Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 13 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 13 Bahasa Indonesia

June 29, 2017 Reisen

Chapter 13 - Keanehan

Translator: Reisen



Tatsumi jalan bolak balik antara halaman belakang dan dapur sambil membawa tumpukan kayu bakar memakai sejenis pengangkat kayu* yang ada di gudang penyimpanan.

(TL Notes : tas pengangkut kayu yang dibawa dengan punggung)

Karena ada jumlah batasan untuk sekali angkat menggunakan pengangkut tersebut, dan karena ia memotong banyak kayu pagi ini, tidak mungkin mengangkat semuanya 2 atau 3 kali saja.

Namun, Tatsumi sudah bolak-balik dari halaman belakang ke dapur lebih dari 10 kali, tapi ia masih belum merasa lelah sama sekali.

Dan meskipun pengangkut kayunya dipenuhi sampai maksimal, ia tidak merasa keberatan.

Tatsumi sudah sedikit merasakan waktu ia memotong kayu pagi ini, tapi sekarang ia yakin kalau kekuatan fisik dan staminanya bertambah.

“Ini… Apa jangan-jangan yang itu? Maksudku…. Pasti yang itu, kan?”

Ia telah membaca banyak kali di light novel, apa yang disebut dengan ‘penyamaan kemampuan dunia lain’. Yang ketika kita dipindah ke dunia lain, kekuatan fisik dan lain sebagainya menjadi meningkat.

Giuseppe dan Calcedonia mengatakan kalau ia tidak memiliki magic (mana) sama sekali. Dan itu tidak bohong. Jadi, penyamaan kemampuannya mungkin sesuatu yang berbeda dengan magic.

Peningkatan kekuatan fisik yang tidak ada hubungannya dengan magic maupun mana, karenanya, wajar kalau Giuseppe dan Calcedonia tidak tahu ada yang berbeda.

‘Yeah! Ini baru yang namanya dunia parallel yang ku tahu!’ Pikir Tatsumi senang. Tentunya, kecepatan bekerjanya juga bertambah.

Berbagai Pendeta Junior yang bekerja di dapur dan para pendeta yang kebetulan melewatinya melihat Tatsumi berjalan dengan langkah ringan bolak-balik dari taman belakang ke dapur dengan tumpukan penuh kayu bakar menyangka dia seperti binatang aneh.

“….Kamu, itu mengesankan tahu! Gak berat?”

Seorang pendeta dengan rambut dan mata coklat yang bekerja di dapur mengatakan pada Tatsumi, yang membawa tumpukan kayu bakar di belakangnya.

“Yaa, bukan aku gak merasa berat sama sekali tapi… ini lebih ringan dari yang ku kira.”

“Hmmm… Hey, boleh ku coba?”

Mungkin karena ia sedikit tertarik dengan Tatsumi, ia menghentikan pekerjaannya dan mengambil tas pengangkut yang Tatsumi letakkan di lantai.

Ia menunduk mengambil pegangan pengangkut tersebut, tapi ketika ia mencoba berdiri ia merasa lebih berat dari yang ia kira dan kehilangan keseimbangannya, sehingga hampir terjatuh.

Tatsumi cepat-cepat menopangnya agar ia tidak jatuh ke lantai, tapi pendeta tersebut langsung melepaskan pegangannya dan jatuh ke lantai begitu saja.

“Hey!! Itu kan berat bener!! Gimana coba ini bisa gak berat!?”

Pendeta itu menggerutu ke Tatsumi sambil duduk di lantai.

Tatsumi tertawa canggung sambil memberikan tangan untuk menolongnya bangun.

“Meskipun kamu berkata begitu… aku gak merasa terlalu berat.”

Tatsumi membawa kembali pengangkut kayu tersebut di punggungnya dan dengan mudah berdiri. Lalu loncat-loncat pelan beberapa kali, memperlihatkan kalau itu tidak berat sama sekali.

“Bentar, kamu itu penyihir? Kamu pakai sihir buat memperingan itu kan?”

“Enggak, aku bukan penyihir. Atau tepatnya, aku gak punya mana sama sekali.”

