Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 18 Part 3 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 18 Part 3 Bahasa Indonesia

May 08, 2017 Kirz Oiishii

Orang tua dan Anak [Oyako] (Part 3/3)



Setelah berakhir-nya monolog Subaru yang begitu panjang itu, Kenichi, yang dari tadi mendengarkannya, memejamkan kedua matanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Melihat ayahnya seperti ini, Subaru berusaha dengan keras untuk menutupi seluruh keburukan yang ada didalam hatinya.

Diberi kesempatan untuk dapat sadar dengan keburukannya, melalui perubahan kecil yang terjadi di sikapnya, Ia melihat 'kegilaan' didalam hatinya.
Entah itu sekarang, atau sebelumnya, Subaru selalu melempar kesalahan kepada orang lain.
Karena Ia tak ingin dirinya dianggap menyedihkan, dan karena Ia ingin menjadi pahlawan di dunianya, dengan tenang, Ia selalu menunggu seseorang untuk dijadikan kambing hitamnya.

Sekolah, Ia berfikir, kalau Ia berhenti ke sekolah, kalau Ia menghabiskan hari-harinya dengan bermalas-malasan didalam ruangannya, Kalau Ia terus membodohi dirinya sendiri seperti ini――suatu hari Kenichi pasti akan menendang pintu kamarnya, dan mengakhiri dunia Subaru.
Tanpa Ia sadari, jauh dilubuk hatinya yang terdalam, Ia sesungguhnya sudah menanti-nanti dunianya ini untuk segera diakhiri
Dan keinginan ini muncul sejak Ia masuk ke Dunia Lain.
Bahkan di dunia itu, Subaru tetap membangga-banggakan dirinya sendiri, dan akhirnya――

"――Subaru" (Ayah)

Kenichi, yang dari tadi memikirkan sesuatu, akhirnya membuka kedua matanya, dan memanggil nama Subaru.
Suara dari panggilan itu membangunkan Subaru yang termenung, membawanya kembali melihat realita yang kini berada didepannya――wajah ayahnya, dan kemudian,

"FAZAHEDDO!" (Ayah)
(TLN: ファーザーヘッド(Fāzāheddo) - bisa diartikan sbg benturan dari sang ayah)

"Adaghh!?" (Subaru)

Dahinya telah dibenturkan oleh sesuatu yang keras, Subaru pun berteriak seakan-akan api menyerang dirinya. Memegang dahinya yang terasa sakit, kini Ia melihat Kenichi berdiri di depannya, memandanginya.

"Dah lihat Subaru?. Itulah Fazahedo yang dipenuhi kasih sayang dari ayah, pukulan kemarahan sang Ayah" (Ayah)

" Fazahedo macam apa itu, ayah berteriak begitu tapi tiba-tiba menendangku!!" (Subaru)

"Yah itu cuma tipuan ayah, yang cuma kerja kalau target ayah lagi duduk dan Ayah lagi berdiri. Iaaarghh~, kakunya tubuhkuhh~. Udah nggak kaya dulu lagi rupanya tubuh Ayah ini. Gini dah jadinya, kalau ayah nggak langsung meregangi tubuh ayah sehabis mandi tadi" (Ayah)

Dengan wajah yang terlihat aneh, Kenichi mulai melakukan peregangan rutin nya. Melihat ayahnya sambil menggosok-gosok bagian kepalanya yang sakit, hampir menangis karena rasa sakit dikepalanya, Subaru tidak tahu harus berbuat apa terhadap reaksi yang benar-benar tidak dapat ditebaknya ini.
Namun, Subaru tidak masalah diserang oleh serangan seperti itu, setidaknya yang menyerangnya bukanlah ini,

"Tapi, Subaru. Kamu tahu, kamu itu....... benar-benar bodoh ya" (Ayah)

"Uuooghhh" (Subaru)

Ucapan yang terputus-putus itu telah membelahnya menjadi dua, dan Subaru, tak dapat berbuat apa-apa terhadap hal itu.
Melihat Subaru yang seperti ini, Kenichi melipat kedua tangannya sambil mendengus,

"cerita ini itu ini itu ini itu, khawatir dengan segalanya......... Dari mana kamu dapet sifat-menyedihkan itu? Kamu itu bener-bener mirip kaya pamanmu, 'tau. Si botak gendut yang selalu mengkhawatirkan segalanya" (Ayah)

