Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 17 Part 2 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 17 Part 2 Bahasa Indonesia

May 04, 2017 Kirz Oiishii

Kisah Cinta [Koibana](Part 2/2)



※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※


"Nih. Cola dingin yang dipenuhi dengan rasa cinta. Silahkan dikocok dulu biar makin mantap rasanya....... yahh setidaknya begitulah yang ayah harapkan, tapi kayanya nggak ngaruh ya.." (Ayah)

"......Belum pernah ada kejadian dimana sesuatu yang dipenuhi dengan rasa cinta, keluar dari sebuah mesin minuman otomatis. Tapi, makasih ayah" (Subaru)

Menerima kaleng minuman yang diberikan Ayahnya, dan merasakan dinginnya minuman itu di telapak tangannya, Subaru, menggerakkan jarinya menuju pembuka-kaleng minuman itu. Dan, dengan sangat hati-hati, menutup kedua matanya, mengarahkan kaleng itu ke lokasi yang jauh dari orang lain, dan kemudian Ia membuka penutup-kaleng minuman itu dengan jarinya―― tiba-tiba busa dan cairan secara bersamaan meledak keluar dari lubang pembuka-kaleng itu, yang membuat kaleng ditangannya kehilangan sepertiga dari beratnya.

"Oioioi, kok bisa, sial tipuan ayah gagal. Padahal ayah sudah memberi tahu untuk dikocok dulu, membuatmu berpikir kalau ayah belum mengocoknya, bentuk dari tipu-daya-muslihat ayah, tapi bagaimana bisa, semua itu gagal-!" (Ayah)

"Duhh ayah dah sering kaya gini, apa ayah lupa, sudah berapa tahun aku mengenal ayah. Jadi aku sudah tahu kalau sebetulnya ayah belum mengocoknya...... Ahh, lengket.." (Subaru)

Menggoyang-goyangkan sisa-sisa cola yang masih membasahi tangannya, Subaru kemudian dengan pelan memiringkan kaleng cola itu ke mulutnya. Sensasi dari soda yang menyegarkan pun masuk kedalam mulutnya, membasahi dan menghilangkan rasa dahaga di tenggorokannya.

Andai saja sakit didalam dadanya bisa di cuci dengan minuman ini juga..

"Jadi, apa dirimu sudah tenang?" (Ayah)

".....Sulit untuk mengatakannya" (Subaru)

Menjawab pertanyaan itu, Subaru menjatuhkan badannya pada kursi didekatnya, dan kemudian menghela nafas sambil menggerakkan bahunya. Berdiri didepan anaknya, sambil meneguk minuman cola nya, Kenichi menutup satu matanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Setelah berlari menjauh dari sungai itu, sekarang ini, Subaru dan ayahnya berada di taman bermain anak-anak yang lokasinya tidak begitu jauh dari sungai itu. Dan tentu saja, tidak ada satupun seseorang saat ini disana, ataupun seorang ayah yang menghabiskan hari liburnya merana di atas ayunan ataupun sejenisnya.

"Entah kenapa, ayah merasa, meskipun ayah bermain ayunan sekarang, ayah nggak bakalan bisa tertawa dengan bahagia, diatas ayunan itu. Subaru, apa yang akan kamu lakukan. Kalau ayah menunggang diatas ayunan itu nantinya" (Ayah)

"Aku akan mengambil foto dengan hapeku dan mengunggahnya di Twitter. Dan isi tweet nya 'Ayahku terbebaskan dari beban berat dihatinya'" (Subaru)

"Oooh, Twitter. Ayah juga saat ini punya Twitter 'tau. Ayah sudah mem-follow banyak orang, dan telah di follow banyak orang juga, rame banget dah di twitter ayah sekarang" (Ayah)

Mendengar ayahnya mengucapkan ini dengan senang, Subaru melirik kearah Kenichi, sebelum akhirnya Ia menghela nafas dengan lesu seolah-olah mencari topik lain untuk di bicarakan lagi. Apapun sesungguhnya bisa, selama topiknya itu tidak ada hubungan dengan bendungan sungai itu―― Kalau Ia membicarakan hal yang berhubungan dengan tempat itu lagi, Ia hanya akan membuat rasa sakit di tengkoraknya (TLN: Tulang kepala) semakin parah lagi.

