Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 25 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 25 Bahasa Indonesia

July 22, 2017 Reisen

Chapter 25 - Ambisi Calcedonia

Translator : Reisen




Sebelumnya ada beberapa pemberitahuan terlebih dahulu, translation ore no pet akan kembali pada jadwal awal, seminggu sekali atau 2 minggu sekali, atau bahkan sebulan sekali!! Lol.  Intinya kalau lagi mood. Mengapa? Karena saya semakin gak sabaran tentang cerita lanjutannya, baca sambil translate terlalu lambat!! Karena sibuk pada RL sialan ini, mengingat semakin banyak praktek turun lapang.

Juga bagi yang memang mau translationnya cepet, donate me pls… Setiap beberapa receh dari kalian sangat berharga sekali.

Dan sebagai trial, setiap 100k terkumpul (berdasarkan peraturan web isekai), saya akan merelease chapter 52 ke atas, yang mana dari web translator English nekoyashiki hanya sampai chapter 51, yay!! Dan tentu saja itu Bahasa Indonesia.

Masalah kontak donate ada di bawah web tiap chapternya nanti. Langsung saja selamat membaca!!

----------------------------------------------------------

Sekarang ini, di depan Tatsumi terdapat kasur yang sangat besar.

Tempatnya di salah satu ruangan dalam rumah Tatsumi. Ruangan yang awalnya mereka tidak berencana untuk gunakan.

Kasur itu dua kali lebih besar dari kasur yang Tatsumi pakai. Dengan kata lain, kasur yang dinamakan kasur king-sized atau queen-sized*. Tapi karena ia sendiri belum pernah melihat kasur seukuran itu sebelumnya, dia tidak terlalu yakin.

(TL Notes : ukuran kasur yang sangat besar, malas ngartikan)

Dan tentu saja, karena ini bukan kasur yang berasal dari bumi, kasurnya tidak terbuat dari matras, melainkan menggunakan tumbuhan-tumbuhan kering yang ditumpuk.

Tapi jika dilihat dari bagian kayunya, terdapat berbagai macam bentuk ukiran-ukiran. Tidak salah lagi ini adalah barang kelas vip.

Namun, Tatsumi tidak ingat sedikit pun pernah membeli kasur tersebut.

Kemarin malam, walaupun satu kamar, Tatsumi dan Calcedonia masing-masing tidur di kasurnya sendiri. Tatsumi memakai kasur yang terbawa dari dunianya.

“A…Ada apa….ini…?

“I-Ini…umm…..ini hadiah dari kakek untuk merayakan kita pindah rumah. Baru datang tadi siang....”

Pipi Calcedonia memerah, terlebih dari itu, ia terlihat senang malu-malu sambil melihati bolak-balik antara Tatsumi dan kasur besar tersebut.

Rupanya ini ulah si kakek! Ia berpikir ada yang aneh, ketika Tatsumi meninggalkan ruang kelas tadi, Giuseppe senyum-senyum sendiri. Jadi ini maksudnya!

“Tapi….ini kasur besar sekali...”

Seakan menyembunyikan kemaluannya, Tatsumi duluan menghampiri kasur tersebut. Setelah memperhatikan kembali secara dekat, ia sadar akan besarnya kasur itu.

Ini bagaimana pun juga bukanlah kasur untuk seorang diri. Yaa, meskipun akan sangat nyaman jika dipakai sendiri, tapi yakin bukan itu tujuannya.

Tatsumi menghadap Calcedonia dengan wajah memerah.

“T-Terus…Chiiko mau tidur sama-sama di kasur…ini..kan?”

Ketika Tatsumi tanya begitu, wajah Calcedonia langsung tersenyum dan menjawab “Ya!”




“Sudah lama…..Sudah lama aku memimpikan ini. Bisa…..Bisa tidur di kasur yang sama dengan master….”

“Sudah sejak lama?”

“Ya.. sejak aku masih kecil dulu….ini adalah mimpi yang bahkan sejak sebelum itu……”

Calcedonia mengatakannya malu-malu, tetapi terlihat senang, sambil menaruh tangannya pada pipi yang berubah menjadi pink tersebut.

“Sejak masih kecil?....Bentar, apa maksudmu dari kehidupan sebelumnya…dari sejak masih seekor burung Cockatiel?”