“Hmmm? Aku gak terlalu mengerti, tapi gak mungkin kamu itu orang biasa. Ah iya! Namaku Verse. Belum pernah liat kamu sebelumnya tapi kamu juga Pendeta Junior sepertiku kan? Salam kenal.”

Pendeta yang bernama Verse tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil melihat ke pakaian dan simbol suci yang dipakai Tatsumi. Tatsumi juga ikut memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Verse.

“Aku Tatsumi Yamagata. Aku baru datang ke negara ini kemarin.”

“Ah, jadi kamu memang orang asing yaa. Sudah kuduga dari rambut dan mata hitam itu.”

Verse tersenyum ramah. Ia tidak jauh beda kalau masalah umur dengannya, jadi Tatsumi mengira kalau mereka dapat menjadi teman baik.

Pada dasarnya, Tatsumi adalah orang sosial* yang cepat dapat berteman dengan siapa saja.

(TL Notes : Sociable person = suka bergaul, ramah, cepat membuat teman)

Alasan mengapa ia terisolasi di masa SMA sebagian besar karena ia kehilangan keluarganya sekaligus.

Tekanan untuk hidup sendiri mulai sekarang (tepatnya bersama Chiiko) dan ketidakpastian apakah ia dapat hidup mandiri seorang diri atau tidak membuatnya berubah dari orang sosial menjadi berbalik 180°.

Juga, tidak ada teman dekatnya dari SMP yang diterima di SMA tempat dia sekolah. Meski ada beberapa orang yang berasal dari SMPnya, tapi ia hampir tidak kenal orang-orang tersebut.

Jikalau ada beberapa temannya SMA yang berasal dari SMPnya, ia mungkin tidak akan keluar (drop out).

Setelah Tatsumi datang ke dunia ini dan bertemu kembali dengan Chiiko, ia sedikit demi sedikit kembali ke kepribadian awalnya. Bahkan sekarang, karena bertemu orang-orang baik seperti Bogart dan Verse, kepribadiannya menjadi lebih baik dengan cepat.

“Oops, gak boleh santai-santai, nanti bisa diomelin Acolyte-sama* atau Petinggi Pendeta-sama. Sampai nanti, kapan-kapan ngobrol sambil makan gitu kalau kalau ada waktu luang Tatsumi.”

(TL Notes : sejenis pembantu pendeta yang menangani upacara ritual)

“Yap, ok. Sampai nanti, Verse.”

Setelah melambaikan tangannya, Tatsumi mulai menurunkan batangan kayu yang ada di tas pengangkutnya.


**


Ia mengantarkan sebagian kayu yang cukup ke dapur, lalu membawa sisanya ke ruang penyimpanan yang ditunjukkan Bogart.

Walaupun ia merasa kelelahan, dibanding dengan bawaan yang ia bawa itu hanya kelelahan kecil. Baru ketika ia berpikir kalau ini penyebabnya adalah ‘penyamaan kemampuan dunia lain’, tiba-tiba kelelahannya menjadi maksimal.

“H-Huh?”

Kejadian tadi saking mendadaknyanya sampai Tatsumi jatuh ke belakang dari tempat ia berdiri. Meski ia mencoba berdiri, ia tidak punya energi untuk melakukannya.

“A-Apa yang terjadi…?”

Ia duduk sebentar dan setelah menarik nafas dalam, akhirnya bisa bergerak sedikit.

Ia dengan sempoyongan, dan pelan-pelan mulai berjalan lewat bagian pinggir tembok kuil.

“A-Aku tidak tahu apa yang terjadi barusan tapi… untung tidak terjadi waktu aku kerja tadi…”

Jika kelelahan mendadak ini terjadi ketika ia bekerja, ia mungkin akan mati hancur tertindis kayu bakar yang ia bawa. Yaa, mati tertindis mungkin agak berlebihan, tapi kemungkinan besar ia akan terluka pada bagian tertentu.

Berdasarkan Bogart, ia tidak ada pekerjaan lagi hari ini. Ia berjanji akan bertemu Calcedonia setelah menyelesaikan pekerjaannya waktu makan siang tadi, jadi ia berjalan ke tempat ketemuan yang mana di pintu masuk depan.