Semakin lama rasa sakit di kepalanya ini membuat dirinya khawatir, tapi seperti saat dirinya menanggapi tingkahnya yang buruk, Ia hanya memegang kepalanya dan kemudian, tidak memperdulikan rasa sakit itu sekuat yang Ia bisa.

".......Ngomong-ngomong apa yang membuat ayah lama tadi, padahal cuma membeli minuman di mesin penjual minuman otomatis" (Subaru)

"Hum? Nggak ada apa-apa. Tadi cuma kebetulan ada cewe sekolahan yang membolos, lagi nongkrong didepan mesin penjual minuman otomatis. Ayah memberinya nasihat untuk kembali ke sekolah, membelikannya minuman, dan saling bertukar email" (Ayah)

"Aku benar-benar nggak percaya bagaimana bisa Ayah mendapatkan email dari cewe sekolahan secepat itu" (Subaru)

Bisa mendapatkan email dari seorang gadis sekolahan seperti sedang pergi kekamar mandi lalu keluar, Ia benar-benar tidak dapat berkata apa-apa terhadap kehebatan Ayahnya itu. Melihat Subaru seperti ini, Kenichi memiringkan kepalanya, mengatakan, 'Lah?'

"Alamat Email itu, bukannya sudah biasa ya orang-orang akan menukarkannya. Dan juga, kau tahu, jumlah nomer cewe sekolahan di daftar kontak hape ayah sekarang sudah ada 3 lhoo" (Ayah)

"Kalau seandainya aku menyimpan banyak nomer kontak cewe dihapeku, mungkin jumlah digit dari nomernya itu bakal lebih dari 3, tapi ayah bilang, 'jumlah nomer cewe sekolahan di kontak hape ayah sudah ada 3 sekarang', apa pengertian kita tentang kalimat 'jumlah nomer' berbeda disini..............  ahh sama juga, ayah nggak ngelakuin hal aneh-aneh kan ke cewe-cewe sekolahan yang ayah kenal itu, yang berujung membuatmu muncul di berita-berita di televisi, nggak kan?" (Subaru)

"Oi kenapa kamu berfikiran kaya gitu pada Ayahmu ini" (Ayah)

Kenichi mengangkat kedua tangannya terhadap kecurigaan Subaru, dan mengangkat kedua bahunya untuk menunjukkan keterkejutannya terhadap ucapan anaknya itu,

"Ayah menyimpan kontak mereka bukan berarti ingin berbuat nakal pada cewe-cewe sekolahan itu. Target cinta ayah sudah ayah tentukan sejak dulu, hasrat 'Sensual' ayah hanya tertuju pada keluarga ayah!" (Ayah)

"Kalau ayah mengkategorikannya 'keluarga', berarti aku juga termasuk dong! oi!" (Subaru)

".......Yah, karena ayah mencintaimu. Kenapa nggak, selama ada kesempatan, ya nggak?" (Ayah)

"Anjir amit-amit!! Apa-apaan dah ayah ini!" (Subaru)

'HAHAHAAHA', Kenichi pun tertawa setelah Subaru meneriaki ucapan ini padanya.

Meskipun tertawanya itu terlalu keras hingga terdengar sangat bising ditelinga, tapi yang dilakukannya itu tidak memberi rasa sakit pada dada Subaru. Kenyataannya, tingkahnya sekarang ini memang sesuai dengan Kenichi yang seperti biasanya.

