Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 12 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 12 Bahasa Indonesia

May 21, 2017 Reisen

Chapter 12 - Mengintip Sedikit

Translator: Reisen


Sambil memberdirikan batangan kayu sepanjang setengah lengannya, Tatsumi mengayunkan kapaknya.

Kapaknya membelah rapi batangan kayu itu menjadi dua potongan vertikal dan tenggelam ke dalam tanah di bawahnya.

Tatsumi memposisikan kembali batangan kayu yang terbelah tadi dan mengayunkan kapaknya.

Bersamaan dengan suara yang memuaskan, setengah batangan kayu tadi terbagi lagi menjadi bentuk seperempat potongan.

Ia mengambil potongan seperempat itu dan melemparnya ke pinggir sebelum mengambil batangan kayu yang satunya dan mulai memotong kembali.

Setelah memeriksa batangan kayu telah terbelah rapi menjadi dua, Tatsumi mengelap keringat di jidatnya dengan belakang tangannya.

Tatsumi sedang membelah kayu sekarang.
Seperti yang ia putuskan kemarin, ia mulai bekerja sebagai asisten kuil hari ini.


**


“…A-Aku harus motong ini…? Se-Semuanya…?”

Tatsumi berkata dengan suara serak, sambil berdiri di depan tumpukan batangan-batangan kayu.

“Yap, ini. Orang yang tinggal di kuil ini kan banyak. Jadi kayu bakar yang dipakai tiap hari juga banyak. Jadi orang baru, motong kayu itu pekerjaan yang sangat penting.”

Seorang umur pertengahan (paruh baya) berbadan besar dan bermuka galak yang mengantar Tatsumi ke taman belakang dengan jantan menepuk punggung Tatsumi sambil tertawa.

Tatsumi terdorong ke depan setelah tiba-tiba dipukul punggungnya. Di saat itu, simbol suci yang tergantung di dadanya bergerincing seperti bell.

“…Namamu… Tatsumi kan? Aaah pakai ini. Belah batangan kayu itu jadi 4 bagian pakai ini.”

Benda yang diberikan orang paruh baya padanya adalah kapak dengan kondisi bagus.

“Istirahat setelah bell ke 4. Jadi kerja keras sana.”

Berkata demikian, lelaki paruh baya itu pergi dengan langkah lambat.

Ngomong-ngomong, ‘bell ke 4’ yang dimaksud di sini adalah sekitaran tengah hari berdasarkan waktu dunia lamanya.

Ketika Tatsumi menghitung itu pakai jam tangannya, matahari di dunia ini terbit sekitar pukul 6 AM. Setelah itu, setiap kuil membunyikan bell tiap 2 jam.

Bell berbunyi sekali jam 6 AM, dua kali jam 8 AM, banyaknya bunyi bell bertambah 1 tiap 2 jam dan pada pukul 6 PM ketika bell ke 7 berbunyi merupakan pertanda matahari terbenam.

Dari sini, dinamakan menjadi bell ke 1 sampai bell ke 7 untuk menyamakannya. Mereka tidak membunyikan bell di malam hari, jadi kelihatannya mereka tidak punya istilah yang tepat untuk mengukur waktu di malam hari.

Berdasarkan penjelasan Calcedonia, sepertinya waktu untuk membunyikan bell diuukur menggunakan jam matahari. Dan ketika musim hujan dan hari-hari berawan, mereka punya benda sihir yang berlaku sebagai sejenis timer, tapi karena merupakan barang langka dan mahal, menjadikannya benda berharga yang tidak akan pernah dipindahkan dari tempatnya dan hanya pendeta tertinggi Giuseppe yang diperbolehkan menyentuhnya. Bahkan Calcedonia masih belum penah melihat langsung.

Sehari terdapat 24 jam sama seperti di bumi, tapi matahari di sini tiap hari terbit jam 6 dan terbenam jam 6.

Tatsumi berpikir apa mungkin di sini tidak ada perubahan panjangnya  waktu 1 hari berdasarkan musim.

