Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 14 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 14 Part 2 Bahasa Indonesia

April 03, 2017 Kirz Oiishii

Tanya Jawab [Shitsugi ōtō](Part 2/2)

"Huh――?" (Subaru)

Mendengar jawaban yang diucapkan dengan tenang dan terdengar sangat hati-hati itu, Subaru terdiam beberapa saat, tidak mengerti maksud dari ucapan itu.

Memikirkan kalimat itu dengan seksama, Ia berusaha mencerna kalimat itu didalam pikirannya,

"Aku nggak ngerti sama sekali. 'Untuk menghindari perselisihan dengan para Pemuja Penyihir'.... tapi kenapa? Apa kau alergi dengan mereka!?? Kalau saja kau... kalau saja kau disana waktu itu, bukankah kau bisa menyerang mereka dengan sekali serangan saja? Sehingga korban...." (Subaru)

"Begitu ya. Memang be~nar, kalau aku disana, maka ju~mlah korbannya tidak akan sebanyak sekarang. Aku sudah tahu tentang kekuatanku ini, dan aku sudah sadar bahwa aku orang terkuat di negeri ini. Sehingga, kalau aku disana, maka para Pemuja Penyihir yang melakukan serangan waktu ini akan mudah ditaklukkan" (Roswaal)

"Kalau kau sudah mengerti tentang semua itu, terus kenapa――!" (Subaru)

"Justru karena itulah"

Melihat Subaru berbicara hingga air liurnya berjatuhan, Roswaal mengeluarkan jarinya untuk menenangkan Subaru, kemudian, dengan jari yang sama, Ia menunjuk keatas,

"Kalau aku yang menyelesaikan semuanya, maka ini bukanlah prestasi Emilia-sama ataupun prestasi mu, kan? Meskipun reputasiku sendiri nantinya akan membaik, tapi justru ini tidak ada gu~nanya" (Roswaal)

"――――Eh" (Subaru)

Apa sesungguhnya yang Ia bicarakan, Subaru tidak mengerti sama sekali.

Pasti ini hanyalah gurauannya. Mengharapkan ini, Subaru menahan lidahnya untuk berbicara dan menunggu Roswaal melanjutkan berbicara.
Berharap nantinya Roswaal akan melanjutkan berbicara dengan candaan lainnya.

Namun, melihat Subaru yang terdiam, Roswaal hanya memiringkan kepalanya,

"Bagaimana mungkin aku bisa menyia-nyiakan saja kesempatan ini? Bagaimanapun juga, bencana ini adalah bencana yang benar-benar sudah aku perkirakan akan terjadi. Bagaimana mungkin aku tidak menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya?" (Roswaal)

"K-kau.... apa kau tahu, apa yang barusan kau katakan....." (Subaru)

"――? Aku tak mengerti dibagian mana Subaru-kun anggap masalah. Yang manakah itu, aku penasaran. Apakah itu tentang dampak yang diterima desa Arlam, atau tentang dirimu yang harus melibatkan kekuatan para tentara bayaran dan tentara pribadi Crusch-sama untuk memukul mundur para pemuja penyihir... atau tentang dirimu yang berpikir seharusnya kejadian ini bisa dihindarkan"(Roswaal)

Seolah-olah membaca sampai kedalam hati Subaru, Roswaal mengucapkan semua ini seakan-akan kalau inilah yang menyebabkan suara Subaru terbata-bata tadi.

Mendengar jawaban ini, Subaru merasa seluruh organ tubuhnya bergetar.

Sebelumnya, saat Ia berbicara dengan Puck, saat Arwah itu berbicara 'Anak ini mengorbankan dirinya sendiri demi menolong Lia' di hadapan Rem yang tertidur, saat itu, Subaru terbakar rasa amarah.
Akibat amarah yang Ia rasakan saat itu, Subaru dengan sedih sadar kalau 'Rasa Iba' yang dimiliki Arwah Agung itu dengan dirinya sangatlah berbeda, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dengan kata lain, akibat amarah yang Ia rasakan saat itu, dirinya jadi mengerti kalau sesungguhnya dirinya dengan arwah itu merupakan makhluk yang berbeda.