Sikapnya itu sangat tidak normal, melewati-batas, terlalu-dramatis, sesuatu yang bisa membuat orang merasa jijik padanya, tapi anehnya, beberapa orang masih bisa menerima sikapnya ini, karena beberapa alasan.

Hari ini, adalah pertama kalinya dirinya berjalan-jalan bersama Ayahnya setelah sekian lama, dan di hari ini, Subaru menyadari ini.

Hanya dengan berjalan-jalan keluar, banyak orang telah berhenti untuk menyapa ayahnya. Tidak peduli dimana Ia berada, pasti ada saja orang yang datang menyapa dirinya, ataupun mengobrol tentang kenangan masa lalu, dan meskipun Ia baru pertama kali menjumpai orang itu, Ia dapat dengan mudah bicara dengan orang itu. Subaru benar-benar takjub dengan sikap-mudah bergaul ayahnya ini.

Berdenyut-denyut, rasa sakit kembali menyerang pelipis kedua matanya, dan nafasnya kembali terengah-engah.

Rasa sakitnya sudah tak dapat tertahan lagi, justru kali ini, dirinya sudah mencapai batasnya.

Seakan-akan tengkoraknya sedang ditusuk-tusuk oleh jarum, Ia sudah tak dapat lagi mengabaikan rasa sakit pada kepalanya ini. Tapi, 'Rumah Sakit' sekalipun, sepertinya tidak tahu harus berbuat apa dengan rasa sakitnya ini.

Meskipun Ia sendiri tidak tahu penyebab rasa sakit ini secara ilmiah, tapi setidaknya Subaru tahu apa penyebab rasa sakit ini muncul.

Apa lagi kalau bukan 'sesuatu' yang membuat rasa emosi muncul pada dadanya, 'sesuatu' yang membuat dadanya terasa sesak.

"Kamu sepertinya lagi sakit ya Subaru. Mau nggak ayah gendong kembali kerumah?" (Ayah)

"Aku nggak perlu digendong, ataupun dibawa pulang kerumah....... jugaan akan sama saja meskipun aku pulang" (Subaru)

Lebih tepatnya, jika Ia melihat ibunya dirumah, yang ada malah kondisi Subaru semakin parah.

Ia sudah mulai mengerti apa yang menyebabkan rasa sakit itu muncul, dan apa yang membuat rasa sakit itu semakin parah. Jadi, kalau memang yang Ia pikirkan itu benar, maka saat Ia menyatukan kembali Kenichi bersama Naoko nanti (TLN: Pulang kerumah), rasa sakit itu akan terasa semakin ekstrim. Dengan kata lain,

"Rupanya, tubuhku sendiri telah menceramahiku.." (Subaru)

Berusaha berlari dari rasa bersalahnya, rupanya tubuhnya sendiri menolak keinginannya itu.

Dengan menyiksa dirinya didalam kamarnya, karena membiarkan waktu lewat begitu saja. Dengan tak henti-hentinya memberikan rasa khawatir dan rasa sakit yang amat mendalam, bahkan sampai saat ini.

Memberikan perasaan tidak enak pada hati Subaru, seakan-akan saat ini seseorang sedang mengomeli Subaru dari dalam tengkoraknya, diomeli karena kenapa dirinya bisa seperti sekarang ini.

――Aku tidak tahu siapa kau sebetulnya, tapi memangnya tahu apa kau tentang diriku, hingga berusaha menceramahiku seperti ini.

"Em.. Ano, Subaru. ――Apa sudah ada seseorang, yang kamu suka?" (Ayah)

Subaru secara tiba-tiba diserang oleh topik ini lagi.

Ini adalah pertanyaan yang sama sewaktu ditanyakan ayahnya, di ruangan kamarnya, dari awal pertanyaan ini memang pertanyaan yang tidak lucu. Saat pertama kali mendengarnya, Ia hanya tersenyum menyengir dan membantahnya, tapi kali ini, saat kedua kali mendengarnya, entah kenapa Ia menjadi merasa gelisah.

