Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 17 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 17 Part 1 Bahasa Indonesia

May 03, 2017 Kirz Oiishii

Kisah Cinta [Koibana]

"Woo, Ken-san, tumben lho aku lihat kau keluar keliling-keliling pagi-pagi begini. Apa akhirnya kau dipecat?" (???)

"Nggak lah, tempat itu jugaan nggak bakal bisa bertahan tanpa diriku. Mereka cuma ingin memberiku istirahat sejenak dari pekerjaan, makanya aku dikasih libur sama mereka" (Ayah)

Meskipun pemilik dari toko roti di kompleknya ini hanya datang menyapa nya dengan ramah sambil bersepeda, namun secara diam-diam, Kenichi telah memberi jari tengah kepadanya, mengutuknya. Dan kemudian, mereka berlanjut berbicara sebentar, sebelum akhirnya mengucapkan selamat tinggal.

"Hadeh tuh orang, selalu saja kalau Ia melihat seseorang yang biasanya sibuk, tiba-tiba santai, Ia pasti akan berfikir kalau orang itu telah di PHK. Aku ini juga punya keluarga yang harus kunafkahi disini, jadi mana mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang dapat membuat diriku ini dipecat. Meskipun sebetulnya aku pernah melakukan sesuatu yang seperti itu, tapi nggak mungkin lahh aku biarin diriku ini sampai ketahuan, hehehehe.." (Ayah)

".......Sebagai seseorang yang ayah nafkahi, aku sebetulnya berharap, daripada sembunyi-sembunyi seperti itu, lebih baik ayah nggak melakukan hal yang seperti itu" (Subaru)

Memasukkan kedua tangannya kedalam kantong jaket kaos nya, Subaru, yang dari tadi menunggu di pinggir jalan hingga percakapan ayahnya selesai, mengangkat bahunya. Melihat anaknya berdiri di tempat yang teduh, Kenichi mengangkat kedua tangannya dan berkata 'Oioi', sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,

"Orang yang nggak berani menghadapi tantangan itu nggak akan pernah maju, 'tau. Apakah yang diperbuat olehnya itu buruk, itu urusan belakangan. Yang terpenting, orang itu akan terlihat keren karena telah berani mengambil tantangan, ya kan..." (Ayah)

"Ayah seharusnya sadar, ayah itu sudah hampir tua, tapi masih bisa aja ngomong kaya gitu. Umur ayah itu sudah lebih dari 40 tahun, tapi tetap saja cara berpikir ayah kaya anak kecil" (Subaru)

"Seseorang seharusnya tetap membiarkan sikap kekanak-kanakannya meskipun dirinya telah dewasa. Lagian, kamu saat ini seharusnya memiliki sikap seperti itu. Tapi, tadi kenapa kamu nggak ikut menemani ayah mengobrol dengan orang itu. Memangnya ada masalah apa?" (Ayah)

"Nggak ada apa-apa, aku cuma nggak biasa ngobrol sama orang yang nggak kukenal" (Subaru)

"Lho dia itu bukanlah orang asing, Ayah selalu mampir ke toko rotinya sehabis pulang kerja, membeli beberapa roti darinya. Dan juga, dia itu adik kelas ayah sewaktu SMA, dia lebih rendah 1 tingkat dari ayah pas dulu" (Ayah)

Tapi Subaru tetap saja tidak akan mengenal orang itu meskipun Ayahnya berbicara seperti itu.

Dirinya memang tidak pernah peduli dengan pemilik toko roti, dan Ia juga secara pribadi tidak pernah melewati Toko Roti itu.