Tapi, itu tidak berlaku untuk Roswaal. Ia mengerti alasan kenapa Subaru marah, dan Ia tahu apa yang ingin dikatakan Subaru―― tapi disaat mengetahui semua ini, Ia malah membuat keputusan yang kejam.

"Nah itu, kau sudah tahu. Tapi sekarang aku mengerti, kenapa kau bisa berbicara seperti tadi. Siapapun yang memukul mundur serangan Para Pemuja Penyihir ini, akan mendapat penghargaan, dan penghargaan ini akan sangat berpengaruh dalam Pemilihan Kerajaan, Aku sudah mengerti tentang hal ini...... dan aku juga sudah mengerti kalau kau yang mengurus para Pemuja Penyihir itu, maka penghargaan ini akan berlari ke tangan yang salah. Tapi....!" (Subaru)

Menunjukkan giginya, Subaru, dengan mengayunkan lengannya begitu keras,

"Menurutmu, berapa banyak orang yang mati disaat kau menghilang dan nggak mengatakan apapun waktu itu!? Memang, jumlah jatuhnya korban kali ini tidak begitu parah. Tapi tetap, jumlah jatuhnya korban kali ini tidaklah nihil. Entah ini dari orang-orang kita, ataupun dari para brengsek pemuja penyihir itu..." (Subaru)

"Biarpun aku ada disana, tetap saja para Pemuja Penyihir melakukan serangannya. Mereka semua juga akan tetap menjadi abu. Aku masih bisa bertanggung jawab atas jatuhnya korban di kubu kita, tapi memarahiku karena kerugian musuh, bukankah itu sangat ket~erlaluan?" (Roswaal)

"――T, tapi, bukankah ada cara yang lebih aman..... NGGAK, lupakan tentang itu, yang aku permasalahkan bukanlah itu! Tapi, dirimu yang sudah tahu efek dari semua tindakanmu ini! Memang benar kalau hasilnya baik. Kerugian kita sangat kecil, musuh pun musnah. Emilia-tan aman, penduduk dari Desa Arlam semuanya terselamatkan... tapi itu semua cuma, kebetulan. Seharusnya――" (Subaru)

Seharusnya, jika saja waktu itu Subaru tidak melakukan apapun, para penduduk desa, semua orang di mansion itu, dan Emilia....

"Seharusnya mereka semua sudah mati. Kalau saja waktu itu, tidak berjalan sempurna..... semua orang pasti sudah celaka, diserang dengan kejam, menderita..... disiksa hingga mati" (Subaru)

Menutupi wajahnya, Subaru menyembunyikan air mata yang jatuh disaat dirinya berkata seperti ini.
Didalam kedua matanya yang saat ini dipejamkan, lagi, Ia teringat oleh kejadian mengerikan saat itu, yang tak pernah bisa terlupakan dari ingatannya.
Desa yang hangus terbakar. Mayat berserakan dimana-mana. Mayat dari para anak-anak. Mayat rem yang tergeletak di perkebunan Mansion. Dan, akhir dari dunia yang membeku.

――Semua itu, adalah nasib yang akan dialami dunia jika Subaru tidak membatalkannya dengan skill kembali dari kematian nya.

"Kalau saja waktu itu kau disana, maka semua itu tak akan terjadi.... kau sudah tahu, tapi kau tetap menyaksikan saja kematian mereka. Sesungguhnya, kau sudah membunuh mereka semua berkali-kali....." (Subaru)

"Aku sangat tidak mengerti. Orang yang menyerang mereka adalah para Pemuja Penyihir, bu~kan lah diriku. Dan kenyataannya, serangan para pemuja penyihir itu sudah berhasil kau hentikan, sehingga, seluruh kejadian yang kau ceritakan itu tidak pernah terjadi.  ――Sesungguhnya sekarang ini, kau mengocehkan hal yang tak masuk akal" (Roswaal)

"――Begitu yah" (Subaru)

Mendengar jawaban Roswaal yang menyakitkan, Subaru menurunkan bahunya dan menjawab dengan suara yang pelan.

