Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 14 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 14 Bahasa Indonesia

June 30, 2017 Reisen

Chapter 14 - Perasaan yang Tersembunyi

Translator: Reisen




“Jadi, bagaimana keadaan sang menantu akhir-akhir ini?”

Giuseppe bertanya pada ajudannya Baldeo yang baru memberikan secangkir teh.

“Sepertinya dia bekerja sebagai asisten kuil hari ini. Dia telah menyelesaikan pekerjaannya saat bel ke 5 berbunyi lalu pergi ke kota bersama Calsey… Maaf atas kelancanganku, yang mulia, tapi siapa sebenarnya orang tersebut?”

“Hmm? Kamu tertarik dengan sang menantu?”

“Tentu, aku tertarik. Aku juga telah bersama Calsey sejak yang mulia mengadopsi Calsey dan aku ikut membesarkannya. Dia sudah mirip adik perempuan sendiri. Jadi kalau adik perempuanku tiba-tiba menjadi mesra dengan orang sembarangan, aku sebagai kakaknya akan khawatir.”

Melihat ajudannya yang dengan jujur khawatir kepada Calcedonia, Giuseppe meringis.

“Aku senang sekali sekali kalau kamu juga khawatir pada permasalahan ini, tapi karena sekarang sang menantu telah muncul di depannya, sudah tidak ada lagi apapun di dunia ini yang dapat menghentikan Calsey. Karena jika ia telah memutuskan sesuatu, halangan apapun yang berada di depannya akan dihadapi dan dilewatinya… enggak, dia akan menghancurkannya. Seperti yang dilakukannya dulu. Kamu sendiri sudah tahu tentang itu, bukan?”

“Memang sih… itu salah satu karakter ekstrim Calsey.”

Ia mengingat-ingat sifat asli Calcedonia yang lalu. Baldeo menyengir.

“Tapi karena yang mulia telah memberi tahuku, aku semakin tertarik dengan identitas laki-laki tersebut.”

“Ho ho ho. Maaf tapi aku tidak bisa menjelaskanmu tentang sang menantu. Yang bisa kukatakan sekarang ia datang dari negeri yang sangat jauh. Dan semua kerja keras Calcedonia sampai sekarang adalah untuk bertemu dengan sang menantu kembali.”

“Jadi… seperti itu… tapi kalau begitu, bagaimana dengan ‘dia’?”



“…Morga yaa…”



Giuseppe mengerutkan keningnya setelah mengingat wajah pemuda yang diam-diam memiliki perasaan pada Calcedonia.


***


Setelah menyelesaikan belanjanya dengan Calcedonia di kota, Tatsumi kembali ke ruangan yang telah diberikan sebelumnya dan langsung jatuh tidur di kasur.

Umumnya, Pendeta Junior seharusnya tidur di rumah penginapan*. Tetapi karena Tatsumi akan pindah bersama Calcedonia ke rumah barunya, Giuseppe karena enggan memberi Tatsumi ruang tamu yang dipakai untuk berbincang-bincang pada hari pertama ia ke sini.

(TL Notes: lebih tepatnya sejenis rumah pondokan mengingat rank pendeta junior paling bawah)

Di dunia ini tentu saja tidak ada matras yang diberi per di bawahnya tetapi kain rapi yang dipenuhi dengan rumput kering yang telah diproses, yang dipakai Tatsumi sekarang sebagai kasur.

Ada juga yang menggunakan bulu menggantikan rumput kering, tapi itu adalah hal mewah yang dipakai para bangsawan.

Tiap kali ia berguling ke kasur seperti ini, ia seperti diselimuti bau khas rumput kering. Terlebih lagi, sepertinya ada beberapa bau lain yang ada di situ selain bau rumput yang berefek mengurangi kelelahan. Karena itu setiap malam ia dapat tidur dengan nyenyak.

Ketika Tatsumi terlentang di atas kasur membentuk karakter , ia memikirkan gitar dan kasur yang juga ikut berpindah ke dunia ini.

Kedua barang tersebut sekarang berada di tangan Giuseppe. Setelah persiapan rumahnya selesai beberapa hari lagi, sepertinya Giuseppe akan mengirimkan barang-barang tersebut ke sana nantinya.

Walaupun ia memiliki keterikatan terhadap kasur yang biasa ia pakai itu, Tatsumi juga menyukai kasur berisi rumput kering di dunia ini. Jadi apakah ia mau balik ke kasur lamanya atau kasur barunya merupakan permasalahan yang menyiksa Tatsumi beberapa waktu ini.