Melihat Subaru terdiam, memberi kesan ingin mengakhiri pembicaraan ini, Kenichi mendecakkan lidahnya dan berkata 'Yah,, Ayah memang nggak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap dirimu ini', dan kemudian,

"Di pagi yang cerah dan sejuk ini, wajahmu yang masam itu akan membuat Matahari-sama kesal 'tau. Kamu itu kaya lagi di interogasi saja.." (Ayah)

"Yang membuat diriku terlihat seperti orang yang lagi di interogasi ini Ayah sebetulnya, karena Ayah lah yang telah memaksaku keluar, ya kan...... Aku sudah bilang enggak tapi ayah tetep aja membawaku keluar" (Subaru)

"Meskipun kamu ngomong begitu, tubuhmu itu tetap saja menurut, dan mengikuti permintaanku dengan senang hati, kan? Lihat, kamu itu sebetulnya masih sayang sama Ayahmu ini, Subaru. Tapi, Yakinlah, Ayah juga selalu sayang padamu. Dan pada Mamamu juga... Selalu!" (Ayah)

Sambil melanjutkan berjalan, Kenichi, tertawa dengan sangat bahagia, menepuk-nepuk punggung Subaru dengan keras.

Tapi sesungguhnya, tingkahnya ini membuat Subaru mengangkat kedua alisnya, merasa kalau ada yang aneh terhadap rasa semangat ayahnya yang kali ini.

Ayahnya itu selalu bersikap keras kepala setiap harinya, dan ayahnya yang biasanya, akan terus-terusan sibuk mempermasalahkan percakapan yang baru saja mereka bicarakan tadi, tidak seperti sekarang.

Ia tidak mengerti kenapa, sekarang ini, ayahnya bisa lebih mudah menerima, tidak sekeras kepala biasanya.

――Dan sekarang ini Subaru, merasakan sakit di dadanya.

"Jadi, um......" (Subaru)

"Hum..?" (Ayah)

"Ayah membawaku kemari karena ada sesuatu yang ingin ayah omongin padaku, kan? Karena biasanya ayah nggak pernah seperti ini......... jadi apa sesungguhnya yang ingin ayah omongin? Apa ayah ingin omongin hal yang nggak bisa ayah bahas dirumah?" (Subaru)

Penasaran apakah ayahnya ingin membicarakan hal yang tidak boleh didengar oleh Ibunya, Subaru menanyakan ini.

Karena entah kenapa, Subaru memiliki firasat buruk terhadap apa yang ingin dibicarakan oleh ayahnya itu. Yang pasti, tidak menyenangkan bagi Subaru.

Di percakapan sehari-hari mereka biasanya, Subaru bisa mengabaikan omongan orang tuanya kalau Ia mau, tapi saat diluar rumah, Ia tak bisa melakukan ini. Tapi meskipun begitu, Ia masih bisa meneriaki-nya dan menghilangkan bayangan akan hal yang dibicarakan oleh ayahnya itu dari dirinya.

Karena, kalau sampai Ia mempermalukan dirinya sendiri seperti itu diluar rumah (TLN: mengabaikan orang tuanya), kemungkinan Kenichi akan merubah sikapnya, dan menjatuhkan Subaru――tidak, itu tidak mungkin.

Mempunyai pikiran hingga seperti ini, Subaru menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kalau itu ayahku, Ia akan senang karena telah dipermalukan....." (Subaru)

"Meskipun ayah nggak tahu kamu ini lagi mikirin apa sekarang, tapi kenapa kamu tiba-tiba berkomentar seperti itu? Dan kita sekarang ini cuma ngobrol-ngobrol biasa di bawah terik matahari, 'tau, nggak ada masalah apa-apa" (Ayah)

"Beneran?, Sulit sebenernya untuk percaya pada Ayah........... Yahhh tapi untuk sekarang ini, aku percaya saja padamu, Ayah" (Subaru)

"Haha~ itu barulah anakku. Hmm ngomong-ngomong, Subaru, apa kamu emm.... ada kepikiran pingin punya adik laki-laki atau perempuan gitu?" (Ayah)

"Apa?! Aku ini sudah 17 tahun 'tau!" (Subaru)

Perubahan topik yang drastis ini membuat Subaru terkejut dan berteriak.

