Yuusha Party no Kawaii Ko ga Ita no de, Kokuhaku Shite Chapter 7 part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Yuusha Party no Kawaii Ko ga Ita no de, Kokuhaku Shite Chapter 7 part 1 Bahasa Indonesia

May 16, 2017 Kirz Oiishii

Translator: HyCrieff
Editor: Kirz

Chapter 7 part 1 – Aku mencoba memberikan saran soal percintaan kepada temanku


Beberapa hari telah berlalu sejak Cecilia pulih dari sakitnya.
Hari ini aku datang ke guild untuk berkerja, tapi ...

“He~y, coba te~bak, akhir-akhir ini istri gue baik banget lho”

“Wahh masa?”

Kok bisa ya aku anteng gini dengerin nih Clayman bercerita soal istrinya?
Matanya yang biasanya terlihat seperti ikan mati, sekarang menjadi berseri-seri.
Orang yang biasanya males berbicara ini sepenuhnya berubah menjadi seorang gadis sekolah yang cekikikan. Sejujurnya, menyebalkan sih ini...

Semua pegawai dan petualang lainnya yang saat ini kulihat, berusaha untuk tidak menatap kami.
Tampaknya pria ini sudah seperti ini sepanjang hari.
Para karyawan saat ini hanya mendesah dalam-dalam, dan para petualang tetap menjaga mata mereka menatap ke arah meja.
Sepertinya bukan aku saja satu-satunya korban disini.

......Tapi kalau dipikir lagi, dia sudah menikah kan? Selamat yah teman. Cuma, wanita macam apa sih yang bisa jatuh hati pada pria seperti dirimu ini?
Aku nggak nyangka, wanita itu bisa puas dengan pria seperti dirimu ini.

“Gue gak pernah sadar, sangat menyenangkan bekerja disini. Semua orang tampak sa~ngat luar biasa hari ini.”

“Ooooh”



Dia pasti istri yang sangat hebat karena bisa membuatnya sebahagia ini.  Ahh andai saja aku menikah dengan Cecilia dan setiap hariku diisi dengan kebahagiaan... Ahhhhhh, stop stop!
Sepertinya wajahku juga akan selebay Clayman, kalau saja sekarang ini aku berada di posisinya.

Jadi begitulah, aku terus mendengarkan dirinya bercerita tentang istrinya, dalam waktu yang lumayan cukup lama.
Dan dilihat dari ekspresi semua orang yang saat ini berada di aula Guild, sepertinya mereka semua sudah mendengarkan cerita ini, berkali-kali.

Tapi kemudian, disaat aku sudah mulai bosan mendengar omong kosong ini, tiba-tiba terjadi keributan di pintu masuk guild.
Aku mendengar sorak gembira dari para karyawan yang cemberut sebelumya dan dari para petualang yang daritadi wajahnya tertanam pada meja.
( TLN : Maksudnya tertanam ke meja, artinya di fokus liat meja nggak lihat kiri/kanan jadi bisa diartikan wajahnya tertanam pada meja. )

“Ada apa ini? Bising amat dah.”

Clayman menyandarkan dirinya ke meja resepsionis untuk melihat apa yang terjadi di pintu masuk Guild.
Tapi entah kenapa, aku merasa kalau aku pernah mengalami kejadian ini sebelumnya.
Mungkinkah orang itu... Cecilia?
Dengan harapan yang tinggi, aku berbalik dan akhirnya aku melihat .........

“.......”

... Raven berdiri disana.
Dia berusaha menghindari orang-orang dengan tubuhnya dan menggerakkan tangannya, dan dia kemudian menuju ke arahku.
Datang kearahku, dia kemudian menunjuk nunjuk ibu jarinya kearah pintu masuk guild.
Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku, tapi karena banyak orang disini, dia tidak bisa berbicara disini.
Aku benar-benar mengerti maksud dari gerak geriknya ini.

“Clayman, aku ingin mengambil Quest dengan Raven , apa ada satu yang tersedia?”
Dia mungkin ingin menjalani Quest denganku.
Meskipun kami akhirnya berteman, tapi kami belum pernah pergi bersama belakangan ini.
Raven pun menarik-narik lenganku.
Kau ingin cepet-cepet keluar dari sini, ya?
Yah aku rasa juga semua orang disini sudah mulai ribut.
Meskipun sebagian besar, pada mencemoohkanku sih.
Terutama dari para wanita, dan bahkan dari para Karyawan Guild.

“Ooohh, gimana kalo yang ini? Ini adalah Quest mengalahkan Rock Dragon yang mengamuk di Gunung Haggers. Kalau lu berdua berangkat dengan kereta kuda, mungkin lu pada bisa balik sebelum besok.”