"Oi berlebihan amat........... tapi meskipun gitu, aku selalu berusaha agar diriku sudah besar nanti nggak berakhir jadi kaya paman itu 'tau" (Subaru)

Ayah dan anak itu akhirnya menyalahkan Paman Subaru.
Setelah Paman Subaru, yang kini tengah berada disuatu tempat yang jauh, tidak tahu apa-apa, dikomentari sepedas ini, Kenichi dengan ekspresi sangat kesal, kembali melanjutkan bicaranya dengan berkata 'pertama-tama',

"Banyak sebetulnya yang bikin ayah kesal, tapi dari sekian banyak itu, ada yang paling bikin ayah kesal. Ayah benar-benar kesal terhadap pikiranmu yang berfikir kalau kamu bisa membuat ayahmu ini berhenti mencintaimu. Dengan mengurung dirimu dari dunia luar, kamu pikir dengan itu kamu bisa membuat ayahmu ini mengamuk dan membuangmu begitu saja?.... Apa kamu, bodoh? Kamu ingin ayah memarahimu? Apa kamu itu anak cewek yang masih merasa kurang mendapat kontak fisik dengan ayahnya? Apa gulat ayah yang setiap pagi itu masih juga belum cukup?" (Ayah)

"Yah meskipun entah kenapa ucapan Ayah itu terdengar menyesatkan, bikin orang salah tafsir, tapi inti dari ucapanmu itu benar, jadi aku nggak bisa menyangkalnya.." (Subaru)

"Nggak, kalau kamu ingin ayah menyerah terhadap dirimu, kamu harus melakukan hal yang lebih parah dari itu. Siapa juga yang ingin menyerah terhadap anak yang mengurung diri didalam tempurungnya? Kecuali.. kamu sampe bunuh setengah umat manusia di dunia ini, baru ayah langsung membencimu" (Ayah)

"Kejadian yang seperti itu bahkan nggak pernah kelihatan lagi di manga-manga shounen sekarang! Siapa juga yang ingin melakukan hal sekonyol itu!?" (Subaru)

"――Emangnya yang kamu minta pada ayah itu nggak konyol?" (Ayah)

Mendengar ayahnya mengucapkan ini dengan suara yang keras, Subaru kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.
Dihadapan Subaru, Kenichi membungkukkan badannya dan mendekati kedua mata Subaru, lalu Ia pun bertanya 'Gimana, hah?',

"Meskipun gerakmu lambat seperti siput, atau nggak mampu menghafal tabel perkalian, atau pergi curhat bikin postingan di blog, demi mendapat perhatian dari semua orang, yang justru sebetulnya merugikan diri sendiri...." (Ayah)

"Aku itu nggak selambat atau sebodoh atau sebego itu..." (Subaru)

"Meskipun kamu selambat atau sebodoh atau sebego itu, Ayah nggak akan membenci ataupun menyerah padamu. Karena bukankah sudah jelas? Aku ini ayahmu, dan kamu adalah anakku" (Ayah)

Sambil mendesah kesal mengucapkan itu, Ia menegakkan punggungnya kembali.
Subaru pun melihat keatas, kearah wajah Ayahnya yang sedang berdiri. Ditatapi oleh anaknya, Kenichi berkata,

"Tapi, sehebat apa ayahmu ini memangnya. Dari apa yang kamu bilang, ayah ini seakan-akan seperti superhero paling super, berteknologi paling sempurna, tanpa cacad, dan paling canggih dari yang pernah ada didunia ini, 'tau!" (Ayah)

"Kalau itu sih penafsirannya terlalu berlebihan~" (Subaru)

"Kamu itu nggak tahu, Ayah itu sebenarnya punya banyak masalah, kerugian, dan kegagalan juga, Ayah juga pernah menangis, berteriak, dan juga pernah ditolak..... yahh, Ayah ini bukan siapa-siapa bagaimanapun juga. Tapi setidaknya, ayah punya wajah yang sangat tampan. Nggak kaya kamu" (Ayah)

"Waah pede amat..~" (Subaru)

"Saat ayah masih seumuranmu, ayah kekanak-kanakan juga. Memang ayah agak terkenal waktu itu, tapi tetap saja ayah ini hanyalah orang biasa. Tapi entah kenapa, waktu seakan-akan terhenti saat ayah sedang lewat didepan banyak orang~" (Ayah)