Baru 3 hari semenjak Tatsumi datang, jadi ia masih belum sempat mengukurnya dengan tepat. Akan tetapi, bisa jadi kalau di dunia ini bukan dunia yang planetnya bergerak, melainkan dunia yang menggunakan Teori Ptolomeus* dengan galaxy yang berputar dengan keteraturan.

(TL Notes : Istilah astronomi yang menggambarkan alam semesta dengan bumi sebagai pusatnya dan pusat pergerakan semua benda-benda langit atau dalam Bahasa Indonesianya teori geosentrisme – Wikipedia)

Hal ini masih belum diketahui Tatsumi, tapi dipercaya kalau di dunia ini benua dan lautan berada mengapung diatas ‘Dunia Bintang’.

Pandangan umum yang dipercayai tentang dunia adalah pada ujung lautan di utara dan di timur terdapat air terjun raksasa yang menjatuhkan air laut ke lautan dari suatu tempat sedangkan ujung lautan selatan dan barat terdapat air terjun raksasa yang menjatuhkan air laut ke suatu tempat.

Berdasarkan salah satu orang bijak, air laut yang berada di air terjun barat dan selatan jatuh melewati dunia kehampaan lalu mengalir kembali ke air terjun utara dan timur. Namun, tidak ada seorang pun yang pernah melihat air terjun raksasa tersebut di perbatasan lautan jadi apakah teori ini benar atau salah masih belum dapat terbukti.

Terlebih lagi, dipercaya bahwa di sebelah ‘Dunia Bintang’ juga terdapat ‘Dunia Surga’ dimana para Dewa tinggal.

Mengesampingkan hal-hal tersebut, Tatsumi sekarang lagi tercengang melihat ke tumpukan batangan kayu yang tinggi.

Tapi pekerjaannya tidak akan selesai jika ia hanya memandanginya saja. Jadi setelah membuat persiapan untuk hal terburuk, Tatsumi menyisingkan lengan bajunya dan berusaha bersemangat.

Sekarang ini, ia tidak sedang memakai pakaian dunianya itu, tetapi pakaian kuil yang telah disiapkan oleh Giuseppe.

Ketika ia pergi ke kota bersama Calcedonia kemarin, ia membeli beberapa pasang pakaian biasa dan pakaian dalam, tapi ada peraturan harus memakai pakaian pendeta ketika bekerja di kuil, jadi Tatsumi sekarang pakai itu.

Giuseppe juga telah secara resmi memberi pangkat Tatsumi sebagai seorang pendeta. Meski itu hanya pangkat paling bawah Pendeta Junior, tapi setidaknya ia sudah mendapatkan status sosial untuk sementara waktu.

Karena kuil bersifat independen dari negara mana pun, hanya berafiliasi dengan kuil saja memberikan sebuah status sosial tertentu, seperti mendapatkan akses pengetahuan yang sama dengan seorang sage*.

(TL Notes : orang bijak atau sejenisnya)

Tentu, tidak semua orang dapat bergabung dengan kuil. Umumnya, seseorang harus melewati beberapa pemeriksaan sebelum dapat bergabung. Alasan mengapa Tatsumi dapat memperoleh posisi sebagai seorang Pendeta Junior tanpa prosedur pastinya karena pendeta tertinggi Giuseppe menggunakan kekuasaannya.


**


Baiklah, setelah melihat tumpukan batangan kayu yang tinggi itu sejenak, Tatsumi melihat ke bawah pada pakaian yang ia gunakan.

Karena Tatsumi berpikir apakah tidak apa-apa jika pakaian putih kuil ini menjadi kotor meskipun ketika bekerja.

Pakaian yang Tatsumi sedang kenakan adalah seragam Pendeta Junior dan juga sebagai pakaian bekerja di kuil ini. Karenanya ia tidak akan disalahkan sekotor apapun jadinya. Walau, ia tetap harus mencucinya sendiri jika memang jadi kotor.