Kemudian diikuti oleh rasa sakit di kepalanya, Ia dengan kesal, memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama, tetapi――

"――Subaru" 

Secara tiba-tiba, entah darimana, Ia mendengar suara yang merdu, yang meramaikan hatinya.

"――?" (Subaru)

Melihat keatas, Ia mencari sumber dari suara itu. Tapi sayangnya, kedua matanya tetap saja tidak menemukan pemilik dari suara itu, orang lain yang berada di taman ini, selain dirinya, hanyalah ayahnya, Kenichi, yang saat ini berdiri didepan dirinya.

Melihat gerakan tiba-tiba Subaru, Kenichi juga saat ini menaikkan kedua alis matanya, terkejut oleh tingkah Subaru,

"Woo kenapa? Kamu kelihatan kaya habis dipanggil cewe cantik secara tiba-tiba aja, dan cewe itu nggak ada disini" (Ayah)

"Kalau memang benar begitu kejadiannya, aku nggak akan bisa menjelaskannya pada ayah...... Tapi barusan, apa ada seseorang memanggilku? Hmm.. Ayah nggak pernah coba-coba untuk latihan, mempelajari bagaimana cara bersuara seperti seorang gadis cantik kan?" (Subaru)

"Ayahmu ini ahli dalam segala trik, tapi kecuali yang satu itu. OKEEH, ayah akan mulai mempelajarinya dan segera memperlihatkannya padamu, Kamu bisa mendengar nya dalam waktu 1 bulan lagi atau lebih" (Ayah)

"Oi, aku nggak ada memintamu untuk mempelajari itu..... Duh, apa-apaan sih Ayah ini" (Subaru)

Membalas ucapan ayahnya dengan ucapan ini, Subaru mengalihkan pandangannya dari Ayahnya, dan memutar kembali suara yang didengarnya tadi didalam pikirannya. Suara itu terdengar sangat merdu, namun suara itu membuat Subaru menjadi kesal, karena suara itu seolah-olah telah memukul dirinya, tetapi justru karena suara itu terdengar, Subaru jadi bisa lupa dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya.

Dari tempat yang tidak Ia tahu, suara yang menyelamatkan dirinya itu datang――seperti suara merdu dari sang dewi, suara itu menyerang rasa penderitaannya, menenangkan dirinya, dan bahkan nafasnya saat ini sudah sedikit lebih tenang.

"Jadi umm, tentang pertanyaan Ayah yang sebelumnya. Apa ada, gadis yang kamu suka?" (Ayah)

"........Kenapa Ayah ingin menanyakan itu sih. Memangnya setelah tahu jawabannya, ayah mau ngapain. Meskipun ada dan kemudian aku memberitahumu Namanya, belum tentu Ayah kenal dengannya" (Subaru)

"Siapa yang tahu, bisa saja ternyata Ayah memiliki email dari gadis yang kamu suka itu, kan" (Ayah)

"Meskipun gadis yang ku suka emailnya ada pada Ayah, rasa cinta nya pada Ayah jugaan semakin lama akan semakin dingin" (Subaru)

Membalas ucapan Ayahnya dengan pendapat itu, Kenichi cemberut dan mengatakan 'Kok kamu begitu sihh..'. Melihat sikap ayahnya ini yang tidak cocok dengan seorang pria yang sudah hampir tua, Subaru meneguk sisa air di kaleng minumannya,

"Ayah sebetulnya nggak perlu basa basi gini dah. Kenapa nggak langsung aja ngomong to the point padaku. ......Seperti, 'Kenapa aku nggak sekolah hari ini'" (Subaru)

"Yahh Ayah disini berusaha peka terhadap perasaanmu 'tau, mana mungkin ayah bisa langsung menanyakan itu padamu. Kamu ini benar-benar nggak peka ya.., haha~" (Ayah)