"Wah seharusnya ayah pakai waktu ayah ketabrak mobil tahun lalu~" (Subaru)

Manzai Comedy.
(TLN: seni melawak yang berasal dari daerah Kansai, Jepang. Pertunjukan Manzai biasanya dilakukan oleh dua orang yang bercakap-cakap, dengan irama berbicara seperti bersahut-sahutan. Satu orang berperan sebagai si bodoh (boke) yang terus menyerocos bercerita,  dan seorang lagi berperan sebagai si pintar (tsukkomi) yang menyahut cerita si bodoh agar penonton tertawa. Manzai bisa dikatakan mirip dengan stand-up comedy yang dikenal di Amerika Serikat - Wikipedia)

Karena anaknya dapat menyahut ceritanya dengan hebat, Kenichi mengeluarkan telapak tangannya, ingin melakukan tos dengan anaknya. Namun, disaat anaknya menanggapi responnya dan menerima permintaan tos nya, tangan ayahnya yang lagi satu muncul dan memegang pergelangan tangan Subaru,

"Okeh, mari kita putar dulu pergelangan tangan anak yang sangat-bodoh ini untuk meluruskan sikapnya~" (Ayah)

"OI! ARGH! Tunggu! Tanganku mau.... oi!!! argh!! sakit!!" (Subaru)

"――Tapi entah kenapa, ayah merasakan sesuatu, sepertinya sudah nggak perlu lagi meluruskan sikapmu, Jugaan kamu keliatannya dah keok banget ini~" (Ayah)

Tangannya pun dilepaskan dari genggamannya, Subaru pun berdiri sambil menggoyang-goyangkan tangannya itu, merintih kesakitan. Menatapi Subaru dengan satu mata dipejamkan, Kenichi menghela nafas dengan pelan,

"Perasaan itu muncul pagi ini, dan baru saja ayah merasa, kalau ada yang berbeda dengan dirimu sekarang. Kenapa bisa begitu ya?" (Ayah)

"Kan sudah kubilang. Itu terjadi karena, Aku sudah punya seseorang yang kusuka" (Subaru)

Cahaya dari bongkahan-bongkahan silver, yang membangkitkan Natsuki Subaru.

"Dan ada seseorang, yang mengatakan bahwa dirinya tetap mencintaiku, meskipun diriku seperti ini" (Subaru)

Kehangatan dari Langit cahaya berwarna biru, yang memberi Subaru dorongan untuk maju.

"Mereka tak tahu kalau Aku ini anak dari Natsuki Kenichi. Saat aku bersama mereka, Aku ini cuma dianggap sebagai Natsuki Subaru........ nggak" (Subaru)

Menggeleng-gelengkan kepalanya, Ia memfokuskan tatapan kedua matanya pada ayahnya yang berdiri dihadapannya,

"Mau bagaimanapun aku terlihat, aku ini tetaplah Natsuki Subaru. Sehingga Aku membuat diriku percaya bahwa Nama yang selalu kubawa adalah Natsuki Subaru. Bukanlah nama yang selama ini membebani diriku (TLN: Anak dari Natsuki kenichi). Akhirnya, aku mengerti sekarang" (Subaru)

"Yah sebenernya sih telat kamu mengertinya. Karena, dari dulu Ayah lah yang memegang nama baik keluarga, disini. Ayah nggak pernah memintamu untuk menanggung nama keluarga seperti itu, kok bisa tuh lho kamu punya pikiran kaya gitu. Ayah pukul juga lama-lama kamu ini" (Ayah)

"Oi! Ayah sudah melakukan banyak hal kepadaku, yang lebih sakit daripada memukul 'tau!" (Subaru)

Melihat Subaru menginjak-nginjak tanah, protes terhadap serangan-serangan sebelumnya yang dilakukan ayahnya, Kenichi tertawa dan berkata 'Wadoo tolong dimaafin ya~' seakan-akan meminta maaf atas nama orang lain. Kemudian, menyipitkan kedua matanya, Kenichi melanjutkan berkata 'Eh tapi'

"Kamu bilang tadi ada seseorang yang kamu suka, dan kemudian kamu bilang kalau ada seseorang yang menyukaimu, apa apaan itu? Apa kamu ini... lelaki pemburu wanita? Dengan cuma menyandang status sebagai Subaru?" (Ayah)

"Jangan bilang status sebagai Subaru gitu lah! Meskipun aku merasa kalau status itu terlalu mewah untukku, tapi memangnya kenapa? Bisa saja kan dua bintang secara bersamaan berkilau di langit?" (Subaru)

Hal ini terjadi bukan karena nafsunya, namun karena perasaan utuh yang ada didalam hatinya.
Ia mencintai Emilia. Dan Ia juga mencintai Rem. Karena hadirnya mereka berdua, Subaru dapat bangkit dan berjuang lagi, entah karena mereka juga. dirinya dapat berdiri dihadapan Kenichi, atau dapat menghadapi masalah dimasa lalunya, yang pasti mereka telah memberinya kekuatan untuk tidak lari dari semua masalahnya.