Yaa, hari ini adalah hari ia bekerja pertama kali sebagai seorang asisten kuil. Juga ada permasalah kelelahan aneh tadi dan penyesuaian dirinya terhadap pekerjaan tersebut, sehingga Tatsumi yang terlentang di kasur dan memikirkan semua itu mulai tertidur perlahan-lahan.

“…. Oops. Aku paling tidak harus mandi dulu sebelum tidur…”

Setelah terpaksa berdiri dengan mata sudah 5 watt, ia keluar meninggalkan ruang tamu terhuyung-huyung.


***


Di pojok Kuil Savaiv, terdapat tempat pemandian besar yang diperuntukkan untuk kebutuhan para pendeta.

Semua yang dibawah rank Petinggi Pendeta (High Priest) dapat memakainya karena itu mirip seperti tempat pemandian umum, dan tentu saja, ada bagian terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Sedangkan bagi mereka yang berpangkat Pendeta Tertinggi atau level Pendeta Besar (Great Priest) – walaupun kecil – mereka memiliki tempat mandi sendiri di ruangan mereka sendiri. Dan karena mereka masing-masing kebanyakan memiliki mansion sendiri di luar kuil, mereka tidak menggunakan pemandian yang diperuntukkan untuk para penghuni ini.

Ngomong-ngomong, tingkatan pendeta adalah sebagai berikut dari yang tertinggi : Supreme Pontiff, Great Priest, High Priest, Priest, Acolyte, Senior priest, Junior priest*.

(TL Notes : urutannya menjadi pendeta tertinggi, pendeta besar, petinggi pendeta, pendeta, Acolyte, pendeta senior, pendeta junior untuk memudahkan konteks nantinya)

Hanya ada satu Pendeta Tertinggi per setiap ajaran, dan Pendeta Besar biasanya bertindak sebagai pemimpin masing-masing per daerah. Sedangkan berbagai kuil-kuil kecil atau tempat pemujaan di kota, biasanya diatur oleh seorang Pendeta atau Petinggi Pendeta.

Setelah melepas bajunya di ruang ganti, Tatsumi masuk ke tempat mandi mengenakan handuk… atau lebih tepatnya sejenis serbet makan*.

(TL Notes : yep serbet, di englishnya napkin)

Karena pendeta adalah orang yang mengabdi pada Tuhan, mereka harus menjaga dirinya bersih dan rapi. Karenanya di akhir hari, setelah semua pekerjaan telah selesai, biasanya mereka datang ke tempat pemandian ini untuk membersihkan badan mereka serta mengurangi kelelahan, sehingga menjadi lumayan ramai.

Diantara mereka, Tatsumi juga dengan pelan membersihkan badannya di tempat pemandian.

--Meskipun berbeda dunia, mandi tetap hal yang menyenangkan di mana pun rupanya. Sambil berpikir seperti itu, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

“Hmm? Tatsumi? Kamu ke sini juga?”

Waktu Tatsumi berbalik, ia melihat Pendeta Junior Verse yang ia temui di dapur tadi.

Tidak ada malunya, dia telanjang bulat di hadapannya dan setelah menunjukkan senyuman ramah, ia masuk ke bak mandi bersebelahan dengan Tatsumi.

“Kamu di sini juga?”

“Yep. Kalau bicara tentang gimana istirahat setelah bekerja seharian, pasti jawabannya pemandian.”

Sehabis diberi tahu Verse seperti itu, Tatsumi melihat sekitar dan memang, semuanya berendam di pemandian dengan wajah yang sangat santai.

“Hoow. Jadi orang-orang di negara ini juga suka pemandian yaa.”

“Oh? Kalau gitu orang=orang di kota mu juga suka mandi?”

“Iya. Kita mandi tiap hari. Beberapa orang juga ada yang mandi di siang hari.”

“Hoow, itu kehidupan mewah. Untuk masak air buat mandi aja merepotkan, jadi wajar kalau di negara ini orang hanya dapat mandi pada waktu-waktu tertentu saja.”

Seperti yang Verse bilang, berbeda dengan Jepang dimana jumlah air panas dalam jumlah besar dapat disiapkan dengan cepat, di negara ini mereka hanya memiliki sedikit metode untuk menyiapkan air panas. Karenanya mereka memiliki waktu tertentu untuk mandi setiap harinya.

Sehingga orang-orang kebanyakan mandi pada waktu yang sama, dan menjadi ramai seperti ini.

“Tapi yaa, kita masih bisa mandi tiap hari. Meski dalam menjadi pendeta harus ngelakuin beberapa praktek keagamaan dan juga pekerjaan, tapi pada akhirnya ini adalah pilihan yang tepat.”