Ke arah berlawanan dari arah ketika ia membawa banyak tumpukan kayu bakar, ia pelan-pelan berjalan kearah gerbang depan dan entah bagaimana ia dapat sampai ke tempat ia dapat melihat gerbang tersebut.

Rupanya Calcedonia telah menunggu kedatangannya. Ketika ia baru saja ingin memberikan senyuman setelah melihat sosok Tatsumi, ia langsung sadar kalau ada yang salah dan segera buru-buru ke tempatnya.

“Master? Ada apa?”

“Hmm… aku gak tahu… Barusan setelah aku menyelesaikan pekerjaan, aku mendadak merasa sangat lelah dan…”

Calcedonia langsung memeriksa Tatsumi, dan mengecek tapi tidak ada luka dimana pun.

“Sepertinya hanya kecapean berat tapi…”

Orang yang terluka dan orang-orang sakit dibawa ke kuil-kuil setiap harinya. Kuil merupakan tempat untuk berdoa, tetapi di sisi lain, juga tempat penyembuhan orang-orang yang sakit maupun yang terluka.

Karenanya, bagian dari tugas seorang pendeta adalah merawat para pasien yang datang. Calcedonia yang memiliki banyak pengalaman pengobatan, dapat secara akurat memeriksa Tatsumi.

“Tunggu sebentar, akan kusembuhkan segera.”

Sambil mengarahkan tangan kanannya di depan wajah Tatsumi, ia mulai mengucapkan mantra sihir aria.*

(TL Notes : Penjelasan ada di chapter 8 bagi yang lupa)

Cahaya perak mengelilingi tangan kanannya bersama sihir aria dan perlahan menuju ke Tatsumi sebelum meresap masuk ke badannya.

Dengan cepat badan Tatsumi menjadi lebih baik ketika semua cahanyanya terhisap ke badan Tatsumi.

“Makasih, Chiiko. Apa itu tadi sihir penyembuh (Healing Magic)?”

“Iya. Tadi itu sihir yang namanya <Penyegaran Stamina> dari atribut <Light> dan <Holy> yang dapat mengurangi kelelahan. Tapi ini hanya sementara karena efek durasinya.”

“Tidak apa-apa, ini sangat membantu. Makasih. Staminaku nanti juga akan pulih sendiri.”

“Jadi gimana bisa master sampai sangat kelelahan begini? Apa master bekerja terlalu keras?”

Setelah berdiri dengan bantuan Calcedonia, ia menceritakan apa yang terjadi pada badannya tadi.

“Hmm.. sejauh yang kutahu, sepertinya hanya kelelahan biasa. Tapi dilihat dari tanda-tandanya, ini seperti penyihir pemula yang tidak tahu batas kemampuannya dan terlalu memakai kekuatannya.”

Berdasarkan Calcedonia, sepertinya stamina juga berkurang bersamaan dengan mana ketika menggunakan sihir. Tetapi, penggunaan stamina dapat dikurangi dengan pengalaman. Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi terbiasa.

Sehingga ketika seorang penyihir pemula menggunakan sihir diluar batasnya, ia menjadi sangat kelelahan, sama seperti keadaan Tatsumi sekarang.

“Tapi aku gak punya mana kan? Dan aku juga tidak menggunakan sihir… Lagian, aku juga gak bisa memakai sihir.”

“Memang harusnya begitu…”

Calcedonia merenung sambil menaruh jari telunjuknya di dagunya.

Yang mengganggu pikirannya adalah kejadian tadi dimana ia merasakan sedikit mana pada Tatsumi saat istirahat makan siang. Waktu itu ia berpikir kalau itu cuma perasaannya saja, tapi bagaimana kalau bukan?

“Seperti yang kukira, Master memang tidak punya mana sama sekali…”

“Hmm, tidak ada gunanya kita berdiri di sini. Bagaimana kalau kita belanja seperti rencana kita tadi?”