Semua bintang yang dulu menerangi langit Subaru――bintang yang memberinya semangat untuk hidup.
Dibandingkan dengan semua bintang yang dulu menerangi dirinya, bintang yang sekarang menemaninya, walau hanya dua, tapi cahayanya lebih terang dari semua bintang yang dulu itu.

Dua bintang itu didapatkan olehnya saat berada diluar ruangan mendekam nya, saat Ia tidak sengaja di panggil ke dunia lain, melewati segala keputusasaan, penderitaan, kesedihan yang mendalam, dan kekesalan yang amat luar biasa. Setelah melewati semua itu dengan sebuah senyuman, dengan semangat yang membara untuk terus berjuang, akhirnya Ia mendapatkan dua bintang ini.

"Okeeh baiklah. Lakukan apa yang kamu suka, ayah bebaskan kamu. Selama apa yang kamu lakukan nggak melanggar hukum, ayah nggak akan menghalangimu. Sepertinya, kamu pinter juga narik cewe, ya" (Ayah)

"Kalau aku punya kemampuan kaya gitu, maka aku nggak mungkin gagal dengan sangat menyedihkan dihari perkenalan SMA ku, berakhir menjadi penyendiri. Aku ini nggak sehebat dirimu, ayah" (Subaru)

"Menurut ayah itu nggak bener lho. Kamu itu anakku, kan. Sungguh, diantara seluruh pikiran mu yang keliru, yang satu ini lah yang paling menurut ayah keliru" (Ayah)

"Yang satu ini?" (Subaru)

Menepuk-nepuk jarinya dalam posisi melipat kedua tangannya, Kenichi menjawab Subaru yang bingung itu dengan mengangguk, 'Umm',

"Ayah mungkin sangat hiperaktif didepan dirimu dan mama mu, tapi ayah itu setidaknya ngerti lah cara bersikap. Mungkin karena Ayah selalu bersikap seperti ini dihadapan dirimu, kamu jadi salah sangka dengan ini, mengira ayahmu selalu seperti ini juga di depan orang lain. Kalau kamu bersikap seperti ini didepan orang lain, wajar aja lah semuanya jadi kacau gitu, oi" (Ayah)

"Apa.., bentar dulu bentar dulu..." (Subaru)

"Karena sudah tentu jelas kan, kalau kamu ngeliat orang yang tingkahnya konyol kaya gini, kamu pasti langsung takut untuk mendekatinya, kan? Nah dari sekarang sebetulnya kamu bisa memperbaiki sikapmu itu, sampai kamu mendapatkan temanmu lagi. Kecuali sih, kamu ingin membiarkannya terus seperti ini sampe berbulan-bulan" (Ayah)

Sungguh kenyataan yang mengejutkan. Rupanya Ayahnya itu akan mengubah sikapnya, tergantung dari siapa yang menjadi lawannya bicara, seperti orang normal pada biasanya.
Tanpa mengetahui kenyataan ini, Ia terus percaya kalau Ia bertingkah seperti Ayahnya yang konyol, Ia pasti bisa dicintai oleh semua orang seperti Ayahnya itu.

"Berarti, mengurung diri yang selama ini kulakukan....." (Subaru)

"Yahh tapi menurut ayah, yang kamu lakukan itu nggak sepenuhnya sia-sia sih. Buktinya, kamu menjadi seperti sekarang berkat itu. Bintang yang kamu dapatkan itu, apa dirimu belum puas karena cuma memiliki dua bintang itu?" (Ayah)

Subaru, memeluk kepalanya dengan menyesal, namun kemudian mengangkat wajahnya disaat mendengar kalimat itu. Ia dapat menjawab pertanyaan itu tanpa ragu sedikitpun, karena bagi Subaru, dirinya sudah tahu jawaban yang semestinya untuk pertanyaan itu.

