Evil God Average Chapter 16 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Evil God Average Chapter 16 Bahasa Indonesia

May 13, 2017 Christian Tobing

Translator: KIV
TLN: Editornya menghilang gtw kemana selama satu bulan ini... Jadi untuk sementara proyek ini dirilis tanpa campur tangan editor. Silahkan komen koreksi kalian kalau menemukan kesalahan dalam pengejaan atau terjemahan.

Chapter 16 –Mengajukan Perbaikan

Mendengar suara tepuk tangan yang menggema di ruang singgasana, Leonora terperanjat, tatapannya beralih menuju sumber suara—ke arah tahta. Di tahta tempat No Life King tadinya duduk, kini terletak sebuah boneka kain berpenampilan mengerikan.

Ya, itu boneka yang kubuat sendiri saat luang sih.
Aku mencoba membuatnya dengan Tena sebagai model, tapi entah kenapa kemampuan menjahitku begitu buruk sehingga hasilnya tidak seperti yang seperti diharapkan. Aku mencoba memperlihatkannya pada Tena untuk meminta masukan, tapi aku malah membuatnya menangis. Apa dia merasa syok karena boneka itu didasarkan pada dirinya, atau karena dia merasa takut? 

Aku sendiri tidak tahu.
Aku berpikir untuk membuangnya… Uh, aku sebenarnya sempat membuangnya, bahkan berulang-ulang kali, tapi bonekanya kembali tanpa kusadari. Hmm, sepertinya boneka ini tanpa sengaja kuperkuat dengan kutukan karena membuatnya butuh waktu satu jam.
Dengan kekuatanku, kupindahkan boneka tadi ke atas tahta walau sebenarnya tidak untuk apa-apa. Aku ingin bicara dengan Leonora karena sepertinya aku membuat dia membenciku entah kapan dan di mana. Tapi karena aku takut bertemu secara langsung, aku memutuskan untuk berbicara dengan melalui dungeon core. Karena kurasa dia akan bingung harus melihat kumana, kuletakkan barang asal untuk dijadikan wakilku berbicara.
Begitu berbicara dengannya, keberadaan diriku akan terkuak. Tapi untuk skenario terburuk, aku hanya perlu memanggil beberapa No Life King untuk bisa menang.

“Siapa kau sebenarnya?”
“Aku dungeon master tempat ini. Boneka di hadapanmu hanya benda untuk mewakiliku, diserang pun tidak ada gunanya. Kalau mau, akan kuberikan boneka itu saat pembicaraan kita selesai.”
“Memangnya siapa yang mau boneka jelek seperti itu?”
Benar juga sih. Tapi aku akan sangat senang kalau ada yang mau membawa boneka terkutuk itu. Walau ketika dibawa pun sebenarnya masih ada kemungkinan besar bonekanya akan kembali kepadaku.

“Hah. Jadi majikan si No Life King itu kau? Si brengsek itu. Padahal sudah berlagak tidak akan berlutut pada siapapun termasuk raja iblis, ternyata pada akhirnya dia tetap seorang pesuruh.”
Pesuruh, ya. Bisa dibilang aku meninggalkannya seorang diri setelah menyuruhnya menjaga lantai 10. Aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa disebut sebagai majikannya.

“Tapi sudahlah, itu tidak penting. Yang lebih penting… berarti si arogan brengsek yang kucari adalah kau.”
Leonora melotot ke arah boneka di hadapannya. Walaupun dia babak belur dari pertarungan hidup-mati melawan No Life King, tatapan mautnya tetap membuatku merinding dari balik layar… harusnya. Dia mungkin ingin menatapku tajam melalui boneka yang diletakkan, tapi sayangnya kamera dungeon tidak pada boneka melainkan dari atas. Karena itu, aku sama sekali tidak merasa tengah dipelototi.