“Ya. Aku selalu besama-sama dengan master waktu itu. Tentu, aku selalu berada di dalam kandang waktu master gak di rumah….tapi setelah master pulang aku selalu langsung dikeluarkan.”

Ketika dia masih seekor burung Cockatiel, setiap Tatsumi di rumah ia selalu berada di luar kandang.

Tentu saja ketika Tatsumi keluar rumah, ia selalu memasukkan Chiiko ke dalam sarang burungnya karena takut jika terjadi kenapa-kenapa, tetapi hal yang pertama kali dilakukan ketika ia pulang ke rumah adalah mengeluarkan Chiiko dari kandang.

Chiiko dulu termasuk hewan yang pintar, jadi ketika dia merasa lapar ia akan kembali ke sangkarnya untuk makan, dan ketika ia merasa haus ia akan langsung minum sendiri.

Dan setelah keluar dari kandangnya lagi, dia akan langsung duduk* diam di atas pundak atau di kakinya Tatsumi selama berjam-jam.

(TL Notes : kayaknya lebih tepat kalau bersinggah)

Dan ketika Tatsumi ingin tidur, ia akan memasukkan Chiiko kembali ke kandangnya.

Jika mereka tidur bersama-sama, bisa saja ia secara tidak sengaja menindis dan menghancurkan Chiiko. Karena takut seperti itu Tatsumi selalu memasukkannya ke dalam kandang saat ia tidur.

“Aku tahu master melakukan itu karena menyayangiku….Tapi! Aku tetap saja merasa kesepian….Dan akhirnya, akhirnya sekarang aku bisa tidur bersama master sekarang!!”

Calcedonia menjawab itu sambil mengepalkan telapak tangannya.

Benar! Ini adalah sebuah ambisi. Ambisi Calcedonia yang ia inginkan sejak sangat dulu sekali.




Seorang perempuan dan seorang laki-laki remaja tidur di satu kasur yang sama.

Mereka yang menganggap kalimat tersebut tidak memiliki makna lain paling-paling hanyalah anak-anak di bawah umur.

Dan tentu saja, Tatsumi bukanlah anak kecil. Sehingga, Tatsumi langsung berpikir [Body Language of Love]. Ia jadi kepikiran itu terus.

Disamping tinggal satu atap dengan Calcedonia, dia juga telah mendapat persetujuan ke arah ‘itu’ sebagai lawan jenisnya. Jadi Tatsumi selalu berpikir bahwa suatu hari nanti maka hubungannya dengan Calcedonia akan menuju ke jalan ‘itu’. Bukan, mungkin ‘itu’ adalah yang Tatsumi terus harapkan.

Tapi, itu seharusnya masih berada sangat jauh!

Setidaknya, itu harusnya terjadi ketika Tatsumi mendapat sejenis tempat kelas sosial di dunia ini.

Selagi mereka berdua tinggal bersama, gak susah bagi Tatsumi untuk mendorong* Calcedonia, dan Calcedonia mungkin akan dengan bahagia menyetujuinya.

(TL Notes : IYKWIM, push down / mendorong dalam arti ‘itu’)

Tatsumi yang belum pernah merasakan rasa lawan jenis itu bagaimana, jika dia, menyicipi rasa manis madu yang bernama Calcedonia sekali saja, dia yakin sekali bahwa dirinya nanti tidak akan berhenti sampai di situ dan akan menjadi ganas seketika.

Dan hasilnya nanti, kedepannya Calcedonia akan menghasilkan hasil buah mereka dari dalam perutnya.

Bukannya Tatsumi takut akan Calcedonia menjadi hamil. Tapi sekarang ia terlalu bergantung pada Calcedonia. Sehingga jika dia menjadi ayah sekarang, ia tidak dapat tahan hidup sebagai ayah yang tidak berguna.

Paling tidak,

Paling tidak, meskipun belum sampai pada level Calcedonia, dia menginginkan dirinya dapat menopang sisi ekonomi keluarganya.

Menikah dengan Calcedonia, lalu berhubungan intim, Tatsumi berpikir semuanya akan dilakukan setelah melewati tahap itu.

Dengan kata lain, semua itu hanyalah harga diri serta kebanggaan lelaki yang hipokrit. Tapi tetap saja Tatsumi memegang pemikirannya tersebut.

Tetapi tiba-tiba, baru dua hari setelah tinggal berumah tangga dengannya saja, ia sudah diajak naik ke atas kasur oleh Calcedonia. Hal itu benar-benar sangat di luar dugaan.