Tak masuk akal ――Kalau menurutnya seperti itu, maka Subaru sudah tidak dapat mengatakan apa lagi untuk mengubah pendapatnya itu. Karena bagaimanapun juga, 'Skill kembali dari kematian' yang dimilikinya, tak mungkin bisa Ia ceritakan padanya, dan Roswaal tidak mungkin bisa dimarahi karena 'sesuatu' yang tidak pernah terjadi di perulangan yang sekarang ini.

Hanya Subaru yang pernah melihat kejadian mengerikan itu, dan orang yang membebaskan Roswaal dari kejahatan itu, hanyalah Subaru.

"....Tapi gimana kalau ternyata aku ini tetaplah orang yang tak berguna, maka apa yang akan kau lakukan? Demi tercapainya Emilia sebagai Raja, kau mengandalkan usahaku. Bukankah ini terlihat sangat dipaksakan, bahkan kalau dijadikan bahan taruhan nggak bakal mungkin bisa menang........" (Subaru)

"Tapi, kenyataannya kau berhasil memutarbalikkan kemungkinan itu kan?. ――Kau tidak suka dengan kenyataan ini?" (Roswaal)

"Ya aku nggak suka. Soalnya kau itu bukanlah orang yang akan menyerahkan segalanya, pada sesuatu yang belum pasti" (Subaru)

Di dunia ini, ada berbagai macam tipe orang yang bertaruh. Ada yang tidak tahu apakah Ia akan menang atau kalah, dan ada yang benar-benar bergantung pada keberuntungannya saja. Ada juga yang tidak mau menyerah pada nasib, berusaha sebaik yang Ia bisa, sampai kesempatan paling terakhir yang Ia punya.

Namun, ada beberapa orang di dunia ini, yang memikirkan matang-matang segala kemungkinan dari awal hingga akhir, berani bertaruh jika Ia benar-benar yakin kalau kemenangannya sudah jelas dilihatnya.

"Kau bukanlah tipe seseorang yang akan langsung bertaruh begitu saja. Jadi, kenapa kau melakukan ini?" (Subaru)

"――Itu karena, aku percaya padamu" (Roswaal)

Disaat Subaru bertanya lagi padanya, nada suara Roswaal seketika menurun disaat Ia menjawab pertanyaannya.

Mendengar jawaban ini, Subaru tidak bisa menahan tawa cekikikannya untuk tidak terdengar dari mulutnya.

"Jadi kau memang nggak mau menjawabku dengan serius yah" (Subaru)

"Entah kau mau percaya padaku, itu terserah padamu, tapi semua yang kukatakan ini benar, 'tau? Karena sekarang, malam ini, aku sudah memutuskan untuk tidak berbohong pa~damu. Hal-hal yang memang tidak bisa kukatakan, tidak akan kukatakan. Dan jika ada hal-hal yang tidak sesuai untuk kejadian ini, aku juga tidak akan mengatakannya. Jadi, semua yang kukatakan tadi, Aku berani bersumpah kalau semua itu bu~kanlah dusta" (Roswaal)

Terhadap jawaban Subaru yang dipenuhi kekesalan, Roswaal menjawabnya seperti ini, dengan suara nada yang serius. Tapi, bisakah kata-katanya ini dipercaya? Telah kehilangan segala kepercayaan pada Roswaal hingga saat ini, Subaru sudah tidak bisa lagi percaya padanya.

