Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 18 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 18 Bahasa Indonesia

July 06, 2017 Reisen

Chapter 18 - Bisikan Iblis

Translator : Reisen



Wanita itu…. Apa kamu gak mau wanita yang berbadan empuk itu?

Ketika ia mendengar suara yang tidak terdengar seperti sebuah suara berbisik di telinganya, hatinya bergetar mengeluarkan detakan. Ia menolehkan kepalanya ke belakang dengan kuat, tetapi layaknya robot melihat ke arah gadis yang berdiri sedikit lebih jauh dari dirinya.

Dia adalah perempuan yang selalu bersamanya semenjak pertama kali ia ditunjuk dalam misi exorcise dari kuil.

Dia adalah perempuan yang selalu, selalu, berada dalam hatinya.

Dan sekarang ini dia ada di situ. Jika ia mengulurkan tangannya, ia dapat menggapainya.

Benar. Buat wanita itu menjadi milikmu. Ayo, lihat dia ba~ik-baik. Buah dadanya hampir keluar dari pakaian sobeknya. Itu adalah caranya untuk menunjukkan itu padamu. Dia mengundangmu. Nah, terimalah undangan wanita itu. Karena itu adalah yang paling dia inginkan

Suara itu terus berbisik di telinganya. Dan dia Morganeich mengangguk. Dia meninggalkan pedangnya sambil melangkah maju menuju <<Holy Maiden>>.

Tetapi ia hanya mengambil satu langkah.

Sesuatu berbisik di telinganya. Ia harusnya tahu identitas dia sebenarnya, tapi entah mengapa kepalanya menjadi samar-samar sehingga tidak dapat mengingatnya.

Tapi tetap saja, di suatu tempat dalam hatinya ada alarm yang sedang berbunyi.

Ketika Morganeich melepaskan pedangnya, ia memegang kepalanya dengan tangannya.

Aku gak boleh denger ini! Gak akan ada berita bagus kalau aku mendengar suara ini.

Walaupun ia berpikir seperti itu, suara tersebut sangatlah nyaman untuk didengar. Suara itu semakin lama semakin memakan kesadaran Morganeich.

Ada apa? Apa kamu tidak mau membuat wanita tersebut menjadi milikmu? Bukankah kamu selalu memikirkan dia? Sekarang ini kamu bisa membuatnya menjadi milikmu lho? Tidak usah ragu-ragu. Buatlah seluruhnya menjadi milikmu.

Suara bisikan tersebut pelan-pelan berlanjut.

Dan seakan dituntun oleh suara tersebut, Morganeich melihat ke arah Calcedonia.

Ke arah perempuan yang selalu menjadi impiannya. Perasaannya terhadap dia mungkin muncul sejak pertama kali ia bertemu dengannya.

Sehingga ia ingin menjadikan dia sebagai miliknya. Tidak menyerahkan dia kepada laki-laki lain, selalu memeluknya di dadanya.

Ia ingin menyayanginya. Diam-diam berjanji pada Dewa, jika ia akan melindunginya dari segala ancaman.

Kedua pikiran yang berkontradiksi ini bertengkar di dalam Morganeich.

Mereka bertarung dan bertarung, dan akhirnya pemenangnya sedikit mengarah ke ia ingin menyayanginya sendiri.

Di pojok matanya, ia melihat sesuatu bergerak tiba-tiba.

Seorang laki-laki.

Dia baru-baru ini datang ke kuil, dan menjadi sangat intim terhadap Calcedonia. Sejujurnya, Morganeich tidak suka itu.

Hatinya berdesir sedikit. Dan ‘sesuatu’ itu tahu akan desiran tersebut, sehingga ‘itu’ langsung merangsang memperlebar desiran tersebut.

Kamu tidak suka laki-laki itu? Kalau gitu…. Kenapa gak langsung sikat saja? Atau apa kamu baik-baik saja jika membiarkan wanita tersayangmu mengikuti lelaki lemah seperti dia?