Calcedonia sendiri harusnya sadar akan keberadaan dirinya sebagai perempuan dan Tatsumi sebagai laki-laki.

Pelayan wanita kuil Savaiv, para pendeta perempuan memiliki kewajiban untuk membantu anak yang baru lahir keluar ke dunia ini, dengan kata lain, sebagai seorang bidan.

Savaiv adalah Dewa Pernikahan. Dia juga disebut sebagai Dewa Harta yang dinamakan anak. Membantu seseorang melahirkan, dan memberkati anak yang terlahir ke dunia tersebut adalah kewajiban penting bagi para pendeta kuil Savaiv.

Untuk itu, pelayan atau pendeta perempuan kuil harus melewati beberapa pelatihan, dengan kata lain, mereka diberi kelas sex education (TLN : pembelajaran mengenai sex). Yang diantaranya bagaimana cara-cara memperlakukan bayi dalam kandungan, bagaimana seorang pria dan perempuan membuat anak, dan terakhir bagaimana cara melahirkan yang aman, semuanya diajarkan oleh wanita-wanita senior kuil.

Tentu saja di dunia tidak ada ilmu-ilmu ilmiah serta ilmu medis seperti di jaman Jepang modern, tapi semuanya berasal dari pengalaman-pengalaman serta pengetahuan yang diambil dari kejadian-kejadian sebelumnya. Sehingga untuk menggunakan pengalaman serta pengetahuan tersebut, para pendeta perempuan diajarkan menjadi seorang bidan.

Sebenarnya, ada fakta yang Tatsumi tidak tahu, Calcedonia tidak pernah bekerja sebagai bidan. Tapi dia hanya menjadi pembantu para bidan-bidan beberapa kali.

Jadi tidak mungkin Calcedonia tidak tahu apa arti ‘lain’ dari laki-laki dengan perempuan yang tidur bersama-sama di atas satu kasur.

Tetapi, ketika Tatsumi kembali melirik ke arah Calcedonia.

Sekarang ini sepertinya yang ia inginkan hanyalah ingin tidur bersama Tatsumi di kasur yang sama.

Ia terus-menerus berharap akan ambisinya itu dari kehidupan sebelumnya yaitu seekor burung Cockatiel, ambisi untuk tidur dekat dengan masternya.

Tentu saja, dia juga agak sedikit berharap. Cepat atau lambat, dia akan berhubungan intim dengan masternya. Dan di badannya itu, ia akan membuahkan seorang anak.

Tetapi untuk sekarang ini, daripada harapannya itu, ia lebih memprioritaskan ambisi besarnya.

Tatsumi melihat mata ruby merahnya itu berbinar-binar layaknya anak kecil, dan ahoge di kepalanya bergerak ke sana kemari seperti ekor anjing.

Setelah melihat itu, ia merasa bodoh terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh.

Calcedonia hanya ingin tidur bersama masternya saja.

Memang dia akan menyesal jika mereka tidak melanjutkan ke ‘tahap’ berikutnya.

Tapi untuk sekarang, yang paling Calcedonia inginkan hanyalah tidur di atas kasur yang sama, memeluk serta merangkul satu sama lain, juga merasakan temperature badan mereka masing-masing.
Itu sebabnya, Tatsumi menganggukkan kepalanya pelan pada Calcedonia yang matanya berbinar-binar dengan penuh harapan.




Tatsumi dan Calcedonia makan malam setelah mandi bergantian.

Dan sekali lagi mereka berdua kembali ke ruangan dimana kasur besar tersebut berada.

Kemarin, ia berpikir untuk menggunakan ruangan ini sebagai ruang serta kamar tamu, tapi mulai sekarang sepertinya ruangan ini menjadi kamar couple master dengan Calcedonia.

Hari ini, mereka hanya akan tidur bersama. Mereka mengganti pakaian menjadi pakaian tidur lalu berbaring di kasur besar tersebut.

Calcedonia agak sedikit malu, tetapi lebih ke arah bahagia.

Sedangkan Tatsumi seluruh tubuhnya memerah karena terlalu malu, dan pada akhirnya ia tidak berani bertatapan langsung pada Calcedonia.

Meskipun begitu, mereka bisa memandang satu sama lain dan tersenyum bersama.