Tersenyum dengan senyum yang dipaksakan, sambil menyengir, Kenichi melanjutkan berkata 'Yahh Tapi',

"Tapi sebetulnya ayah ingin menanyakan itu sih.." (Ayah)

"Yah sikapku itu memang buruk yah....... seharusnya Aku nggak membolos seperti sekarang ini" (Subaru)

"Apa yang kita pikirkan itu tidak selalu benar. Sesuatu yang awalnya kita pikir buruk, jika kita pikir lebih dalam lagi, kita akan menemukan hal-hal baru, yang terlewatkan, yang tidak terpikirkan oleh diri kita pada awalnya" (Ayah)

Melihat Subaru mengalihkan pandangannya dan berkomentar seperti itu, Kenichi meneguk kaleng minumannya, dan duduk disamping anaknya sambil menceramahinya ini. Kursi itu pun berbunyi, dan hembusan angin tertiup melewati mereka berdua.

Dan saat ini, mereka berdua duduk berdampingan, dengan kondisi masing-masing memandang kearah yang berbeda.

"Ayah nggak tahu bagaimana menurut orang-orang di seluruh dunia, tapi menurut ayah, Sekolah bukanlah segalanya. Sebetulnya kenapa ayah bisa berfikiran seperti itu, karena ayah sendiri nggak terlalu serius sama sekolah. Bahkan Ayah nggak ikut perayaan hari kelulusan ayah pas itu, Jadi, adik ayah yang membawakan sertifikat kelulusan ayah" (Ayah)

"Aku sudah sering dengar cerita itu. Tante lebih muda 2 tahun dari umur ayah, dan Ia bersekolah di sekolah yang sama dengan ayah, jadi saat Ia lulus, pihak sekolah memberikan sertifikat ayah juga kepadanya, karena Ayah belum mengambil sertifikat itu. Duhh gurita ini sudah terlalu banyak bersarang di telingaku, ayah..." (Subaru)
(TLN: Gurita - タコ(Tako) , adalah ekspresi dalam bahasa jepang yang dapat berarti 'Hal yang sering diucapkan')

"Yah.., kamu akan terus mendengarnya hingga ikan cumi-cumi bersarang di telingamu. Oke jadi, karena menurut ayah begitu, ayah nggak masalah kalau kamu membolos sekolah. Tapi waktu ayah masih seumuran denganmu, saat ayah melakukan hal yang kamu lakukan ini, ayah merasa kaya ketinggalan sesuatu.." (Ayah)

Sepertinya saat ini Kenichi memandang kearah tempat yang sangat jauh disaat dirinya mengucapkan ini. Melirik ke samping, kearah ayahnya yang berekspresi dengan sangat serius, saat ini Subaru merasa kalau ayahnya itu memang benar-benar curang.

Ia biasanya bertingkah bodoh, tapi ditempat seperti ini, Ia malah menunjukkan sikap yang bahkan bisa membuat seseorang bertanya 'kemana perginya si badut itu?'

"Tapi tetap saja hal itu nggak masalah.... ya kan? Sekarang ini rata-rata orang bisa hidup hingga 80 tahun. Dalam 80 tahun, menyia-nyiakan satu atau dua hal bukanlah masalah yang besar. Mengejar ketertinggalanmu yang kamu tinggalkan saat masih muda, tidaklah sulit. Contohnya lihatlah ayahmu ini, penghasilannya sekarang lumayan cukup, kan" (Ayah)

Sambil menggerak-gerakkan jarinya, Kenichi tersenyum dengan senyuman yang terlihat sangat menjijikkan.