Desain baju kuil dan simbol suci yang dipakai berbeda-beda tergantung status mereka.

Ngomong-ngomong, lelaki paruh baya yang mengantar Tatsumi ke taman belakang tadi adalah seorang Pendeta Senior Bogarde yang bertanggung jawab sebagai pendamping Pendeta Junior kuil, seperti Tatsumi.

Sadar kalau berdiri saja tidak akan mengurangi pekerjaannya, Tatsumi mulai mengayunkan kapak yang ia dapat dari Bogarde beberapa kali. Setelah mulai terbiasa, Tatsumi mengambil batangan kayu dan menaruhnya vertikal di tanah.

Dan ia dengan pelan mengayunkan kapaknya ke bawah. Pada saat mata pisaunya masuk ke dalam batang kayu, langsung terbelah rapi menjadi 2 bagian.

“Huh…? Aku barusan tadi gak pakai banyak tenaga padahal…?”

Tatsumi memiringkan kepalanya bingung karena batangan kayu tersebut terbelah jauh lebih mudah dari yang ia bayangkan.

“Ah, gak penting. Gak ada yang salah kan kalau terbelahnya gampang.”

Setelah itu, Tatsumi terus menerus membelah batangan-batangan kayu.

Umumnya ketika sedang membelah kayu, batangan kayu diletakkan di atas batu atau pohon sebagai tempat pijakan. Hal ini dikarenakan ketika membelah kayu di atas tanah, keempukan tanah akan membuat pemotongan menjadi lebih sulit.

Tatsumi yang tidak pernah membelah kayu sebelumnya tentu tidak tahu akan hal itu dan terus memotong batangan-batangan kayu di atas tanah. Sambil tidak sadar jika hal itu tidak wajar.

Bell ke 2 dan bell ke 3 telah berbunyi di tengah-tengah pekerjaan, tetapi Tatsumi yang berkonsentrasi pada pekerjaannya tidak sadar.

Sedikit setelah bell ke 4 pertanda tengah hari berbunyi, Bogarde kembali ke halaman belakang.

“Hey, anak baru. Gimana pekerjaa…. Apa?”

Setelah melihat tumpukan-tumpukan kayu bakar di depannya, Bogarde berteriak kaget.

Kayu bakar dengan jumlah besar yang tertumpuk hari ini telah dipotong rapi menjadi 4 bagian dan di tumpuk. Sudah pasti kalau dia kaget.

“Oh, Bogarde-san. Seperti yang diperintahkan, aku sudah selesai memotong semuanya.”

Tatsumi, yang sedang duduk di tanah di depan tumpukan kayu bakar, berdiri lalu dengan santai memanggil Bogarde yang kebingungan.

“Be-bentar bentar, se-semuanya katamu… maksudmu kamu memotong semuanya setengah hari…? Sebanyak itu…?”

Bogarde bolak-balik melihat antara tumpukan kayu tersebut dengan Tatsumi.

Seorang pemuda yang tiba-tiba muncul pagi hari ini. Laki-laki bermata dan berambut hitam yang tidak biasanya dilihat di Kerajaan Largofiely, dan ia berkata kalau mulai hari ini ia akan bekerja sebagai asisten kuil.

Sepertinya lelaki ini datang mencari Bogarde setelah mendapat instruksi dari seseorang yang berada diatas status Bogarde.

Bogarde dengan seksama meneliti lelaki berambut hitam tersebut dengan pandangan tidak ramah sambil menyilangkan tangan berototnya.

Dia tidak terlalu tinggi yang mana berjarak 1 kepala lebih rendah dari Bogarde yang berbadan besar.

Dia kurus, dan ketebalan tangannya lebih kecil dari setengahnya lengan Bogarde. Berpikir dalam hati kalau tangannya mirip tangan perempuan, Bogarde menilai kalau pekerjaan berat-berat adalah hal yang mustahil jadi ia memutuskan untuk memotong kayu saja.