“Aku ingin tahu kenapa kamu marah.”
“Hmph, sudah jelas kan! Aku datang untung menghukum mati si bodoh yang menyebut dirinya Evil God!” (TLN: Jashin/邪神/dewa jahat, silahkan komen mana yang lebih enak)
“Evil… God?” 
“Apa yang kau bingungkan? Sudah jadi rumor orang-orang di kota kalau ada dewa jahat yang hidup di dungeon ini!”
Apa-apaan?
“Kau orang pertama yang pernah kuajak bicara sebagai dungeon master. Aku sama sekali tidak ingat pernah memanggil diriku evil god.”
“Apa…?”
Bahkan walau aku memberitahu namaku, aku sama sekali tidak ada niat menyebut diriku snediri sebagai seorang dewa jahat. Tapi tetap saja aku khawatir tetang rumor di Riemel. Kenapa bisa aku disebut-sebut sebagai Evild God? Kalau sejak awal tidak ada yang salah, kuipikir rumor seperti itu tak akan menyebar.
“Kau tidak memberikan namamu?”
“Tidak pernah.”
“O-Oh… ok.”
Saat aku menjawab dengan singkat, Leonora mulai berkeringat dingin. Menjadi cemas dan ragu, pandangannya mulai bergerak kesana-kemari.

“Berarti… ini hanya sekedar kesalahpahaman?”
Saat kukatakan itu, tubuhnya kembali terperanjat, kecemasannya semakin terlihat. Dia kini seperti anak kecil yang ketakutan setelah dimarahi orang tuanya.
“A-Anu… tidak bisa dibilang kalau ini bukan yang sebenarnya terjadi, karena itu…”
“No Life King tadikupanggil dengan 1.000.000 mana.”
“Ugh… itu…”
Aku tidak berbohong. Tapi karena aku bisa mendapatkan mana sebanyak itu dalam 3 hari, sebenarnya bukan masalah besar sih.

“Kompensasi."
Aku tidak keberatan, tapi reaksinya begitu menarik sehingga membuatku ingin sedikit menekannya. Leonora menggerutu dengan wajah masam begitu mendengar perkataanku.

“Ma-Mau bagaimana lagi… akan kuganti, tapi apa yang harus kulakukan?”
“Gantikan dia menjadi mid-boss lantai 10.”
“Hah!? Apa kau memintaku untuk mematuhimu!?”
Ah, sial. Apa aku terlalu terbawa suasana? Barusan wajahnya merah tomat memperlihatkan amukannya.
“Hanya sementara. Tidak apa-apa walau kita bukan dalam posisi majikan-pelayan.”
“Tapi…”
Sepertinya Leonora sedikit keberatan dengan hubungan majikan-pelayan. Aku sebenarnya tidak serius mengatakan beberapa kalimat tadi, tapi kalau aku bilang “hanya bercanda” dia pasti akan marah.

“…Baiklah.”
Hm?
“Pekerjaan No Life King. Aku yang akan menggantikannya.”
Geh… kalau kau benar-benar melakukannya, aku yang repot, tahu?
“Tapi! Aku tidak ada niat untuk bekerja di bawah orang yang wajahnya tidak pernah kulihat! Aku hanya akan setuju kalau bisa melihatmu secara langsung sebelum memutuskan! Aku tidak akan mundur perihal ini!”
Apa dia ingin langsung diwawancarai olehku? Apa ini taktik untuk serangan mendadak…? Sepertinya bukan sih. Dia kelihatannya bukan tipe orang yang suka melakukan hal licik. Kalau bertemu nanti paling dia akan menolak untuk menurut. Lagipula aku hanya level 1.

“Baiklah, kalau begitu…”
Aku ingin berkata bahwa aku akan menghampirinya ke sana, tapi dia memotong kalimatku dan dengan lantang dan penuh niat.
“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung turun ke lantai paling bawah. Tunggu saja sebentar!”
He-Hei… tidak memedulikan usahaku untuk menghentikannya, Leonoralangsung saja melewati jalan di belakang singgasana. Sepertinya dia tipe orang yang susahdiajak bicara kalau sudah memutuskan sesuatu.
Tak peduli sekuat apapun dia, paling cepat akan butuh waktu sekitar 2 hari untuk bisa sampai di lantai 31. Selain itu, lantai 11-20 berisikan puzzle yang tidak bisa diterobos hanya dengan kekuatan belaka. Jadi begitu tertahan di salah satu puzzle, akan butuh waktu lama untuk bisa melanjutkan. Apa aku harus menunggunya selama itu?
Melihat ekspresinya, dia terlihat tidak akan mendengarkan apa yang kukatakan.Jadi apa boleh buat. Akan kubiarkan dia melanjutkan sampai puas dan begitu menyerah, aku akankembali mengundangnya.
Leonora dengan menakjubkan berhasil mencapai lantai 10 dalam satu hari, namun sesuai dugaan, mulai lantai 11, kecepatannya menurun sehingga hanya bisa menaklukkan setiap lantai setiap satu hari.
“Aaah! Padahal aku sudah sampai 8 pertanyaan!”
“Sayang sekali. Kau harus mengulang dari awal.”
“kAUUU--!!”