Ini adalah sebuah misi yang tingkatannya Rank B, hanya Raven dan Aku lah, yang baru-baru ini menjadi B-Rank, tapi walaupun misi ini terbilang tingkatannya tinggi, selama masih ada Cheatku, bukan masalah sih.... Bahkan, mungkin kami bisa mengambil misi yang lebih tinggi lagi sekalipun, dan tetap aman.
Menerima Quest itu, Raven dan Aku pun akhirnya pergi ke Gunung Haggers.







“Eh... kau bukan pingin menjalani Quest?”

Kalau menggunakan kereta kuda, cuma membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke gunung Haggers dari Minerva.
Jadi kami mencari kereta kuda yang menuju kesana.
Dan karena disini banyak sekali orang disekitar, kami saat ini berbicara dengan suara yang pelan.


“...Bukan, Aku cuma pingin pergi berbelanja denganmu, mungkin makan bareng juga.”


Tampaknya Raven cuma ingin Hang out di sekitar kota.
Aku kira dia ingin pergi berburu keluar kota.
Ngomong-ngomong, Equipment yang kami bawa saat ini mungkin terlalu ringan untuk Quest setingkat ini.


“Maaf karena sudah salah paham.”


Aku pun akhirnya menundukan kepalaku dalam rasa penyesalan yang tulus, Raven bekerja sebagai Knight di Kastil, jadi mungkin kesempatan libur seperti ini sangat langka baginya.

“ ... Nggak, gak apa. Jugaan belum pernah aku keluar bareng teman seperti sekarang ini..”

Sepertinya, dia telah memaafkan ku.
Aku senang rupanya Raven berhati besar.

“Baiklah kalau gitu, Ayo selesaikan Quest ini dengan cepat, habis itu kita lanjut pergi Hang out. Kalau kita berusaha melakukan yang terbaik, seharusnya bisa sih kita balik sebelum matahari terbenam.”

“......Ah begitu ya, Yuk dah.”

Namun, ada sesuatu yang harus kita lakukan sebelumnya.
Hari ini, Raven keluar dengan pakaian polosnya yang biasanya, tidak menyamarkan dirinya sama sekali.
Kau ini ceroboh sekali, 'tau?
Karena aku tidak ingin terjadi kehebohan lagi, maka aku memperingatkannya.

“Tapi sebelum kita pergi Hang out, sebetulnya ada sesuatu yang ingin kuberitahu dulu padamu”

Tidak mengerti maksudku, Raven hanya memiringkan kepalanya.

“Sebagai anggota dari Party si Pahlawan, kalau kau berjalan di sekitar kota, kau akan menyebabkan keributan. Apa kau nggak tahu, baru-baru ini seluruh anggota party si pahlawan selain dirimu, tertangkap di toko aksesoris, dan saat itu terjadi keributan besar, 'tau?"

Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi.
Hal itu membuatku sangat lelah dan tentunya merepotkan bagi pemilik toko.

"...Aku sudah dengar kok tentang kejadian itu, aku juga sebetulnya penasaran Apa yang diperbuat Yuuga dan para fans nya waktu itu. Tapi aku nggak nyangka kalau ternyata kerusuhan itu melibatkan Mikana dan Cecilia juga..."

Raven tidak punya siapa-siapa untuk diajaknya berbicara.
Dia sesungguhnya ingin pergi keluar kota tanpa perlu khawatir tentang ketenarannya.
Dia sebetulnya juga sudah tahu, kalau para wanita yang ngefans dengan Party si Pahlawan, akan mengganggu jalan-jalan keluarnya yang sekarang ini.

“Aku bisa meminjamkanmu peralatan menyamar yang aku punya. Setelah kau siap, kita bisa pergi Hang out. Yah meskipun peralatannya, cuma bisa nutupin wajahmu sih...”

Seharusnya aku membeli sesuatu waktu itu, untuk sebagai kenangan kencan pertama ku dengan Cecilia.
Aku tidak memiliki kesempatan untuk membeli aksesoris apa-apa waktu itu.
Suatu saat bisa tidak ya aku kembali lagi kesana bersama dirinya, dan membeli beberapa aksesoris?

Turun dari kereta kuda, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, untuk sampai ke gunung Haggers.
Kalau saja kami berjalan dengan lebih cepat, mungkin kami bisa sampai kesana hanya dalam waktu 10 atau beberapa menit.
Tapi kami memilih untuk santai, untuk menyimpan stamina kami.

Jalan di gunung Haggers itu curam, dan diperjalanan, kami diserang oleh monster Lizardman dan Roc.
Lizardman, seperti namanya, monster itu merupakan seekor reptil humanoid yang menggunakan pedang dan perisai.
Dan sedangkan Roc itu besar, seperti elang raksasa.

Dengan pedang Raven dan Magic ku, musuh sama sekali bukanlah apa-apa.
Walaupun, kita tidak tahu kapan dan dimana musuh akan datang, kita berdua tetap siaga dan kembali melanjutkan berjalan dengan tidak bersuara, namun...