Memotong kayu juga membutuhkan tenaga yang cukup lumayan, tapi ia mengira kalau itu lebih baik dari pekerjaan berat lain seperti mengantar ember berisi air penuh dari sumur atau membawa pengantaran persediaan makanan sehari-hari bagi para pendeta.

Walaupun penampilannya seperti itu, Bogarde rupanya adalah orang yang mempedulikan bawahannya. Jadi meski ia terlihat menyeramkan karena badan kekar dan wajah galaknya, ia merupakan seseorang yang memberi imbalan bagi orang yang bekerja keras.

Dan ia memberi tugas pada seseorang yang memang cocok dengan apa kemampuannya. Karena itu juga merupakan bagian dari pekerjaan Bogarde.

Dan berdasarkan Bogarde itu, Tatsumi yang memiliki tangan layaknya tangan perempuan (hanya berdasarkan standar Bogarde) sudah cukup jika ia dapat memotong seperempat dari keseluruhan batangan-batangan kayu tersebut sampai bell ke 4 berbunyi.

Tapi kenyataannya, lupakan seperempat, Tatsumi menyelesaikannya semua. Bahkan untuk Bogarde sendiri, pekerjaan itu tidak mungkin ia dapat selesaikan hanya dengan waktu setengah hari.

Pertama ia hanya tercengang menatap antara Tatsumi dengan tumpukan kayu tersebut, tapi tidak lama kemudian wajahnya berubah menjadi senyuman lelaki.

“HAHAHAHAHAHA!! Hebat juga kamu anak baru… enggak, Tatsumi! Kerja bagus!”

Bogarde dengan jantan memukul punggung Tatsumi keras-keras lalu memintanya duduk kembali.

“Kamu sudah kerja banyak gini. Kamu pasti lapar kan? Ayo kita makan sama-sama.”

Bogarde mengeluarkan sesuatu mirip sandwich dari kain pembungkus yang ia punya.

Ia menoleh ke Tatsumi sambil memakan makanan tersebut dengan ekspresi senang, tetapi entah mengapa ia melihat Tatsumi yang hanya berdiri diam agak linglung.

“Kenapa? Duduk dan makan. Istirahat kita gak panjang lho?”

“Ah.. emm.. sebenarnya…”

Tatsumi menggaruk kepalanya sambil ingin berkata sesuatu. Sampai sekarang, Tatsumi benar-benar lupa kalau ia hanya boleh makan waktu istirahat saja.

Sepertinya di Kerajaan Largofiely terdapat kebiasaan untuk makan 3 kali sehari. Sekali antara bell pertama dan kedua (antara jam 6 AM dan 8 AM), sekali sekitar bell ke 4 (sekitar tengah hari) dan terakhir sekali setelah bell ke 7 (setelah jam 6 PM).

Beberapa orang juga makan makanan ringan antara bell ke 5 dan bell ke 6 (antara jam 2 PM dan 4 PM).

Tatsumi sudah mendengar semua ini dari penjelasan Calcedonia kemarin, tapi ia benar-benar lupa. Dan tentu saja, ia tidak menyiapkan apapun untuk makan siang.

Bogarde yang heran melihat Tatsumi yang terlihat kebingungan, lalu ia memanggilnya.

“Apa? Kamu gak menyiapkan makan siangmu?... berarti sepertinya kamu harus ke kantin.”

Terdapat kantin di salah satu ruangan kuil yang menyediakan makanan bagi para pendeta. Tapi tentu saja, Tatsumi masih belum pernah ke sana. Semenjak ia datang ke dunia ini, semua makanannya disiapkan oleh Calcedonia.

Sebagai salah satu bagian latihannya, Pendeta Junior bekerja secara bergantian di kantin, tetapi kantin tersebut terletak agak jauh dari halaman belakang tempat Tatsumi dan Bogarde berada.