Tidak mungkin dirinya baik-baik saja! Tidak mungkin dirinya mau membolehkan lelaki tidak jelas seperti dia berada di sampingnya.

Kalau gitu cepat lah dan hancurkan si lemah berisik itu. Aku yakin wanita kesayanganmu juga merasa kesal diikuti lelaki lemah seperti dia.

-Benar. Sama seperti orang-orang bangsawan itu, aku yakin Calcedonia merasa kesal selalu mengikuti laki-laki itu.

Benar. Benar sekali. Membersihkan serangga sepertinya sama saja seperti melindungi wanita kesayanganmu. Dan jika kamu melakukan itu, aku yakin wanita itu akan berterima kasih, dan bahkan akan membuatmu berada di hatinya.

-Aku akan memusnahkan laki-laki itu. Aku yakin Calcedonia juga akan bahagia.

Perasaan senang, tapi dengan ekspresi malu-malu, Morganeich mengambil pedang kesayangannya sambil membayangkan wajah ceria Calcedonia.




Dan ‘sesuatu’ tersebut diam-diam mengeluarkan tawa kecil.

Manusia baru yang ia pilih sebagai korban. Orang sebelumnya juga memiliki nafsu yang sangat besar, tapi yang ini juga tidak kalah besarnya.

Dan ‘nafsu’ adalah makanan’nya’.

Semua makhluk hidup setidaknya memiliki hawa nafsu. Bahkan hewan liar memiliki nafsu untuk makan dan berkembang biak, bersama dengan bentuk nafsu-nafsu lainnya. Tapi semua itu lebih kepada insting mereka untuk hidup ketimbang sebuah nafsu, jadi untuk sebuah nafsu, itu bukan hal-hal kuat.

Dari semua makhluk hidup, satu spesies memiliki nafsu yang banyak serta kompleks. Mereka adalah manusia.

Dalam kehidupan manusia, berbagai hawa nafsu selalu ada berputar di sana.

Hawa makan, kekayaan, gairah seks, ketenaran, dan sebagainya.

Nafsu negatif dengan jumlah besar dan kompleks semuanya bersatu, bagi ‘itu’, hal-hal tersebut sudah pasti sangat lezat. Itu sebabnya, untuk mencari kesempatan mengambil alih mereka, ‘mereka’ selalu mengamati manusia yang memiliki keinginan jahat.

Nafsu orang tadi memang lezat, tapi sepertinya nafsu orang ini akan terasa lebih enak.

Keinginan murni akan seorang wanita. Tetapi keinginan murni sekalipun akan menjadi perasaan jahat jika keinginannya terlalu jauh.

‘Itu’ merangsang nafsu-nafsu murni manusia, menguatkannya, membuatnya menjadi nafsu jahat. Lalu memakan semua nafsu jahat tersebut.

Bahkan sekarang ini, ‘itu’ telah menjadikan cinta murni orang ini pada wanita itu menjadi nafsu tidak baik bagi dirinya.

Tetapi.

Semangat manusia ini lebih kuat dari yang ‘itu’ bayangkan.

Dia hampir berhasil mengembalikan nafsu jahat yang telah diperkuat tersebut menjadi keinginan murni seperti sebelumnya.

Karenanya, ‘itu’ mengganti cara pendekatan.

Daripada mengubah cinta manusia terhadap wanita, ‘itu’ merangsang perasaan iri yang ia punya terhadap lelaki yang selalu ada di sekitar wanita tersebut.

Karena iri dan cemburu juga merupakan salah satu nafsu seseorang untuk memonopoli kesayangannya. Perasaan jahat akan kecemburuan yang dapat ‘itu’ gandakan dalam lelaki tersebut terasa sangat-sangat lezat dari nafsu yang pernah ‘itu’ rasakan sebelumnya.

“Sekarang, bunuh lelaki itu. Setelah itu, perkosa wanita itu.”

Pelan tapi pasti, jika ‘itu’ dapat merasuki manusia ini, maka orang ini pasti akan menjadi demon yang sangat patuh pada nafsunya dan tanpa sedikit pun bisa sadar.