“...Youki, setelah kita selesai dengan Quest ini, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”

Raven tiba-tiba membuka mulutnya.
...Jangan melakukan sesuatu yang memicu bendera kematianmu lah, oi.
Yah tapi kalau bagi Raven sih, sepertinya dia akan baik-baik saja.

“Sipp dah. Kalau gitu sekarang, ayo kita bunuh ini dengan cepat”

Saat ini, terdengar suara hentakan kaki yang sangat besar, mendekat kearah kami.
...Tunggu, Ini beneran bukan bendera kematian kan?
(ED Notes: Death flag (死亡フラグ) - tanda kalau seseorang akan segera mati)

“Yak ini dia, bersiap lah!.”

Raven menghunuskan pedang dari sarungnya dan bersiap-siap.
Sebagai pengguna Magic, aku tidak memiliki sebuah senjata, jadi aku hanya berdiri dan bersiap-siap.
Dan akhirnya, target yang kita cari-cari, Rock Dragon, akhirnya muncul.

“Baiklah rasakan ini,《Storm Blow》!”

《Storm Blow》adalah Magic tingkat menengah, meski skalanya kecil, tapi memiliki kekuatan tornado.
Magic ini dapat menghancurkan armor keras milik Rock Dragon.
Sehingga dengan begitu, kulit bagian dalamnya sekarang terlihat.

“YOSH!”

Raven kemudian menyayat kulitnya yang terlihat itu.
Setelah dipotong, Dragon itu menjadi marah, tapi Raven dengan sangat hati-hati menghindarinya, dan kemudian terus menyerang dengan pedangnya.
Rock Dragon itu tidak pintar, jadi selama kita tetap waspada kita tidak akan terpukul olehnya.
Meskipun dia disebut dragon, tetap saja hewan itu payah.

Kami pun terus menyerangnya, dan akhirnya berhasil membunuhnya... Syukurlah, ternyata kejadian ini bukanlah bendera kematian.

“Kerja bagus, Aku senang kita menyelesaikannya dengan cepat.”

Aku akhirnya menghentikan Magicku dan Raven menyarungkan pedangnya, dan kemudian berkata.

“...Haha iya, yuk dah tinggalkan saja mayat Rock Dragon itu disini, biar para staff guild yang mengurusnya, ambil saja beberapa bukti untuk kita.”

Rock Dragon itu besar, tidak mungkin kita bisa membawa mayat sebesar itu berdua saja, jadi kami hanya membawa kembali bukti-bukti dari mayat itu.

“Yuk dah kita hang out setelah kembali nanti.”

Setelah itu, kami menuruni gunung Hagger, naik kereta kuda dan kemudian kembali ke Minerva.

Setelah kembali ke guild dan melaporkan Quest, kami kemudian pergi menuju Inn yang menjadi tempat penginapanku.
Dalam perjalanan ada sedikit keributan, tapi terimakasih berkat pengalamanku yang sebelumnya, kami dapat kabur dari mereka dengan sangat mudah.
(ED Notes: Masih ingat kejadian pertama kali Youki ketemu Raven? yak sperti itulah yg dilakukannya)

“Nih kacamata sama topi..... Seharusnya daritadi sih aku kasih ini, tapi setidaknya sekarang kita bisa pergi makan dengan tenang.”

Aku memberikan alat menyamar yang aku dapet dari Cecilia kepada Raven.

“ ...Aah, ini sangat membantu.”

Dia mengenakan topi dan kacamatanya.
.....Sepertinya cocok dengannya.
Aku rasa pria ini akan selalu terlihat bagus, walau dipakaikan apa saja.
Dunia memang tidak adil.
Yahh setidaknya dengan ini, dia tidak akan ketahuan.

Membawa pedang mungkin akan membuatnya ketahuan, jadi kami meninggalkannya di kamar penginapanku, dan kemudian melanjutkan pergi ke restoran terdekat.
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit dari Inn, akhirnya kami sampai di suatu restoran.

“Omong-omong, bukannya kau ada sesuatu yang ingin dibicarakan?”

Aku bertanya saat memakan makan malamku.
Jika ingatanku benar, sebelum kita disergap oleh Rock Dragon tadi, dia bilang ada yang ingin dia bicarakan.

“ ...Aah, apa kau mau mendengarku?”

Aku penasaran, kenapa ya dia mengatakan ini?
Apa mungkin, Ia ingin membicarakan sesuatu yang rahasia?

“Sebetulnya, aku sedang jatuh cinta pada seseorang.”

Tak kusangka, rupanya dia meminta saran soal percintaan kepadaku.

Previous Chapter – Daftar Isi – Next Chapter

No comments:

DMCA.com Protection Status