“Yaa karena kamu sudah menyelesaikan pekerjaan yang aku beri tadi, gak masalah kalau kamu agak lama makan siangnya tapi… kalau gak keberatan… kamu bisa mencoba punyaku? Aku tidak menjamin rasanya karena ini dibuatkan istriku!”

Tertawa “GAHAHAHA”, Bogarde sekali lagi menyuruh Tatsumi untuk duduk kembali.

“Tidak, aku tidak bisa mengambil apa yang sudah dibuatkan istri anda. Aku ke kantin saja.”

“Begitu? Kalau gitu gak usah buru-buru. Santai saja makannya.”

Setelah berkata baiklah pada Bogarde, ia menuju ke kantin.

Tidak, ia baru mau berangkat.

Baru saja ia mau membuka pintu belakang yang menghubungkannya dengan kuil, pintunya terbuka sendiri. Tentu, tidak benar-benar terbuka sendiri. Seseorang membukanya dari sisi lain.

Dan orang tersebut mengintipkan kepalanya dari sela-sela pintu dan melihat ke sana kemari. Ahoge* di kepalanya ikut bergoyang kesana kemari.

(TL Notes : Ahoge = antenna rambut, di chapter sebelumnya sudah ada referensinya)

Ketika ia melihat Tatsumi, ia tersenyum layaknya bunga yang mekar.

“Master! Aku membawa makananmu!”

“Chiiko. Repot-repot kamu membawakanku ini?”

“Ya! Aku tidak tahu dimana master bekerja jadi aku kesana kemari sambil mencari master. Maaf.”

Ketika ia mendekat, dengan cepat membungkuk sebentar lalu memberikan bungkusan yang ia bawa.

“Makasih, Chiiko. Ngomong-ngomong, apa kamu sudah makan siang?”

“Be-Belum… itu… a-aku berharap… kalau aku bisa makan bersama dengan master… jadi…”

Calcedonia memerah sambil dengan malu-malu berusaha berbicara permintaannya. Tentu, Tatsumi tidak ada alasan untuk menolaknya.

“Ok. Jadi ayo makan bareng. Ah, oh iya.”

Tatsumi akhirnya ingat kalau Bogarde juga ada di sana. Ia ingin bertanya padanya apakah tidak masalah jika mereka makan bersama-sama tapi…

“Bogarde-san? …huh?”

Bogarde itu menjadi terdiam, tanpa bergerak sedikitpun ia melihati mereka, seakan menjadi batu.

Sandwich yang ia makan jatuh dari tangannya. Dan seakan itu pertanda, Bogarde akhirnya sadar.

“Ca-Ca-Ca- Ca- Ca- Ca- Calcedonia-sama!!? Me-mengapa <Holy Maiden> mengantarkan makanan ke Tatsumi…!?”

Bogarde, yang matanya membesar kaget, menoleh kearah Tatsumi dan Calcedonia bolak-balik beberapa kali.

Di sisi lain, Calcedonia yang sedang dilihati memiringkan kepalanya bingung dan bertanya ke Tatsumi.

“Master? Orang ini…?”

Bagi Calcedonia, ia tidak tahu setiap nama dan wajah seseorang yang berada di kuil. Lagian, para kenalannya adalah orang-orang yang memiliki status tinggi di kuil saja, jadi Bogarde yang statusnya tidak terlalu tinggi bukan seseorang yang Calcedonia kenal.

“Ah. Orang ini adalah Bogarde-san. Dia yang memberikan pekerjaanku hari.”

“Ah begitu. Bogarde-sama, terima kasih telah menjaga master ku.”

“Ma-ma-master….?!”

Calcedonia membungkuk ke Bogarde, tetapi ia di sisi lain menjawab dengan nada gugup. Karena ia salah paham kalau Calcedonia yang dimaksud ‘master’ adalah ‘suami’.

Calcedonia yang ia maksud adalah ‘master’ (pemilik lebih tepatnya) tapi siapapun akan salah paham jika berada di posisi Bogarde.