Tatsumi berjanji ke Calcedonia kalau hari ini ia jalan-jalan ke kota untuk membeli perabot rumah tangga, peralatan makan, dan kebutuhan lain untuk rumah mereka.

“Tidak usah terlalu memaksakan diri kalau master lelah yaa? Lagian masih ada waktu luang kok sebelum rumahnya siap.”

Calcedonia diberi tahu Kashin kalau butuh 3 hari maintenance sebelum selesai. Mereka masih punya waktu membeli perabot rumah tangga, jadi tidak harus membeli semuanya sekarang.

“Tapi, aku gak ada pekerjaan lain lagi. Kalau bisa aku mau jalan-jalan ke kota sebentar.”

-dan yang penting, aku mau sama-sama Chiiko.

Tatsumi cepat-cepat menelan kembali kalimat terakhirnya. Agak memalukan kalau mengatakan itu nyaring-nyaring. Tidak, itu sangat, sangat memalukan.

Mata ruby Calcedonia melihat wajah Tatsumi yang entah mengapa tiba-tiba memerah.

Merasakan kalau Calcedonia melihat apa yang dipikirkan Tatsumi, ia mempercepat jalannya dengan wajah yang masih merah.




Siapa coba lelaki itu?

Ia melototi ke arah belakang pria yang dengan senang berjalan menuju kota dengan <<Holy Maiden>>.

Laki-laki asing dengan rambut dan mata hitam yang secara langsung diundang oleh Pendeta Tertinggi ajaran Savaiv sendiri.

Keistimewaan yang dimiliki lelaki tersebut hanyalah warna rambut, mata, dan kulit yang tidak biasa di negeri ini. Ia tidak hebat dalam kekuatan fisik, juga bukan seorang penyihir yang luar biasa.

Ketika ia mendengar kalau ia diundang langsung oleh Pendeta Tertinggi, ia mengira kalau lelaki tersebut berasal dari kalangan kelas atas. Tapi entah mengapa, laki-laki itu memakai seragam Pendeta Junior kuil dan mengerjakan tugas-tugas dengan rajin. Ia tidak percaya kalau itu yang dilakukan oleh seorang yang berasal dari kelas sosial atas.

Terus mengapa sebenarnya Yang Mulia Tuan Chrysoprase susah-susah memanggil orang ini dari negara lain? Dan mengapa sebenarnya Calcedonia melayani lelaki tersebut dengan ekspresi bahagia?

Berbagai keraguan dan pertanyaan muncul di dalam hatinya. Tetapi, ia tidak dapat menemukan jawaban satupun akan keraguan-keraguan tersebut.

Hal-hal tersebut semakin menambah kejengkelannya.

Mungkin saja.

Di saat itu, kemungkinan yang ia sengaja hindari dari awal muncul di kepalanya.

Mungkin Yang Mulia Tuan Chrysoprase berencana untuk menikahi lelaki itu dengan Calcedonia.
Tapi, jika memang seperti itu, ada sesuatu yang aneh.

Calcedonia adalah seseorang yang bahkan tidak menerima lamaran pernikahan dari kalangan kerajaan. Sehingga ia tidak dapat membayangkan jika Calcedonia mau dan ingin menikah dengan hanya seorang Pendeta Junior.

Di saat yang sama, ketakutan akan laki-laki tersebut mengambil Calcedonia miliknya melekat sangat erat di hatinya.

<<Holy Maiden>> memeluk erat lengan laki-laki itu layaknya seorang pelacur dari pinggiran kota. Ia tidak dapat melihat sosok Calcedonia seperti itu lebih lama lagi. Tetapi ia tidak dapat melepas pandangan terhadapnya.

Di saat itu.

Ketika ia sedang melihat sosok kedua orang tersebut semakin menjauh. Suara bukan menyerupai manusia berbisik di telinganya.

-Kalau dia mau mencuri dirinya darimu, yang harus kamu lakukan adalah curi dia duluan, bukan?


(Sorry jarang update, tapi karena mendekati konflik, akan dipersering updatenya,, I hope... well whatever, semoga masih ada yang menunggu cerita ini)


No comments:

DMCA.com Protection Status