Melihat Subaru mengangkat dan menurunkan bahunya, Kenichi tersenyum hingga menunjukkan giginya, berkata 'Ahh bercanda, bercanda',

"Meskipun Mama mu dan Ayah saling cinta satu sama lain, tapi kami nggak ada keinginan untuk memiliki anak lagi. Jadi itu artinya, semua kasih sayang Mama mu dan Ayah, akan diberikan padamu saja. Gimana, kamu senang kan?" (Ayah)

"Ah, tentu saja aku senang. ..........Tapi ayah beneran nggak bohong kan?" (Ayah)

"Oioi, jangan gitu sama ayah dong. Kalau kamu berfikiran seperti itu pada ayahmu, ayah malah jadi berubah pikiran nih.." (Ayah)

Menyadari kalau situasi kali ini tidak bisa dianggap bercanda lagi, Subaru terdiam menatapinya, terhadap apa yang diucapkan diakhir ucapan Ayahnya itu. Dan kemudian, membalasnya dengan senyuman yang seakan-akan dipaksakan, Kenichi sesungguhnya mengerti maksud dari anaknya itu.

――Dan saat ini, Subaru dan Ayahnya telah sampai di sebuah jalan yang indah, yang berjarak sekitar 10 menit dari Rumahnya.

Disana terdapat sungai yang memanjang, di samping jalan yang indah itu. Dan di sepanjang tepi sungainya, terdapat beberapa bunga sakura yang bermekaran, yang menjadi daya tarik ciri khas saat musim semi.

Tapi tentu saja, musim itu telah berakhir, sehingga, bukannya bunga sakura, justru yang kali ini berada disepanjang tepi sungai itu adalah rerumputan yang hijau, yang bergoyang dihembuskan oleh angin, dibawah terik matahari.

Telah menghabiskan sarapan paginya, dan ditengah jam-jamnya sekolah, Subaru, yang tersiksa oleh rasa bersalah dan rasa khawatir akan berlalunya waktu, telah dibawa ketempat ini oleh Kenichi.

Sejak awal, saat Ia meninggalkan rumah, Ia khawatir kalau dirinya nanti dibawa ke sekolah melalui jalan ini.

"Kamu dari tadi kelihatan masam terus ya, sejak ayah ingin mengajakmu datang kemari. Tapi nggak usah khawatir, kita kesini bukan mau kesekolah, tapi kita kesini untuk melihat-lihat di tepi sungai disana" (Ayah)


(TLN: Ini bukanlah ilustrasi official, jadi sedikit berbeda dari cerita yang diceritakan Tappei, tapi setidaknya bisa menggambarkan latar kejadian cerita kali ini :v)

Berhasil membaca pikiran anaknya, Kenichi secara diam-diam telah membawa anaknya kemari.

Aroma harum tanaman dan rerumputan tercium keluar dari sungai itu, dan jika seseorang menjijit sedikit, Ia akan dapat melihat dengan penuh, pemandangan sungai yang indah dari balik pagar yang terdapat di tepi jalan disana.

"Dulu disini nggak ada pagarnya. Ayah dulu sering main-main disini bareng teman-teman ayah, benar-benar menyenangkan pada saat itu. Heii, apa kamu ingat sama 'Ikeda'? Suatu hari angin topan datang kemari, dan kami saat itu ingin melihat apa yang terjadi pada sungai, tapi na'as, orang itu tiba-tiba jatuh kesungai dan terbawa oleh arus........ Untung saja pada saat itu ada seorang paman yang baru saja mendapatkan Izinnya sebagai penjaga pantai lewat, Ikeda kemungkinan saja sudah mati kalau saja nggak ada paman itu saat itu" (Ayah)

"Berarti pagar ini ada, berkat ulahnya Ayah dan orang yang bernama Ikeda itu kan?" (Subaru)

"Yaaah nggak juga........ ett tunggu, kayanya ucapanmu itu ada benernya juga" (Ayah)

Sambil menempatkan kedua tangannya, bersender diatas pagar dan memandang kearah sungai, Kenichi, mengingat-ngingat kejadian masa lalunya, sambil memiringkan kepalanya. Dan sementara dibelakang Ayahnya, Subaru, yang terlihat bosan, hanya melihat keadaan disekitarnya.