"――Nggak, dua bintang itu sudah lebih dari cukup untukku. Walau diriku bisa meraih segala bintang yang ada di jagat raya ini, Tapi diriku tetap, hanya menginginkan bintang yang kini menyinari diriku itu. Jadi, menurutku, Aku puas dengan kondisi diriku yang sekarang ini" (Subaru)

"Begitukah.... kalau begitu berarti bagus kan?" (Ayah)

Lega melihat Subaru menetapkan ini dihatinya, Kenichi tersenyum.
Melihat senyuman ayahnya, Subaru merasa beban berat yang selama ini menekan dadanya, seketika terjatuh dengan bunyi gedebuk.
Kegelapan yang selama ini menghantui dirinya telah menghilang, seakan-akan semua kesuraman di hatinya telah disapu bersih.

Kini Subaru benar-benar merasa bebas.
Setelah menghadapi masa lalunya, mengucapkan selamat tinggal kepada dirinya yang lama, yang gagal dan menyerah atas segalanya, Ia sekarang berharap pada dirinya yang baru, yang berjuang maju kedepan.
Jadi――

"Maafkan aku, yang selama ini menutup diri. Maafkan aku karena telah membuatmu khawatir dengan semua masalah yang kuperbuat, termasuk juga diriku yang selalu membolos. Aku sadar bahwa semua itu salah sekarang. Aku benar-benar minta maaf, ayah" (Subaru)

"Ahh nggak apa, kamu nggak perlu minta maaf kok. Lagipula, itu juga salah ayah karena nggak sadar kalau anaknya menganggap ayahnya begitu mengagumkan. Ayah lah yang seharusnya minta maaf, karena terlihat begitu keren didepan matamu!" (Ayah)

"IHH Siapa juga yang nganggep ayah begitu!" (Subaru)

"HAHAHA, nggak usah malu-malu dah. Tapi, Kamu itu anak ayah kan, jadi darahku mengalir dalam tubuhmu. Dan itu artinya, setengah-kegantengan Ayah akan menurun kepadamu nantinya" (Ayah)

"Cuma setengah? Bukannya harusnya dapet sepenuhnya ya, karena aku keturunan ayah" (Subaru)

"Yah karena kan, ada setengah-bagian dari Mamamu juga dalam dirimu. Dengan memiliki kegantengan ayah, dipadukan dengan mata Mamamu, dengan kombinasi ini, nggak bakalan ada yang bisa menandingi dirimu, 'tau" (Ayah)

"Waduh maaf mah, aku lupa sama ini!" (Subaru)

Tak dapat berkata apa-apa lagi untuk meminta maaf kepada Ibunya yang tidak ada disana, Subaru hanya dapat menepuk kedua tangannya lalu meminta maaf. Heran melihat tingkah anaknya yang seperti ini, Kenichi menggelengkan kepalanya,

"Yah kalau gitu, dirimu sudah tenang kan sekarang? Itu artinya jalan-jalan hari ini sudah berakhir, karena sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, yang penting kan, kamu sudah tahu apa yang akan kamu lakukan mulai saat ini" (Ayah)

"Hu-um. Maafin aku ya, Ayah, karena dah bikin Ayah khawatir..." (Subaru)

"Kalau kamu ingin meminta maaf, cukup dengan berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orang tuamu ini. Karena suatu saat, kamu akan merawat Ayah dan Mamamu ini, nak" (Ayah)

――Subaru pun terdiam, disaat mendengar ucapan itu.

"――――" (Subaru)

Dia telah memutuskan untuk meminta maaf atas semua yang telah terjadi sebelumnya, dan dia ingin memberitahu semua yang Ia rasakan saat ini.
Dan Ia berhasil melakukannya dengan baik, masalah yang ada diantara mereka sudah tidak ada lagi, dan Kini Ia bisa bersama orang tuanya dengan suasana yang menyenangkan.
Sehingga, apa yang ingin Ia katakan sekarang――

"――Mu" (Subaru)

Akan tetapi―― Disaat Ia ingin mengatakan 'Mulai dari sekarang', justru malah yang keluar dari mulutnya adalah,

"..........Ku...mohon maafkan aku" (Subaru)

"Subaru?" (Ayah)

"Aku benar.. benar minta maaf, Aku benar-benar minta maaf.... Aku, maafkan aku, maafkan aku... maafkan aku....." (Subaru)

Kenichi pun bingung dengan reaksi anaknya. Namun Subaru tetap tidak bisa menghentikan sikapnya ini.
Air mata yang membanjiri kedua matanya telah membuat penglihatannya kabur, Kini Dunia menjadi kabur. Menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya, Ia dengan putus asa berusaha menghapus air matanya yang jatuh. Tapi Air mata itu terus saja, mengalir dan mengalir, Ia tak bisa menghentikan Air matanya itu. Mereka tidak bisa dihentikan, dan tidak mungkin dihentikan.