“Kalau gitu, sebelum jadi pendeta, kamu gak bisa mandi setiap hari?”

“Iya. Aku dulu berasal dari desa kecil. Gak ada tempat pemandian layaknya di ibukota ini, jadi satu-satunya cara untuk membersihkan diri adalah di sungai. Karena itu, bisa mandi kayak gini tiap hari adalah mimpiku dari dulu.”

Sambil membersihkan badannya di air panas, Verse tersenyum menyatakan kalau mimpinya akhirnya menjadi kenyataan.

“Ah iya. Tatsumi, sejak kapan kamu datang ke kuil? Aku gak pernah ingat melihatmu sebelumnya sampai baru-baru ini.”

“Baru 2 hari aku di sini.”

“Ah begitu? Sudah kukira. Yaa mulai sekarang kita akan kerja sama-sama kan? Salam kenal kalau gitu.”

“Ah… Tentang itu…..”

Tatsumi memberi tahu Verse kalau ia sudah punya rencana untuk pindah ke rumah yang terpisah.

“Ayolah. Kamu baru datang ke sini dan sudah langsung pindah ke rumah? Hmm, kamu pasti punya nama marga kan? Apa kamu berasal dari bangsawan tempat kamu tinggal?”

Dari cara Verse mengatakan, Tatsumi dapat menebak kalau rakyat biasa di negara tidak memiliki nama marga.

“Rakyat biasa di negaraku juga memiliki nama marga. Jadi aku bukan berasal dari bangsawan atau orang kaya atau sejenisnya.”

Setelah mencuci wajahnya dengan air panas beberapa kali, Tatsumi juga mulai membersihkan badannya seperti Verse.

Sekali lagi, Tatsumi menyadari kalau orang Jepang seperti dirinya mandi merupakan hal yang wajib.

“Tapi tunggu, Tatsumi? Karena kamu akan tinggal di rumahmu sendiri… kamu gak tinggal sendirian di situ kan?”

Tatsumi yang dari tadi bersantai di tempat pemandian, tiba-tiba berubah menjadi kaku.

Dan melihat Tatsumi seperti itu, Verse mulai meringis jahil.

“Hoho! Melihatmu seperti itu, seperti yang kukira, kamu gak sendirian kan? Jadi? Siapa partnermu? Apa dia orang kuil juga?”

“E-enggak, itu….”

Dan seperti itu, Tatsumi mulai khawatir apakah boleh menyebut nama Calcedonia di sini.

Dari reaksi Bogart tadi, Tatsumi dapat menebak dengan pasti kalau Verse akan menunjukkan reaksi yang sama. Dan selain itu, ada banyak orang yang hadir di sini selain mereka.

Dan jika mereka tahu kalau orang yang akan tinggal bersama dengannya adalah Calcedonia, pasti tidak akan hanya berakhir dengan kaget biasa. Tatsumi sudah dapat tahu seberapa besar status yang dimiliki Calcedonia.

Ketika Tatsumi berpikir bagaimana cara menenggelamkan situasi genting ini ke dalam air panas, Verse melihatnya dengan pandangan yang mengatakan, ‘Yeap, ok bro. Gak usah dibicarain keras-keras.’

“Yaa, setelah kamu menyelesaikan beberapa urusan di tempat barumu, ajak aku ke sana, ok? Dan kenalin istrimu. Atau, apa baiknya aku membantumu dalam proses pindahnya?”

“O-Ok. Baiklah. Tolong bantu kalau gitu.”

Ketika ia entah gimana bisa menghindari situasi genting itu, Tatsumi sekali lagi merelakskan badannya di air panas.


***


Setelah itu, ia berbincang-bincang beberapa kali dan setelah selesai membersihkan semua badannya, Tatsumi dan Verse meninggalkan tempat pemandian bersama-sama.

Ngomong-ngomong, sabun juga merupakan barang mewah tapi bagi para Pendeta Junior, kuil yang menyediakan sabun-sabun tersebut.

Mereka mengeringkan* badan mereka lalu lanjut berpakaian. Dan baru saja akan berjalan melewati lorong, mereka tiba-tiba berpapasan dengan orang tertentu.

(TL Notes : Lebih tepatnya handukan)

“Oh! Master? Apa master baru saja mandi?”

Orang yang barusan memanggil Tatsumi adalah Calcedonia yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

Pipi agak pink memerah karena uap air panas dan rambut basahnya membuat Calcedonia menjadi semakin menawan dari biasanya.

Melihat Calcedonia seperti itu, detak jantung Tatsumi menjadi langusng berdetak kencang.

“I-Iya. Chiiko juga?”