Karena hari ini masih pagi, dan juga hari ini adalah hari sibuk, wajar saja kalau tidak ada banyak orang disekitar sini. Atau, lebih tepatnya, tidak ada satupun orang lain ditempat ini kecuali Subaru dan Kenichi. Dan kenyataannya, memang tempat ini sangat jarang didatangi orang lain. Dan jika ada seseorang berkeliaran disekitar tempat ini, orang itu kemungkinan penjaga dari tempat ini, atau seseorang yang benar-benar mencintai tempat ini.

Dan disaat Subaru memiliki pikiran seperti ini, Ia mendengar suara hentakan kaki dari seseorang yang berjalan di rerumputan.

"Ooo? Siapa disana, Ken-bo kah itu? Wah apa ini, apa kau sampai saat ini masih saja ingin bermain-main di sungai ini lagi?" (???)
(TLN: Buat yang lupa, -bo sebutan yang dipakai seorang nenek atau kakek, ketika mereka memanggil seseorang dengan kasih sayang, dan Ken itu Kenichi)

"Wah siapa itu......, Ahh rupanya paman penjaga tempat ini, mereka masih saja memakaimu? Sungguh Aku benar-benar nggak nyangka, tapi, hari ini aku memakai celana-pendek pantaiku, bukanlah celana-pendekku untuk pergi kesungai, jadi aku nggak mungkin nyebur kesana, meksipun aku meng-inginkannya" (Ayah)

"Duh nggak usah ngaco dah kau itu. Apa yang beda jugak dari celana-pendek pantai dan celana pendek untuk ke sungai, semua itu hanyalah bualan omong kosong dari seseorang yang ingin menyebur ke sungai dengan celana pendeknya. Tapi ngomong-ngomong, sudah lama ya Aku tidak melihatmu" (Pria tua)

Memanjat keluar dari tepi sungai, dari balik pagar pembatas disana, pria tua itu menyapa Kenichi dan menjabat tangannya. Ia benar-benar terlihat seperti seorang kakek yang baik hati, dan saat ini, Ia sedang mengenakan seragam yang berwarna hijau tua. Dilihat dari percakapan tadi dan logo yang tertera di punggung seragamnya, Ia pasti penjaga dari sungai ini.

Dan ditambah lagi, kalau ternyata Ia mengetahui kejadian dimana Kenichi masih bermain di sungai ini, pasti orang ini sudah menjadi veteran dalam hal ini.

Karena sudah lama mereka tidak bertemu, mereka berdua saat ini tengah tertawa dan berbincang-bincang, lalu kemudian, pria tua itu menepuk kedua tangannya, dan mengatakan,

"Ooh iya, karena kebetulan kau disini, apa yang terjadi dengan temanmu itu, Ikeda? Anak itu sering sekali hanyut, bahkan jaring ku habis cuma untuk menangkapnya" (Pria Tua)

"Oh si brengsek Ikeda itu telah menang di taruhan balap kuda 10 tahun yang lalu, dan kemudian Ia membawa uangnya yang banyak itu ke Thailand, dan sejak saat itulah aku nggak pernah berbicara lagi dengan dirinya. Ia cuma mengirim surat kepadaku, seperti ucapan Selamat tahun baru, ucapan selamat hari musim semi, selamat hari musim dingin, selamat natal, selamat hari ayah, selamat hari ibu, dan surat-surat lainnya" (Ayah)

"Laaah berarti tuh orang masih sering bicara denganmu kan, bukannya nggak pernah bicara lagi denganmu..." (Subaru)

Tak dapat menahan diri, Subaru menggurutukan apa yang dikatakan Ayahnya itu. Dan kemudian, mendengar gerutunya yang pelan, pria tua itu menoleh kearahnya dan mengangkat kedua alis matanya seakan-akan terkejut menyadari kehadiran Subaru disini.