"Maafkan aku kumohon maafkan aku..... Aku, Aku... cuma ingin, kalian berdua...... Memaafkan diriku, Aku benar-benar minta maaf......" (Subaru)

――Sesungguhnya Ia telah sadar.
Entah dari suatu tempat didalam hatinya, Subaru telah menyadari ini sejak lama.

Sejak Ia dipanggil ke Dunia Lain, muncul dibawah terik sinar matahari, kejadian itu seakan-akan telah memberinya wahyu, bahwa.

――Ia tidak akan pernah bisa kembali ke dunia asalnya lagi.

Setelah berhasil memberitahu isi hatinya kepada ayahnya, setelah berhasil memberi tahu masalah yang selama ini membebani dadanya, setelah berhasil diberi pengampunan, setelah diberi kekuatan untuk terus berjuang, setelah diajarkan dan diberitahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya,

"Meskipun begitu, Aku.... tetap tidak bisa memberimu apa-apa..... Aku tidak akan, pernah bisa melihatmu lagi...... maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku..... Aku benar-benar minta maaf... aku benar-benar minta maaf... hiiks..."(Subaru)

Air matanya tak mau berhenti. Dan Ia kini merasa ingin jatuh.
Namun, Tubuhnya tetap berdiri, karena saat ini telah ditahan oleh, pelukan Ayahnya, yang memberinya kesempatan untuk menangis dalam pelukannya.

Telapak tangan itu terasa begitu kuat dan lebar, telapak tangan itu saat ini memeluk anaknya dengan begitu erat, dan kemudian, menepuk-nepuk punggung anaknya, seakan-akan sedang menghibur anaknya yang menangis.



"――Tidak peduli bagaimanapun itu, kamu memang anak yang merepotkan yah" (Ayah)

Sambil mengatakan ini, Ia terus memeluk Subaru yang terisak-isak tangisannya, menenangkannya, dan dengan penuh kasih sayang, Ia tidak ingin melepaskannya.


※※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※


"Dah tenang?" (Ayah)

"――Hu-um. Maaf. Pasti tadi itu, merepotkan sekali" (Subaru)

"Banget. Liat nih baju Ayah. Ayah harus menghilangkan semua air mata dan ingusmu nih sekarang. Ayah malu sebenernya berkeliaran disekitar komplek dengan kondisi kayak gini" (Ayah)

'Haha', menggunakan jarinya, Ia menyentil jidat Subaru, yang telah berhenti menangis, sambil tertawa dengan keras.
Dan kemudian, Ia melihat wajah Subaru, yang kini telah membengkak karena habis menangis. Melihat mata yang dipenuhi kesedihan dan rasa bersalah itu, Kenichi menghela nafas,

"Ayah nggak tahu apa yang membuatmu menangis sangat keras tadi, tapi sepertinya penyebabnya itu sangat memalukan bagimu, jadi ayah nggak memaksamu untuk memberitahunya. Oke, tetap semangat membuat ayah bangga yah, kedepannya!" (Ayah)

".....Aah. Makasih Ayah. Sungguh, dari lubuk hatiku yang terdalam, lebih dari segala apapun didunia ini, aku berterima kasih padamu Ayah" (Subaru)

"Yahh nggak perlu sampe begitunya juga lah, ayah jadi malu nih.." (Ayah)

Sambil menggaruk wajahnya yang memerah, Kenichi mendecakkan lidahnya. Tak mampu melihat wajah ayahnya terus-terusan, Subaru mengalihkan pandangannya.
Dan kemudian Kenichi, mengangkat bahu nya, lalu menggoyang-goyangkan tangannya seakan-akan sedang mengusir serangga,

