subaru pun memiliki sifat yang seperti ini juga.

Dan wajar saja, kemiripan itu terjadi, karena Subaru adalah anaknya.

"――Sakit.." (Subaru)

Disaat Ia memikirkan ini, rasa sakit menyerang kepalanya sekali lagi. Ia merasa seakan-akan jarum ditusukkan pada pelipisnya, merasa seakan-akan tulang 'tengkorak' (tln: tulang kepala) nya ditarik-tarik, Subaru pun melihat kebawah untuk menutupi ekspresi kesakitannya ini.

"Jadi apa? Yang ingin diomongin ayahku yang kehilangan semangat ini" (Subaru)

"Ooh, baiklah. Subaru, apa sudah ada cewe yang kamu suka?" (Ayah)

"――Aku ini masih SMA 'tau!!!" (Subaru)

Menanggapi perkataan ayahnya itu dengan berteriak, sambil menutupi rasa sakitnya, Ia bereaksi dengan sangat berlebihan pada pertanyaan yang sangat bodoh itu, membuat dirinya lupa kalau dirinya sedang sakit.
Melihat Subaru bangkit dari menunduknya dengan tatapan kesal, Kenichi melipat kedua tangannya, berkata, 'Ooo~OooOO~',

"Melihat reaksimu yang begitu, kayaknya kamu lagi ada cewe yang disuka nih yaa.." (Ayah)

"Sok tahu sekali ayah ini yah. Meskipun aku terkejut, meratap atau mendesah sekalipun, aku sama sekali nggak berpikiran seperti yang ayah pikirkan" (Subaru)

Memang kenyataannya sangat pahit.
Ia saat ini tidak ada ketertarikan untuk mencari perempuan. Ia saat ini belum punya satupun, dan Ia tidak mungkin bisa mendapatkannya meskipun Ia menginginkannya. Itulah yang Ia yakini, sampai saat ini.

"Aah, jangan begitu. Ingat apa yang ayah katakan padamu sewaktu kecil? Perempuan itu bakal takluk kalau dirimu berjanji bersungguh-sungguh padanya, jadi kalau kamu bisa mempertahankan perempuan yang kamu suka, untuk percaya pada dirimu hingga 10 tahun kedepan, maka nantinya perempuan itu akan setia juga padamu" (Ayah)

"Iyah dan kemudian aku benar-benar percaya dengan apa yang ayah katakan padaku waktu itu, dan kemudian membuat janji-manis pada seluruh gadis disekitarku, dan berikutnya yang terjadi, aku di jauhi oleh seluruh gadis disekitarku. Karena anak berwajah-menakutkan ini, telah banyak membuat gadis disekitarnya, memaksa dirinya untuk meminum-seribu-jarum!" (Subaru)
(TLN: Merasa ingin bunuh diri, tak tahan dengan Subaru / bisa jadi jijik :v)

"......Yaah, sebetulnya sangat untung kamu ini mewarisi wajah-manis ayahmu. Mempunyai kedua kaki yang kecil, kedua mata mamamu, sifat semangat ayah, dan sifat kurang peka mamamu, semua ini sepertinya telah diwariskan sejak dirimu itu keluar dari rahim Mamamu.." (Ayah)

"Seharusnya ayah beritahu aku saat Aku masih terikat dengan tali pusarnya mamah...." (Subaru)
(TLN: Saat masih didalam perut Ibunya)

Mengenang kenangan yang menyakitkan itu, ketegangan diantara ayah dan anak itu telah berkurang. Dan, menyadari mereka berdua telah tenang, Subaru mencoba kembali ke topik pembicaraan dengan berkata 'Jadi?',

"Apa yang sebetulnya ingin Ayah omongin?. Setelah ini aku masih ada kegiatan penting tidur kedua dan ketiga ku yang masih harus aku hadiri, jadi tolong tinggalkan pesan setelah bunyi 'BEEP' dan silahkan keluar dari ruangan ini dengan tenang, dan ceritakan saja pada mama apa yang ingin ayah katakan" (Subaru)

"Jangan mengusir ayah dengan kejam begitu dong..... Jugaan, mama mu itu nggak bakal ngerti dengan omongan ayahmu ini. Mama mu itu adalah satu-satunya istri yang paling tidak-peka didunia ini, 'tau. Meskipun dia kelihatan benar-benar imut kalo lagi bersikap seperti itu sih" (Ayah)

Mendengar perasaan cinta ayahnya, Subaru menunjukkan tatapan jijiknya.
Tapi melihat ini, Kenichi berkata 'Eeemmm~', dan kemudian, melihat keatas, menggosok hidungnya seperti anak kecil yang nakal,

"Kamu tau. Cuacanya sekarang ini lagi bagus-bagusnya lho―― kenapa kita nggak jalan-jalan keluar sebentar, mengakrabkan diri, seperti seorang ayah dan anak" (Ayah)


-=Chapter 16 End=-




(TLN: Okeh smoga kalian smua suka! ^_^, oke chapter slanjutnya menyusul :v..)

No comments:

DMCA.com Protection Status