Hari ke 2, lantai 12 yang berisikan lantai bergerak.
Ketika menginjak lantai dengan anak panah, orang yang menginjaknya akan bergerak sesuai arah panah, dan terbang itu dilarang. Kalau tidak hati-hati dalam merencanakan tiap langkah, para penantang tidak akan bisa maju dengan lancer. Kalau dilihat dari atas, puzzle-nya memang mudah untuk dipecahkan hanya dengan berpikir sejenak, tapi kalau menghadapinya secara langsung terasa lebih menyultikan.
“AAAAH! Padahal tangganya sudah di depan mata…!!”
“Pelan-pelan asalkan sampai di tujuan.”
Hari ketiga, lantai 13 dengan lantai berputar.
Puzzle-nya adalah lantai yang berputar ke segala arah. Ruangannya berbentuk lingkaran dengan antar jalan keluar memiliki jarak yang sama, jadi begitu berputar, kau akan kehilangan arah ke mana harus pergi. Dan kalau berputar terlalu banyak…
“…Hoek, aku- mual…”
(TLN: menerjamahkan bagian ini saja membuat sang penerjamah mual sendiri karena membayangkan posisinya)
“sebagai sesama pejuang, aku akan pura-pura tidak mengetahuinya.”
Ah, sepertinya dulu aku juga pernah bercerita soal samurai, kapan ya? (TLN: cek beberapa chapter sebelum ini)
Karena merasa kasian melihatnya jadi tidak karuan, aku menyediakan segelas air untuknya.