"Hadeeh, dah sana-sana pulang.. Ayah masih pingin jalan-jalan bentar dulu, jadi ayah agak lama baliknya. Kalau Ayah sampe diliat jalan bareng sama kamu, dengan kondisi matamu bengkak kek gini, ntar orang-orang mikirnya aneh lagi.." (Ayah)

"...Wah mereka pasti bertanya-tanya, kira-kira apa yah yang dilakukan anak dan Ayah itu.." (Subaru)

"Iyap betul itu. Kalau Ayah jalan sama kamu, dalam kondisi matamu bengkak kek gini, dan terus temen ayah ngeliat, wah temen Ayah bakal mempermalukan ayah nanti" (Ayah)

"Wah masih mending kalo yang ngeliat itu temenmu, kalau yang ngeliat Mama, gimana nanti ya.." (Subaru)

Secara spontan menyahut omongan Ayahnya, Hati Subaru seketika terasa tertusuk karena rindu pada Ayahnya, karena dirinya tak akan melihat Ayahnya lagi. Menggertakkan giginya dan memaksa dirinya untuk membalikkan diri dari pandangan Ayahnya, Subaru akhirnya berkata 'Jadi uh',

"Aku pergi dulu ya, kalau gitu. Berusahalah untuk tidak ditanyai polisi atau apapun itu" (Subaru)

"Waduh sayang sekali, sayangnya para polisi disekitar sini sudah kenal dengan Ayah. Jadi kalau mereka datang dan menyapa Ayah, Ayah nggak mungkin bisa mengabaikan mereka" (Ayah)

"Kumohon, jangan ngomong apa-apa pada mereka" (Subaru)

Kebiasaan Ayahnya itu tidak pernah hilang bagaimanapun juga.
Kini, merasa diselamatkan oleh Ayahnya, Subaru merasa jijik kepada dirinya yang masih lemah seperti sebelumnya. Tidak peduli dimanapun Ia berada, Ia selalu mengharapkan orang lain untuk melindunginya. Sungguh Ia benar-benar tidak berguna.

Tapi walaupun begitu, Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya ini didepan Ayahnya lagi.
Jadi setelah mengambil nafas dalam-dalam, seakan-akan pikirannya telah matang, Subaru membelakangi Ayahnya dan melangkah pergi. Dan tentunya dengan langkah yang cepat, Ia berusaha menghilang dari tempat itu secepat yang Ia bisa.

"――Hey, Subaru" (Ayah)

Dari belakang, Kenichi memanggilnya, dan kaki Subaru secara spontan langsung berhenti berjalan.

"Kamu, rupanya telah mengalami masa-masa sulit juga, ya. Jadi, Aku ingin mengatakan satu hal ini padamu" (Ayah)

"――――" (Subaru)

"Tetap lakukan yang terbaik. Aku mengandalkanmu, nak" (Ayah)

Takut karena diharapkan, takut membuatnya kecewa.
Khawatir kalau dirinya tidak sesuai dengan harapan Ayahnya, sesungguhnya hal ini telah Subaru rasakan sejak dulu, menghantui dirinya. Karena itulah, bagi Subaru, harapan Ayahnya itu adalah simbol dari ketakutan untuknya, namun――

"――Okeeh, Sip. Ayah" (Subaru)

Masih dalam posisi membelakangi Ayahnya, Subaru mengangkat jarinya, menunjuk kelangit, dan,

"Namaku Natsuki Subaru. Anak dari Natsuki Kenichi. ――Karena itu, diriku ini bisa menuntaskan segalanya, dan akan melakukan apapun. Anakmu ini hebat, 'tau" (Subaru)

"Haha, betul banget itu. Setengah dari diri Ayah ada padamu, bagaimanapun juga!" (Ayah)

'HAHAHA', mengucapkan itu, Kenichi tertawa dengan keras dibelakang Anaknya.
Mendengar suara ini, Subaru menjadi tersenyum.

Dengan membelakangi ayahnya, Ia kembali melanjutkan langkahnya.
Lututnya tak lagi bergetar. Hatinya tak lagi goyah. Ia kini hanya menatap lurus kedepan, sambil melanjutkan langkahnya.

――Orang yang selama ini selalu Ia lihat, mulai sekarang akan terus mengawasinya.

Kagum terhadap besarnya kekuatan yang akan Ia terima, karena kenyataan ini.
Subaru terus berjalan, tanpa menghentikan langkahnya.

-=Chapter 18 End=- 

No comments:

DMCA.com Protection Status