Tanpa menoleh kearah Subaru, yang dari awal tadi terdiam mendengarkannya, Kenichi melipat kedua tangannya dan menganggukkan kepalanya,

"Dalam Hidup, kita akan selalu menemui masalah yang nggak selalu semua masalah itu dapat dengan mudah kita selesaikan. Ayah sering mengalaminya, bahkan Ayah sampai berlari-lari seperti seekor ayam, berusaha mencari solusi dari masalah itu, Hmmm... mungkin dengan berguling-guling didalam ruangan bisa juga bikin lebih mudah menemukan solusinya. Baiklah, silahkan kamu renungkan semua omongan ayah saat ini. Tapi kalau kamu mulai menyerah lagi, mungkin ayah akan menasehatimu lagi" (Ayah)

"......Kenapa" (Subaru)

"Hm?" (Ayah)

"Kenapa hari ini ayah tiba-tiba terpikirkan untuk memberitahuku semua ini...... nggak ada yang spesial kan dari hari ini, dengan hari yang lainnya. Hari ini cuma hari bersejarah bagi masakan kacang-hijau mama" (Subaru)

"Haha~ kacang-kacang itu benar-benar memenuhi piringmu yah.." (Ayah)

Tenggorokan Subaru saat ini mulai terasa kering kembali. Sambil terengah-engah, Subaru kelihatan tak sabar ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya itu. Menyadari ketidaksabaran Subaru, Kenichi memegang dagunya sambil berucap, 'Hm~~m'

"Ayah sendiri juga bingung. Apa mungkin karena hari ini ayah dikasih libur, atau mungkin karena tadi pagi, Ayah secara nggak sengaja kepikiran ini, saat ayah menggosok-gosok punggung ayah, atau mungkin karena hari ini adalah hari yang bagus bagi seseorang yang memiliki bintang Aquarius, atau mungkin karena wajahmu pagi ini terlihat........ nggak terlalu sih, terlihat, lebih baik dari sebelumnya.." (Ayah)

"Wajahku, jadi lebih baik?" (Subaru)

"Nggak bukan gitu maksud ayah, entah kenapa, kelihatan lebih keren aja. Tapi kondisinya tetap sama seperti biasanya, tetap terlihat menakutkan dengan kedua mata Mama mu ituh" (Ayah)

Saat ini Kenichi menoleh kearah Subaru, memperlihatkan ekspresi menyeramkan diwajahnya, sambil menunjuk kearah kedua matanya dengan jarinya, lalu melanjutkan berkata, 'Bukan hanya itu', Ia kemudian menggerakkan jarinya itu ke arah Subaru,

"Ayah nggak tahu apa yang telah terjadi, tapi entah bagaimana, kamu hari ini nggak kelihatan seperti seseorang 'yang menghabiskan' waktunya mengurung diri didalam kamarnya. Kata Mama mu, kemarin kamu tetap berdiam diri dikamarmu, nggak keluar kemana-mana, jadi seharusnya kamu sekarang ini terlihat seperti seseorang yang menghabiskan waktunya mengurung diri didalam kamarnya, kan" (Ayah)

"...........Uh, bener juga. Mungkin aku jadi begini, karena aku habis berkelana di dunia internet" (Subaru)

"Kalau seseorang bisa berkembang dengan cara seperti itu, maka jumlah cewe-cewe tersesat, yang curhat tentang masalah hidupnya di Twitter Ayah, akan berkurang, bukannya bertambah..." (Ayah)

"Jadi rupanya ayah melakukan hal itu juga ya....." (Subaru)

Meskipun Ia takjub terhadap hal yang telah dilakukan ayahnya, Ia tidak ingin Kenichi berpindah dari topik pembicaraannya yang awal.

Karena, Subaru benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Kenichi katakan tadi.

Tapi memang benar, sesuai yang dikatakan Ibunya, Subaru yang kemarin, sama seperti Subaru yang sebelum-sebelumnya, hanya menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan.

Sehingga, tidak mungkin hanya dalam rentang satu hari, dirinya ini dapat berubah seperti yang dipikirkan ayahnya....