Sambil Tatsumi menjawab dan berpikir apakah Calcedonia sadar atau tidak akan detak jantungnya, Calcedonia terlihat sedikit malu dan secara imut mendundukkan kepalanya.

“Ma-Master… Kalau master tidak keberatan, apa aku boleh berkunjung ke ruangan master malam ini? Ki-kita…. Kita kan bentar lagi akan tinggal sama-sama jadi, sebaiknya kita mendiskusikan beberapa hal dan…. Oh iya! Dan aku akan bawa beberapa manisan (snack) dan teh. Atau master lebih ingin anggur daripada teh?”

“Ah, ba-baiklah. Maksudku, teh aja.”

“Baiklah. Ok, sampai nanti.”

Setelah mendapatkan persetujuan Tatsumi, mungkin dia agak sedikit terlalu bahagia, Calcedonia memperlihatkan senyuman berbinar-binar dan hampir meloncat-loncat kegirangan waktu berjalan balik.

Melihat Calcedonia tersenyum seperti itu, Tatsumi lalu juga bersiap-siap balik ke ruangannya sendiri.
Tapi ia melihat Verse yang terdiam dengan mata terbuka lebar.

“O-Oi… Emm… Tatsumi… Orang…. Orang barusan itu…. Itu tadi <<Holy Maiden>>-sama… Calcedonia-sama… iya kan?”

“I-Iya. Memang… tadi dia…”

“Dari percakapanmu barusan dengan Calcedonia-sama… orang yang akan tinggal bersamamu… jangan-jangan…”

Kali ini, bagaimana cara dia dapat membohonginya sekarang? Yaa, orang bodoh sekali pun pasti akan sadar kalau hal ini sudah tidak mungkin.

Setelah berpikir seperti itu, Tatsumi menghembuskan nafas dalam-dalam seakan menyerah pasrah.


***


Ia tidak dapat berpaling untuk melototi punggung belakang laki-laki itu.

Ia hampir tidak dapat memberhentikan gejolak api amarah dari pendengarannya. Jika mungkin, ia mau langsung pergi dan menjatuhkan lelaki itu sekarang juga dan mencekik lehernya sampai dia berhenti bernafas. Tapi dengan orang sebanyak ini di sekelilingnya, ia tidak bisa.

Ia tidak mau mendengarnya, tapi ia tidak sengaja menjadi mendengar.

Percakapan yang ia tidak dapat abaikan, topik yang dibicarakan lelaki itu dengan teman sesama pendeta junior.

Ya.

Itu adalah percakapan tentang lelaki tersebut pindah ke rumah yang terpisah.

Ia tahu maksud dari seorang pendeta pindah dari kuil ke rumah yang terpisah. Dan ketika lelaki tersebut pindah, juga siapa yang akan ikut pindah dengannya.

Lelaki yang Pendeta Tertinggi Ajaran Savaiv, Yang Mulia Tuan Giuseppe Chrysophrase, menyebutnya orang berasal dari negeri luar.

Dan Giuseppe itu memanggil lelaki ini ‘Sang Menantu’ tanpa ada keraguan sedikit pun.

Dengan kata lain Giuseppe, kakek Calcedonia Chrysophrase, di saat yang sama ayah angkatnya, memanggil lelaki itu tunangan Calcedonia.

Ia menghormati dan mengagumi Giuseppe sebagai Pendeta Tertinggi Ajaran Savaiv dari hati paling dalam. Baginya, anak angkat dari Giuseppe itu, yang dipanggil dengan sebutan <<Holy Maiden>> adalah orang yang sangat dihormatinya.

Tetapi lebih dari itu, selama ini ia memiliki perasaan cinta yang tersembunyi pada gadis yang bernama Calcedonia. Tidak mungkin ia membiarkan lelaki sembarangan tanpa latar belakang yang jelas mencuri Calcedonia darinya.

Ia menggigit giginya keras-keras. Teman kerjanya menoleh ke arahnya dan setelah mendengar ada suara tetapi setelah mengetahui siapa yang melakukannya, dia langsung melihat ke arah lain.

--Gak akan aku tetap diam dan membiarkan Calcedonia dicuri dariku!

Tidak masalah apa hubungan lelaki itu dengan Calcedonia, semua itu bukan masalahnya.

Ketika api yang bergejolak di hati dalamnya semakin membesar, ia (laki-laki) membuat senyuman gelap yang sampai dia sendiri tidak sadar.


Sambil ia membayangkan dirinya memeluk Calcedonia kesayangannya di pelukannya.


(Yep, sayangnya gak ada illustration nya di sini, padahal bagus kalau ada,, stay tuned next chapter)

No comments:

DMCA.com Protection Status