"Oooo, rupanya kau kemari bersama seorang anak muda yaah....? Atau jangan-jangan dia ini..." (Pria tua)

"Aaaah, iya, dia ini anakku. Eh maksudku, 'ANAKKU YANG TERCINTA'" (Ayah)

"Oooh, begitu kah!! Kurasa dia ini benar-benar mirip dengan dirimu waktu masih kecil...... eh nggak, nggak terlalu yah. Atau mungkin, Ia lebih mirip seperti Ibunya....... iya?" (Pria Tua)

"Haha~ Iya. Orang-orang memang selalu berbicara seperti itu. Iya memang, terutama di kedua matanya" (Ayah)

Hal yang paling menonjol di wajahnya itu adalah kedua mata Sanpaku nya. Dari kedua mata Ibunya yang tajam itu lah, sifat Ibunya terlihat di dalam dirinya.

Memperhatikan hal yang dikatakan Kenichi, pria tua itu berjalan mendekati Subaru.

"Oh begitu ya.., tapi sungguh aku benar-benar kaget. Nggak nyangka kalau Ken-bo sudah punya anak sebesar ini, waktu memang berjalan begitu cepat yah. Dan itu artinya, diriku ini sudah semakin tua. Jadi, kalaupun Ikeda terhanyut disini lagi, aku sudah tak sanggup menyelamatkan dirinya lagi" (Pria Tua)

"Entah kenapa aku ragu kalau orang yang bernama Ikeda itu akan bermain di tempat ini lagi, dan membuat dirinya terhanyut lagi..." (Subaru)

"Iyaa saya sendiri juga berharap begitu.... tapi kau tahu nak, mereka berdua itu suka berbuat usil. Terutama ayahmu ini, waktu dulu Ia pernah membuat masalah besar di tempat ini. Oh ya ngomong-ngomong, apa yang membuatmu datang kemari di jam segini?" (Pria Tua)

"....Eeeh,, yaah.." (Subaru)

Subaru mengucapkan ini dengan penuh kebingungan. Mendengar ini, pria tua itu terlihat memikirkan sesuatu, dan kemudian mengerutkan dahinya. Dan disaat Ia masih mengerutkan dahinya yang keriput,

"Hm? Tentu tidak masalah kalau Anaknya Ken-bo datang kemari..... tapi bukankah sekarang ini hari Senin?. Kenapa kau masih saja santai-santai di tepi sungai bersama ayahmu?" (Pria Tua)

"――!" (Subaru)

Ditanyakan oleh pertanyaan yang benar-benar tidak ingin didengarnya, Subaru pun terkejut.
Dan berikutnya yang terjadi, rasa sakit kepala yang sama, saat diruangannya waktu itu, terasa lagi. Tanpa disengaja, akibat rasa sakit yang amat menyiksa itu, kedua tangannya bergerak sendiri memegang kepalanya dan menekan kedua matanya, dan kemudian, Ia berteriak 'Ahh maaf permisi!', membelakangi pria tua itu lalu berlari.

"Ah, oooh, hei, Subaru!! Maaf, paman-chan. Aku akan jelaskan semua ini padamu nanti saat bertemu denganmu lagi" (Ayah)

"Ah, oh-oohh... mungkinkah diriku ini telah mengatakan hal yang tidak pantas kepadanya. Sampaikan permintaan maafku ini pada anakmu nanti" (Pria Tua)

Sayangnya, ucapan itu sama sekali tidak direspon dengan serius oleh Kenichi.

Dan bagaimanapun juga, Subaru hanya ingin menghilangkan rasa sakit di kepalanya, melarikan diri dari tempat yang membuat jantungnya berdebar-debar, berlari ke tempat yang jauh dari sungai itu.

"Sebetulnya paman nggak perlu meminta maaf. ――Jugaan itu akibat masalah yang dibuat oleh dirinya sendiri" (Ayah)

Dan kenichi, menggumamkan ini dengan pelan dalam nafasnya.


※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

No comments:

DMCA.com Protection Status