Dihadapan tatapan tajam Subaru, Roswaal memutar kepalanya,

"Akan kukatakan lagi. ――Alasan kenapa aku memilih keputusan ini, itu karena aku percaya padamu. Aku percaya, jika kau menyadari adanya bahaya mengintai Emilia-sama, kau akan berjuang mati-matian, hingga membentuk aliansi dengan Crusch-sama, melakukan segalanya untuk memukul mundur para Pemuja penyihir, berjuang hingga kau berhasil" (Roswaal)

"Kalau memang begitu, terus kenapa kau bisa percaya padaku? Apa yang kau tahu dariku! Kita baru kenal sebulan doang, apa aku terlihat seperti seseorang yang bakal meraih semua itu?" (Subaru)

Menghentakkan kakinya dilantai, Subaru merasa keberatan dengan ucapan Roswaal yang sembarangan dan penuh dengan keyakinan itu.

"Ini sama sekali nggak mungkin. Saat terakhir kali aku bersamamu, Aku pada saat itu benar-benar seratus-persen sampah. Dan kenapa si sampah ini bisa akhirnya berkembang dan semakin baik, itu berkat segala kejadian yang telah dialaminya. Tapi apa saja yang sesungguhnya terjadi selama ini padanya, tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. ――Jadi apa yang membuatmu percaya padaku!!!!" (Subaru)

Roswaal menutup satu bola matanya, dan dengan satu bola mata kuningnya itu, Ia menatap kearah Subaru.
Seolah-olah ingin menendang tatapannya itu, Subaru menendang lantai dengan sekuat tenaga.

"Konyol banget dah ini! Apa kau sebetulnya ingin bilang kalau kau itu ingin mempercayakan segalanya pada pria berkepala-kosong ini, untuk membereskan semuanya, dan mempermainkan semua orang begitu saja, mempertaruhkan posisimu sendiri dan masa depanmu? Sungguh sikap tak berperasaan macam apa itu!" (Subaru)

"....Sepertinya, sudah waktunya kita untuk mengakhiri perca~kapan ini" (Roswaal)

Walaupun Subaru memperlihatkan dengan jelas kekesalannya, Roswaal hanya berbisik mengatakan ini.

Mendengar bisikannya itu, Subaru langsung berteriak sehabis-habisnya.

"Kalau kau nggak mau terus terang padaku, maka nggak ada artinya lagi semua yang kau katakan padaku. Setelah percakapan ini berakhir, aku nggak bakalan lagi percaya padamu" (Subaru)

"Sepertinya penilaianmu padaku semakin buruk yah, su~ngguh ini sangat disayangkan. ........Sebetulnya aku nggak perlu menanyakan ini lagi, tapi, mengingat percakapan kita ini tentang apa, Emilia-sama..." (Roswaal)

"Aku nggak akan cerita apapun padanya. Lagipula nggak ada informasi yang bisa diceritain, semua informasinya udah di tambah-tambah, jadi nggak ada yang bisa kuberitahu padanya. Kau sudah memperkirakan kalau bakal seperti ini, kan. Makanya daritadi kau berbicara dengan sangat hati-hati" (Subaru)

Terlepas dari tujuan Roswaal yang sebenarnya, Pemilihan Raja masihlah berjalan, Ia tidak mungkin ingin terjadi keributan antara dirinya dengan Emilia. Apalagi, sekarang ini Emilia sedang menolong para penduduk dari desa Arlam, sehingga Fraksi Roswaal harus tetap utuh.

Hal ini, membuat Subaru berpikir kalau dirinya telah dibodohi oleh rencana Roswaal, dengan mengikuti Pengujian ini, derajat Emilia dimata orang lain akan terangkat. ――Semua ini, berjalan sesuai dengan rencana orang itu.