‘Itu’ menyeruput sedikit nafsu yang terkumpul di dalam lelaki tersebut sambil tersenyum lebar.




“Morga….?”

Morganeich menjadi tidak berekspresi, berbeda dengan sebelumnya.

Setelah dengan kuat menolehkan kepalanya, ia tanpa gerakan melihati Calcedonia.

Lalu matanya yang kosong, secara perlahan mulai muncul kembali sebuah cahaya…

Tetapi cahaya tersebut bukan cahaya tegang tapi baik yang biasa ia punya, tapi cahaya merah ganas.

“M-Morga…? Ja-Jangan-jangan…. Tidak hanya Baldeo-sama tapi kamu juga…”

Cahaya itu adalah bukti kalau ia telah diambil alih oleh <Devil>.

Sampai sekarang Morganeich adalah salah satu ksatria terkuat yang pernah bertarung dengan Demon. Tetapi bahkan untuk ksatria itu sendiri telah menjadi salah satu dari mereka.

Calcedonia berdiri menganga di sana, karena ia tidak dapat menerima kenyataan kalau Morganeich sekalipun dapat dirasuki.

Pandangan Morganeich berganti dari Calcedonia ke Tatsumi yang sedang berdiri di belakang.

Sesaat setelah melihat sosok Tatsumi, ekspresi Morganeich berubah menjadi amarah besar. Ketika ia mengangkat pedang yang ia ambil ke atas kepalanya, ia meluncur ke arah Tatsumi dengan kecepatan yang luar biasa.

Ia terlihat seperti iblis jahat yang marah melaju ke depan. Dan Tatsumi, yang melihat iblis jahat sedang meluncur ke arahnya tersebut, tidak dapat berbuat apa-apa selain ketakutan dan ketakutan itu membuatnya tidak dapat bergerak dari tempat ia berdiri.

Morganeich, yang sekejap telah sampai ke lokasi Tatsumi, mengibaskan pedangnya kebawah yang tadi ia naikkan ke atas kepala.

Tetapi sebelum pedangnya sampai pada Tatsumi, ledakan petir berwarna ungu mengenai badannya.

Badan Morganeich terlempar karena kejutan yang mengenai bagian samping badannya.

Tatsumi, yang akhirnya terlepas dari ketakutannya, melihat ke arah dimana petir itu berasal, dan melihat Calcedonia sedang mengulurkan tangan kanannya.

“Bahkan jika Morga sekalipun, aku gak akan memaafkan siapapun yang mencoba menyakiti master!!”

Setelah menyatakan hal itu dengan tenang, ia sekali lagi mulai membaca mantra, berdiri diantara Morganeich dan Tatsumi.

Ia barusan tercengang kaget, tapi setelah melihat kesayangannya berada dalam bahaya, ia langsung kembali tenang.

Setelah mantranya selesai, petir sekali lagi keluar dari tangannya dan mengenai Morga yang terjatuh di tanah.

Morganeich, yang berkali-kali terkena ledakan petir, kejang-kejang dan menggeliat di atas tanah bagaikan ikan di lahan kering.

“O-Oi, Chiiko…. Kayaknya terlalu berlebihan…. Apa Morga baik-baik saja….?”

“Tidak apa-apa!! Aku juga tidak memakai kekuatan penuh! Dan Morga juga bukan orang lemah yang bisa mati cuma diginiin!! Lagian, bagi dia yang mau mencoba dan menyelakai Master, melepasnya cuma dengan begini masih terlalu ringan!!”

Calcedonia mengatakan blak-blakan. Matanya sangat tenang.

Uwwaaaaa! Tatsumi memasang muka takut terdiam. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya berdoa untuk keselamatan Morganeich.

Sambil berpikir seperti itu, Morganeich yang tergeletak terkena ledakan petir berkali-kali lalu mulai mengeluarkan rintihan.