“Ja-Jadi Tatsumi ini… maksudku Tatsumi-sama adalah…”

Tatsumi dengan cepat melambaikan tangannya sambil duduk bersamaan dengan Calcedonia dekat dengan Bogarde yang mengganti cara berbicaranya ke Tatsumi karena salah paham tersebut.

“Jangan gitu, Bogarde-san. Gak usah tiba-tiba memberi kata –sama.”

“Ti-tidak, tapi anda…”

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya seorang Pendeta Junior baru. Aku dan Chiiko… Calcedonia adalah orang yang berbeda.”

“Ka-kalau anda berkata demikian… ta-tapi bagaimana dengan Calcedonia-sama?”

“Yap. Kalau master bilang tidak apa-apa aku juga tidak akan berkata apa pun. Aku akan menuruti perintahnya.”

“Haaah…. Tapi bagi <Holy Maiden>-sama untuk berkata demikian…”

Bogarde sekali lagi melihat ke Tatsumi dan Calcedonia sambil memegang dagunya dengan jarinya.

Di satu sisi ada Calcedonia, yang tidak memiliki ekspresi orang bermartabat seperti biasanya, sedang terlihat seperti gadis jatuh cinta, dan di sisi lain ada Tatsumi yang sedang diurus Calcedonia seakan hal itu merupakan hal yang paling wajar di dunia ini.

Kedua figure orang ini seperti pasangan yang telah menikah selama bertahun-tahun. Setidaknya, itu yang terlihat dari pandangan Bogarde.


**


Setelah itu, ketiganya dengan senang memakan makan siang mereka.

Pertamanya, ia merasa canggung berada di sekitar keberadaan <Holy Maiden>, tapi karena ia memiliki kepribadian yang tidak terlalu mengurus hal-hal kecil, ia lambat laun membuka diri padanya.

Meskipun, karena ia adalah cucu dari Pendeta Tertinggi dan si terkenal <Holy Maiden>, ia berlagak lebih sopan terhadapnya ketimbang orang lain biasanya.

Tidak lama kemudian, makan siang gembira mereka selesai dan berdiri setelah membersihkan semuanya.

“Baiklah, Tatsumi. Sejujurnya, semua pekerjaanmu untuk hari ini sudah selesai. Rencanamu habis ini ngapain?”

“Aku akan bantu-bantu apapun yang bisa aku bantu?”

“Begitu? Sorry tapi, antarkan sekitar seperempat dari tumpukan kayu-kayu itu ke serambi. Aku akan tunjukkan jalannya menuju gudang persediaan. Pekerjaanmu hari ini akan selesai setelah itu.”

Tatsumi dan Bogarde yang berdiri untuk mendiskusikan apa yang Tatsumi akan lakukan di siang hari ini.

Dan Calcedonia dengan senang melihat sosok Tatsumi yang sambil tersenyum berbicara rukun dengan Bogarde.

“OK! Jadi aku sepertinya juga harus bekerja keras siang ini!”

“Ya, kerja yang ba-…?”

Tatsumi memukul kedua pipinya dengan kedua tangannya untuk memotivasi diri. Dan Calcedonia yang baru ingin memotivasi Tatsumi tiba-tiba berhenti di tengah-tengah bicaranya.

“Hmm? Apa ada masalah Chiiko?”

“Oh! Ti-tidak, tidak apa-apa…”

Tatsumi memiringkan kepalanya ke Calcedonia yang dengan jelas berbicara kegagapan, tapi tanpa ingin bertanya lebih jauh ia mulai berjalan kearah Bogarde yang ingin menunjukkan jalan menuju gudang penyimpanan.

Sambil melihat dengan baik-baik punggung Tatsumi ketika ia berjalan pergi, Calcedonia berbisik pelan ke dirinya sendiri.

“Barusan, cuma sebentar…. cuma sebentar saja, aku merasakan adanya mana dari tubuh master… apa itu cuma perasaanku saja?”

No comments:

DMCA.com Protection Status