"Hmm ayah, mungkin itu cuma perasaan ayah saja, atau mungkin ayah kemarin-kemarin nggak begitu memperhatikanku, dan kaget melihat diriku sekarang" (Subaru)

"Bagian terakhir dari ucapanmu itu terasa pedih sekali 'tau! Kamu tahu, ayah itu selalu menggunakan foto senyum menyeramkanmu sewaktu masih kecil, sebagai screensaver di hape ayah, jadi mana mungkin ayah bisa lupa dengan wajahmu yang biasanya" (Ayah)

"Berarti sejak kecil kedua mataku ini sudah kelihatan serem yah.." (Subaru)

Tapi, apa yang dikatakan Kenichi itu, menurut Subaru salah.

Apa yang terjadi 'kemarin', juga terjadi 'hari ini'. Subaru tetap menghabiskan hari-harinya tanpa melakukan perubahan sama sekali.

Karena, Ia tak masalah untuk menjadi orang yang seperti ini, dan Ia memang menginginkan dirinya seperti ini. Dan jika Ia terus begini, maka suatu saat, Kenichi dan Naoko juga akan menyadarinya.

――Bahwa sesungguhnya, inilah yang diinginkan oleh anak mereka.

"――Dddagh!" (Subaru)

Disaat Ia berpikiran seperti ini, rasa sakit menyerang dirinya lagi, seakan-akan percikan api sedang dipercikan di hadapan kedua bola matanya.

Seakan-akan dirinya telah dipukul oleh seseorang, seolah-olah otaknya dikeluarkan dari dalam tengkoraknya, seolah-olah tengkoraknya digoreskan oleh sesuatu, dan bola matanya diputar-putar, sehingga saat ini, tubuhnya benar-benar terasa hancur.

Jantungnya berdetak kencang lagi, seperti sebuah bel yang dibunyikan, bahkan Ia bisa mendengar denyut nadi dari jantungnya itu melalui darah-darah yang mengalir didalam telinganya. Penglihatannya menjadi samar, Dunia seakan terbelah menjadi dua, kemudian terbelah lagi menjadi tiga.

Rasa mual dari perutnya semakin melonjak, dan saat ini Ia merasakan sumber dari semua rasa sakit ini, yang terasa panas, yang berada jauh didalam dadanya.

Subaru saat ini benar-benar sedang disiksa oleh sumber yang terasa panas itu, seakan-akan sedang dihukum oleh hal itu.

"Oioi, kamu kelihatan parah banget ini. Apa kamu baik-baik saja, Subaru?" (Ayah)

Tidak dapat membiarkan begitu saja kondisi mengerikan yang dialami anaknya, Kenichi memegang bahu Subaru dengan ekspresi yang begitu khawatir. Merasakan sentuhan dari tangan ayahnya, Subaru sadar dan melihat kearah wajah ayahnya, disaat keringat jatuh dari dahinya,

"Aaaah, nggak, nggak apa-apa. Aku cuma agak, pusing..." (Subaru)

"――Tapi, kepalamu itu kan sebetulnya pusing banget"

"――!?" (Subaru)

Sekali lagi, Subaru dikejutkan oleh suara itu lagi.

Terdengar begitu khawatir dan lembut, suara itu terdengar penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Jantung nya yang berdebar-debar, telah menjadi tenang akibat suara itu, dan suara itu juga menghilangkan seluruh rasa penderitaannya, penderitaan dari rasa sakit dari tulang yang digoreskan, rasa panas di dadanya, dan lainnya lagi.

Suara apakah ini. Kenapa rasa sakit dan penderitaannya berlari kabur disaat suara ini terdengar.