Hari ke-4…
“masih belum mau menyerah?”
“Ja-jangan bercanda. Aku- aku masih bisa…”
Begitulah katanya. Tapi kalau dilihat, semangatnya yang sebelumnya sudah tiada. Bahkan orang awam pun tahu kalau mentalnya sudah tidak kuat.
Ngomong-ngomong karena Leonora berasumsi bahwa dungeon ini dangkal, dia datang tanpa persiapan, dan tentu saja tanpa makanan. Karena aku tidak bisa melihatnya menantang kuis-kuis yang ada dengan perut keroncngan, aku mengirimkan roti dan sup. Di hari pertama Leonora begitu keras kepala tidak mau makan, tapi begitu hari kedua datang, dia dengan segan mulai makan mungkin karena sudah tidak kuat.
“Ng-Ngomong-ngomong, ini apa sih!? Trik sebanyak ini!?”
“menghindari orang yang hanya mengandalkan otot (musclehead).”
“siapa yang kau bilang musclehead! Hei, aku akan memukulmu begitu sampai di bawah sana!”
“hmm… apa sebaiknya aku berhenti mengirim makanan, ya?”
“Ha-!? Me-Membuat musuh kelaparan hanya taktik pecundang!”
Aku tidak ingin mengendarnya dari orang yang sama sekali tidak membawa bekal. Lagipula, tidak ada dungeon lain yang memberikan makan gratis 3 kali sehari, kenapa tidak sedikitpun berterima kasih, sih.
“ngomong-ngomong ada yang ingin kutanyakan, sebenarnya dungeon ini ada berapa lantai?”
Ah… akhirnya dia sadar? Dasar, padahal harusnya dia bertanya sejak awal. Mengetahui ada berapa banyak lantai yang ada bisa menjadi petunjuk bagaimana menaklukkan dungeon ini jadi aku tidak bisa mempublikasikannya, namun hanya dia kurasa tidak apa-apa. Dari percakapan kami sebelum ini, aku merasa dia tidak akan menyebarkannya.
“Tiga puluh satu lantai.”
“Ti… Ha!?”
Wajah Leonora langsung pucat tak berdaya. Walau sudah susah payah menembus dungeon, dia masih belum mencapai titik tengahnya, jadi kurasa wajar.  Bahkan walau ada lantai 21-30, isinya belum selesai, jadi sebenarnya bagian tersulit dungeon ada di tempat dia sekarang ini. Tapi aku tidak akan memberitahukan itu kepadanya.
“menyerah?”
“ugh… memang kalau seperti ini terus, aku harus mengakui memang sulit bisa sampai di bawah sana, tpai… kalau tidak sampai ke bawah aku tidak bisa menemuimu, kan?”
“Saat di lantai 10, aku sebenarnya berencana akan menghampirimu.”
“Apa!? Berarti tiga hari usahaku ini…”
“Salah sendiri nggak mau ngedengerin.”
Seperti menabur luka di atas garamnya, Leonora kini jatuh terdiam.
“Baiklah. Ini menyebalkan, tapi aku menyerah untuk ke sana.”
Melihatnya berkata begitu dengan ekspresi segan, aku menepuk dadaku dan menghela nafas lega. Sepertinya menaklukkan lantai 11 ke bawah membuatnya menumpuk banyak kebencian, jadi kalau dia bisa sampai ke bawah aku mungkin akan dihajar habis-habisan, sehingga membuatku gematar ketakutan. Dia mungkin tidak akan menghajarku seperti itu karena sudah menyerah dan diundang ke sini. Sejak awal, aku tidak ada niat menjadikannya mid-boss dan bicara dengannya selama tiga hari ini membuatku menyadari dia sebenarya orang baik sehingga membuatku ingin berteman dengannya.
“baiklah, akan kusiapkan lingkaran telepotasi untukmu, nanti masuk saja.”
Awalnya aku ingin mengundang Leonora ke tempat pemukiman, tapi karena negosiasinya berpotensi berujung kekerasan, aku memutuskan untuk bertemu di tempat lain. Yah, melihat sikapnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ruang boss lantai 30 hanyalah ruang kosong untuk saat ini, jadi kurasa itu tempat yang cocok.
Ngomong-nomong, aku sudah memasang boss untuk lantai 20. Aku memanggil armor hidup yang terbuat dari orichalcum dan mencoba memberikannya berkah, hasilnya adalah sesuatu yang brutal. Aku juga berpikir akan menempatkan seekor naga di lantai 30 karena ini dunia fantasi. Dan karena aku sudah berniat, sekalian saja kupilih yang terkuat. Karena itu, aku tengah menabung mana di dalam dungeon core.
Eh? Bukankah aku membatasi monster yang ada hanya sebatas monster inorganik agar tdak membunuh siapapun? Yah, kalau ada ksatria perkasa yang bisa menembus tempat ini, kurasa tidak apa-apa, kan?