"Kau mengetahui semuanya, dan amarah yang kau tunjukkan padaku itu sesungguhnya tak bisa tertahankan..... tapi kau tetap menahan diri, tidak sampai membanting meja atau semacamnya. Kau be~nar benar, seperti yang kuharapkan" (Roswaal)

Mendengar Roswaal mengatakan ini, Subaru menggertakkan giginya, menahan rasa kesal, dan kemudian menatapinya, sementara Roswaal, menunjukkan tatapannya yang sangat menjijikkan.

"Kau ini, memang cocok menjadi kaki tanganku――bukankah begitu?" (Roswaal)

".....Sialan kau, kuharap kau mati sajaa" (Subaru)

"Aku tahu. Tanpa diragukan lagi, aku pasti akan seperti itu. Justru karena itulah, sebelum itu terjadi, aku akan membentangkan kebutralanku didunia ini, dengan kemampuan terbaikku" (Roswaal)

Menatapi Roswaal dengan tajam terhadap pernyataannya seperti itu, kemudian, tanpa berbicara apa lagi, Subaru mengalihkan pandangan dan bergegas ingin keluar dari ruangan.
Tidak ada gunanya lagi melanjutkan pembicaraan ini. Kalau Roswaal sudah tidak ada tujuan untuk memberitahu tujuan Ia yang sebenarnya, kalau Subaru tidak bisa mengetahui isi pikirannya, maka tidak ada gunanya lagi percakapan ini dilanjutkan.

Tetapi,

"――Kau pikir semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kau perkirakan, menari-nari diatas lagumu?" (Subaru)
(TLN: Mengikuti alur yg dibuat roswaal)

Mengepalkan tangannya dengan keras, menghadap kearah jalanan diluar, Subaru telah memutuskan sesuatu.

Besok, Emilia akan menjalani pengujian itu, sesuai dengan keinginan Roswaal, untuk merubah pemikiran orang-orang dari Sanctuary dan penduduk dari desa Arlam, dan juga penghinaan mereka terhadap ras Setengah-elf.

Apa saja yang akan timbul selama proses itu, berapa banyak beban yang harus Emilia tanggung, semua ini tidak dipertimbangkan oleh orang itu(note: oleh roswaal). Dan pada akhirnya, tidak peduli seberapa banyak luka yang akan Emilia terima, meskipun hati gadis itu tersakiti, pria itu hanya akan tertawa karena apa yang direncanakannya telah berjalan dengan sesuai. Jika yang terjadi akan seperti ini, maka,

"Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Gadis itu.... Emilia, aku akan melindunginya" (Subaru)

Kualifikasi untuk mengikuti Pengujian ini―― kalau apa yang terjadi dimimpi itu bukan cuma sekedar mimpi, maka Subaru seharusnya juga dapat mengikuti pengujian ini, karena Ia sudah mendapatkan kualifikasi.

Mungkin kualifikasi ini diberikan atas kehendak si Penyihir itu, tapi dengan ini, Ia bisa menggagalkan rencana Roswaal. Semua rasa sakit dan air mata yang terjadi akibat dari keegoisan pria itu, Subaru ingin menghentikannya.

"――Itulah, apa yang harus aku raih di Sanctuary ini" (Subaru)

Dalam posisi dirinya yang masih menghadap keluar, dihadapan tangannya yang dikepalkan, terlihatlah, sebuah bulan yang pucat.

Seolah-olah ingin meraih bulan yang tak dapat dijangkaunya itu, genggamannya semakin keras, dan terbayanglah sosok seorang gadis imut berambut-putih dipikirannya.

Dengan ini, Ia bertekad, untuk menghancurkan rencana licik badut itu.


※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※


"――Apa benar ini nggak apa-apa?" (Ram)

Sesaat setelah Subaru meninggalkan ruangan itu, Ram, yang menyaksikan akhir dari percakapan mereka, menanyakan ini dengan pelan. Mendengar ini, Roswaal menganggukkan kepalanya dengan lesu.