Suara ini terdengar seperti Suara yang Ia kenal. Seperti suara dari seseorang yang Ia sangat rindukan. Seseorang yang telah, Ia kejar dan terus Ia kejar, hingga dapat memeluk erat dirinya, dan setelah itu, Ia kehilangan dirinya lagi, tapi pada akhirnya, Ia berhasil membawa kembali orang itu dalam pelukannya lagi――

"Terima Kasih, Subaru"

"Kamu...." (Subaru)

Rambut silver nya yang indah itu menari-nari tertiup angin. Kedua matanya yang elok itu menatap kearah wajah Subaru, dan setiap suara yang keluar dari bibirnya itu, dipenuhi dengan cinta dan kerinduan.

"Karena telah menolong diriku"

Ada apa ini, Ada apa ini, Ada apa ini, Ada apa ini, Ada apa ini, Ada apa ini.

Siapa kamu, Siapa kamu, Siapa kamu, Siapa kamu, Siapa kamu, Siapa kamu sebenarnyaa.

――Apakah Ia yang menyebabkan rasa penderitaan ini? Rasa sakit ini, penderitaan yang begitu pahit, yang membuatku ingin muntah, apakah semua ini disebabkan olehnya?

"――Subaru"

Ia tak dapat bernafas. Tenggorokannya terasa panas. Ia merasa ada sesuatu yang sedang berbicara dengannya, dibalik kesadarannya.

"Aku memang nggak bisa berbuat apa-apa lagi"

Jari-jarinya saat ini gemetaran. Kedua kakinya saat ini kehilangan kekuatan. Nafasnya saat ini terengah-engah, seakan-akan paru-parunya sedang merinding.

"Subaru selalu saja yah menutupinya dengan bersikap seperti itu"

Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar, menahan isak tangisnya, Subaru, merasakan gelombang panas di air mata yang berkumpul di kedua matanya――

"Kenapa kamu ingin mengolongku?"

――Tentu saja jawabannya sudah ada didalam hatinya.

Dan disaat sekarang Ia melihat gadis itu, semua rasa kegelisahan yang berputar-putar didalam diri Subaru telah menghilang. Tengkoraknya yang terasa seperti diremas, perasaan mual yang amat sangat tinggi, pusing yang membuat dunia terlihat seakan-akan terbelah menjadi dua, jantungnya yang berdebar-debar akan kepanikan dirinya, semua itu seketika menghilang, seolah-olah memberi jalan bagi Natsuki Subaru.

Mengangkat pandangannya, Ia membasuh air mata yang ingin jatuh dari kedua matanya.
Melihat lengan bajunya yang basah, yang merupakan satu-satunya jejak yang tersisa dari air matanya, seolah-olah ingin menghilangkannya, Ia menggoyang-goyangkan lengan bajunya itu dan kemudian Ia mengepalkan tangan.

"Maaf telah membuatmu khawatir Ayah. Tapi sekarang, aku baik-baik saja" (Subaru)

"Benarkah? Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa, jangan bikin orang tua khawatir lagi yah" (Ayah)

"Hu-um, okeee ayahku. Jadi, um, tentang pertanyaan ayah yang tadi" (Subaru)

Melepas tangan ayahnya yang berada di bahunya, Subaru menoleh kearah wajah ayahnya.

Duduk berdampingan di kursi taman, Subaru saat ini menatapi wajah ayahnya. Dan kalau di ingat lagi, setelah semua percakapan yang terjadi hari ini, baru kali ini, Ia benar-benar menatapi wajah ayahnya.

Berlari menuju tempat ini, Ia tak dapat berbuat apa-apa terhadap sikapnya yang menyedihkan ini, selain menanggapinya dengan senyuman menyengirnya yang dipaksakan. Dan kali ini, menatapi ayahnya yang begitu penasaran, Subaru berkata,

"――Aku, sudah ada seseorang yang kusuka. Jadi, hatiku sudah tenang sekarang" (Subaru)

Membayangkan wajah seorang gadis yang muncul tadi, dengan ini, Natsuki Subaru bertekad untuk menyelesaikan masalah di kehidupan masa lalu dirinya.

-=Chapter 17 End=-

No comments:

DMCA.com Protection Status