Sekuat apapun tubuhnya, ini tetap berlebihan kan? Nyawanya pasti dalam bahaya kan? Tatsumi mulai khawatir sekarang. Calcedonia berhenti membaca mantra dan akhirnya memberhentikan serangan ledakan petir yang berturut-turut tersebut.

“……..Sekarang ini dia melemah, jadi kemampuan menolak pembersihan juga menurun. Aku akan memusnahkan <Devil> yang merasuki dia sekarang.”

Calcedonia memulai sihir <<Exorcise>> untuk ketiga kalinya.

Tapi Tatsumi bertanya pada hatinya “Apa itu yang sebenarnya terjadi?”; tidak lama sihirnya selesai dan Morganeich, yang terkapar di tanah, terbenam dalam cahaya.

Itu adalah cahaya pembersihan <<Exorcise>>. <Devil> yang terbenam dalam cahaya ini tidak akan bisa bergerak lalu musnah.

Beberapa dapat bertahan dari cahaya pembersihan dari waktu ke waktu, tapi pada akhirnya, ‘Bertahan’. Kalau dia terkunci dalam cahaya itu sekali lagi, sudah tidak ada cara untuk kabur.

Tapi sekarang ini. Dari dalam cahaya sihir <<Exorcise>> Calcedonia, ada sesuatu yang dengan dahsyat melompat.

‘Sesuatu’ itu Morganeich, mengeluarkan raungan ganas sambil menyerang Calcedonia.

Morganeich, yang telah kehilangan dirinya karena kesakitan <Devil> yang dirasakan di dalam cahaya pembersihan, derita dari iblis, dan terlebih lagi dari kemarahan dahsyatnya, ia mengangkat pedangnya ke arah wanita yang dicintainya.

Itu adalah benar-benar serangan yang tiba-tiba. Karena, <Devil> yang keluar setelah terkunci di dalam tembok cahaya tidak pernah terjadi sebelumnya, Calcedonia lengah untuk sesaat.

Hal ini dapat terjadi karena daya tahan badan Morganeich yang kuat.

Calcedonia melihat teman dekatnya meluncur ke arahnya dengan wajah bengis. Terlebih lagi, di tangannya terdapat pedang bersinar tajam.

Calcedonia membuka matanya kaget. Badannya masih tetap diam seakan ada sesuatu yang mengikatnya.

Di hadapannya, Morganeich yang sedang memegang pedang mengayunkan pedang tersebut. Sabetan horizontal yang dikeluarkan dengan kecepatan super memiliki kekuatan untuk membelah badan langsing Calcedonia menjadi dua.

Pedangnya datang dari arah samping.

Dan <<Holy Maiden>> yang berdiri di tempat tidak punya waktu untuk menghindar.

Pedangnya semakin lama semakin cepat sampai berubah menjadi kilatan sama seperti ledakan petir yang dikeluarkan Calcedonia barusan.

Lalu, pedang <<Freedom Knight>> yang telah dirasuki <Devil> menyerang badan <<Holy Maiden>>.




Pedangnya telah dieksekusikan dengan baik.

Percikan darah bertebaran di mana-mana.

*Splaattt*tanpa menghapus darah yang ada di wajahnya, Calcedonia yang terbaring di tanah terkaget melihat kejadian di hadapannya.

Karena sebelum pedang Morganeich mencapai dirinya, badannya tiba-tiba terdorong ke samping, dan ia terjatuh.

Aliran cairan merah hangat mengalir dari samping wajahnya.

Di saat yang sama, bau besi menyebar di sekitaran. Calcedonia yang telah bertarung melawan para Demon dan para monster banyak kali hingga sekarang menyadari kalau bau itu tidak lain dan tidak bukan adalah bau darah.

Dan, ketika ia melihat keatas, yang dilihatnya adalah, sosok seorang lelaki yang dicintainya jatuh ke bawah, memuncratkan banyak darah sehabis dadanya terkena pedang <<Freedom Knight>>.

No comments:

DMCA.com Protection Status