"Sebetulnya, reaksi ini su~dah kuduga akan terjadi. Tapi meskipun begitu, tetap saja reaksi ini membuatku merasa tak tega, menyakiti hati seorang anak muda" (Roswaal)

"Kau tahu kan kalau nggak perlu berbohong pada Ram?" (Ram)

"Aku senang melihatmu ternyata bisa cu~riga kepadaku, tapi aku ini jujur. Kenapa, apa didalam hati Ram, aku benar-benar terlihat seperti seseorang yang senang melakukan hal seperti ini?" (Roswaal)

Menjawab sambil memalingkan wajahnya dari masternya, Ram membenarkan seprai yang berantakan akibat keributan sebelumnya. Disaat gadis itu melakukan ini, jari dari gadis itu merasakan sesuatu yang keras disekitar perut masternya, dan kemudian Ia mengeluarkan sesuatu dari atas perut masternya, di bawah selimut yang menyelimuti masternya.

"Roswaal-sama. Ini..." (Ram)

"Aaah, maa~aaf. kalau Subaru-kun melihat ini, nanti se~muanya akan jadi ru~mit. Tapi, kalau kutaruh ini dibawah pantatku, maka aku akan berdo~osaa. Jadi aku harus berhati-hati.." (Roswaal)

Mengambil kembali barang yang dikembalikan gadis itu, seolah-olah benda ini sangat berharga untuknya, Roswaal dengan lembut membelai permukaannya disaat Ia mengambil ini. Lalu berkata 'Bagaimanapun juga', sambil memegang dagunya,

"Emilia-sama sudah dipastikan lulus kualifikasi, dan Subaru-kun sedang bersemangat. Besok malam, pengujian itu akan dimulai..... Ram, menurutmu apa~~ yang akan te~rjadi?" (Roswaal)

"Ram ini tidak akan pernah bisa menebak apa yang dipikirkan Roswaal-sama. ....Jadi Roswaal-sama, hanya kau yang tahu apa yang akan terjadi, memangnya sesungguhnya apa?" (Ram)

"Yang kita lakukan sekarang ini bukanlah hal yang ru~mit. Dibandingkan dengan yang dilakukan para Pemuja Penyihir, yang gagal, yang sekarang ini lebih mulia, tapi,ini tetaplah tiruan, dan masih jauh dari apa yang 'ia' inginkan. Mengingat bagaimana interaksi kita dengan Subaru-kun tadi, semestinya kau sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi nanti" (Roswaal)

Roswaal mengambil nafas dalam-dalam, seolah-olah dirinya sedang merenung, dan, melihat ini, Ram menaikkan alisnya dan dengan malu-malu, bertanya,

"Berarti kalau begitu, semua yang kau katakan pada Barusu tadi itu cuma..." (Ram)

"Meski ada beberapa yang cuma acting ku.... tapi kebanyakan dari yang kukatakan itu murni dari pe~rasaanku. Ehh tidak-tidak, bukan gitu, tentu aku tahu kalau Subaru-kun bakalan marah. Dan disaat aku tahu, aku semakin banyak mengatakan hal yang jujur padanya" (Roswaal)

Roswaal melambaikan tangannya kepada Ram seolah-olah ingin menjelaskan semuanya padanya, dan kemudian, dengan 'bagaimanapun juga', Ia melanjutkan,

"Dibenci oleh pasangan hatiku sendiri, sungguh sakit hatiku memikirkannya, seakan-akan aku merasa betapa egoisnya diriku ini. Ooh betapa tidak dewasanya diriku ini, temanku yang tersakiti..." (Roswaal)

Roswaal tertawa disaat Ia mengatakan ini.
Dan kali ini, Ia menggenggam, sebuah buku berjilid hitam.

Roswaal menempatkan jarinya diatas buku itu, dan dengan pelan, Ia membelainya.
Dengan lembut, lembut dan lembut, serta penuh kasih sayang――

-=Chapter 14 End=-

No comments:

DMCA.com Protection Status