…Oh? Walau awalnya aku oke dengan monster inorganik karena mereka tidak punya ego. Tapi saat dia dikalahkan Leonora, si No Life King berbicara, kan? …itu kenapa ya? Hm...
Aku berpindah ke lantai 30 dan duduk di atas singgasana. Karena sifat dan pakaianku sama sekali tidak bermartabat, jadi aku berusaha ebaik mungkin agar terlihat lebih sopan.
Ngomong-ngomong, aku menyiapkan singgasana di lantai 20 dan 30 layaknya lantai 10. Tapi kalau dipikir lagi, ukuran boss-nya sama sekali tidak sesuai dengan kursi yang dibuat untuk manusia… sehingga kesannya jadi sia-sia. Yah, karena masih bisa kupakai seperti sekarang ini, setidaknya masih berguna sih.
Memikirkan itu, gerbang besar di hadapanku membuka perlahan. Lingkaran teleportasi yang digunakan untuk membawa Leonora ke ruangan sebelum ruangan ini. Saat aku melihat kea rah pintu masuk, ada seorang gadis berambut perak dengan gaun armor merah.
Aku menunggunya memasuki ruangan, tapi dia sama sekali tak bergerak. Apa dia tidak bisa masuk sebelum diberikan izin? Pikirku, tapi dia tak lama melangkah masuk dengan perlahan ke dalam ruangan.
Dari sudut pandangku, wajahnya begitu pucat dan bercucuran keringat sehingga membuatku khawatir. Dia berjalan dengan pelan dan setelah beberapa menit sampai sekitar 10 meter di hadapanku sebelum akhrinya kembali terdiam. Akan sulti untuk berbicara seperti ini, jadi aku ingin dia lebih mendekat. Tapi bukan berarti kami tidak bisa saling mendengar sih, kurasa tidak apa-apa.
“senang bertemu… “MAAFKAN SIKAP SAYA!” …denganmu?”
Dia tiba-tiba sujud di hadapanku. Ngomong-ngomong, sepertinya aku pernah membaca penjelasan kalau mata magisku cukup kuat untuk membuat raja iblis bertekuk lutut. Aura terror yang begitu kuat sampai membuat anak raja iblis bersujud… kurasa?
“Anu… “SAYA BENAR-BENAR MINTA MAAF ATAS KELANCANGAN SAYA! SAYA AKAN MELAKUkAN APAPUN! JADI TOLONG… TOLONG AMPUNI BANGSAKU!” …ha?”
Kenapa adegannya jadi seperti aku ingin menyerang bangsa iblis? Aku sama sekali tidak berniat begitu, lho?
“coba dengarkan aku… “Kumohon, tolong hukum saya seorang diri” …dulu.”
Aku merasa jengkel karena percakapannya sama sekali tidak bergerak dan tanpa sadar aku menarik tanouku dan melemparkannya. Tantou kutukan itu tertancap di hadapan Leonora dan membuatnya sedikit berteriak.
“angkat kepalamu dan berdiri.”
“Ta-Tapi…”
“lakukan saja.”
Aku sedikit menaikkan nada bicaraku membuatnya berdiri. Leonora dengan sigap akhirnya berdiri tegap dengan segera.
“aku tidak marah.”
“Eh?”
“aku juga tidak berniat menghabisimu.”
“Be-Benarkah!?” 
Leonora yang benar-benar lega hingga membuat air matanya bercucuran. Aku sama sekali tidak marah kepadanya, hanya saja percakapan kita barusan yang membautku sedikit jengkel.
“lalu soal boss lantai 10…”
“B-Baik! Tentu saja akan saya lakukan sepenuh hati!”
“tidak perlu.”
“Bisa diulangi?”
Kemarin aku hanya sedikit bercanda, tapi kalau dia mengatakan begitu, aku jadi repot. Kalau putri raja iblis menjadi mid-boss, kemungkinan besar aku akan dijadikan musuh ras manusia dan bagnsa iblis sekaligus. Untuk boss lantai 10 aku hanya perlu memanggil No Life King lagi. Yah, sebenarnya setelah Leonora turun ke lantai 11, aku sudah memanggil yang baru dan menempatkannya langsung. Entah kenapa No Life King yang baru kupanggil itu sudah mengetahui namaku. Kenapa ya?
“Sebagai gantinya, aku ingin minta sesuatu.”
“Katakan apa saja!”
“aku ingin kau menjadi temanku.”
“Te-Teman…?”
Walau hanya dari balik layar, tapi tiga hari berbicara dengannya cukup menyenangkan. Sayang sekali dia jadi takut karena skill-ku, tapi walau begitu aku ingin bisa cukup dekat dengannya agar dia tidak lari begitu saja.

Skenario terburuknya, kami hanya bisa bicara normal melalui monitor. Dengan pertimbangan perasaanku dan posisinya sebagia puteri raja iblis, kalau bisa aku ingin benar-benar akur dengannya.
“Ba-Baik! Tolong izinkan saya menjadi teman anda.”
“karena kita teman, tidak perlu berbicara sopan, ok?”
“Baik… ah, ok.”
Teman pertamaku di dunia ini, GET.
Dan aku tidak mengancamnya untuk jadi temanku.
…iya, kan?

No comments:

DMCA.com Protection Status