“Ok, aku matiin lampunya yaa?”

Bisik Calcedonia pelan, sihir <<Penerangan>> (Glow) dimatikan.

Ruangannya menjadi benar-benar gelap, tetapi setelah beberapa saat mata mereka menjadi terbisa.

Di kegelapan, sosok Calcedonia terbayang dalam pikiran Tatsumi.

Tangan mereka berdua memegang satu sama lain, dan mereka berada di bawah selimut.

Saat ini, daerah kerajaan berada pada musim laut. Sepertinya ini adalah musim semi. Setelah itu, diikuti musim pendek matahari dan musim panen, dan terakhir musim panjang malam.

Sekarang ini selimutnya cukup dengan ini saja. Tetapi ketika musim dingin datang nanti, mereka akan butuh selimut tebal yang memiliki banyak lapis kulit binatang serta monster. Calcedonia terus berbincang-bincang seperti itu dengan Tatsumi.

Di kegelapan, dimana mereka dapat melihat sedikit bayangan masing-masing, mereka terus dengan pelan berbincang-bincang.

Mereka berbicara tentang kehidupan mereka sebelumnya, kehidupan Calcedonia setelah muncul di dunia ini, dan tentang rencana mereka ke depannya.

Di momen yang tenang dan nyaman ini, mereka bahkan lupa akan jalannya waktu.

Tidak lama kemudian mereka berdua mulai tertidur, dan tiba-tiba badan Calcedonia menempel erat pada Tatsumi.

Karena hangat serta lembutnya badan Calcedonia, Tatsumi jatuh tertidur dengan lebih pulas.

Calcedonia menaruh kepalanya pada leher Tatsumi. Ia dengan bahagia mengelus-eluskan kepalanya beberapa kali, lalu mengeluarkan tawa kecil sebentar.

“Ehehe.”

Setelah itu ia juga mulai tertidur.

Cockatiel mempunyai sebuah kebiasaan saat tidur. Untuk membuat panas tidak keluar dari bagian tubuhnya yang tidak tertutup bulu, mereka memiringkan kepalanya sehingga paruhnya akan berada pada bagian leher, dan kaki mereka dilipat sehingga dapat masuk ke dalam bulu di perutnya. Seperti ini mereka membentuk seperti sebuah bola.

Melihat Calcedonia seperti ini, Tatsumi mengingat masa lalunya.

Yep, Chiiko tetaplah Chiiko yang dulu.

Sambil berpikir seperti itu dengan pikiran ngantuknya, ia lalu menjadi tertidur.




Baam!!

Di tengah malam, Tatsumi tiba-tiba merasakan pukulan pada perutnya, spontan ia terbangun.

Ruangannya benar-benar gelap. Ia mencari-cari jam tangannya yang ia taruh dekat bantal tetapi cahaya bulan yang masih bersinar lewat jendela menandakan bahwa ini masih malam.

Jamnya menunjukkan bahwa ini masih pukul 2AM. Mereka tertidur sedikit setelah jam 10PM.

Pada umumnya, orang-orang di dunia ini tidur setelah matahari terbenam dan bangun ketika matahari terbit.

Itu karena di dunia ini tidak ada cahaya penerangan seperti di bumi, dan selama tidak ada penyihir yang dapat menggunakan <<Penerangan>> seperti rumah Calcedonia, mereka biasanya tidur ketika di luar telah gelap.

Alasan mengapa mereka sampai bisa tidur jam 10PM karena mereka tadi berbincang-bincang lama sekali. Berdasarkan standar dunia ini, mereka berdua tertidur ketika telah larut malam.

Setelah mengecek jam, Tatsumi kembali melihat ke arah perutnya.

Ia dapat melihat sejenis tongkat putih berada di atas perutnya, ia bahkan dapat melihatnya di kegelapan ini.

“…..Apa ini….?”

Mungkin karena ia sedang berhalusinasi mengantuk, sehingga ia dapat dengan jelas melihat jari-jari yang menempel pada tongkat tersebut.

Ada perasaan sentuhan pada jari-jari tersebut, membuat ia semakin bingung benda apa sebenarnya tongkat ini. Kali ini, ia mencoba menyentuh tongkat itu secara langsung.

Tongkat itu memiliki rasa sentuhan empuk, juga memiliki rasa-rasa hangat.

Karena terasa empuk sekali, ia tanpa sadar mulai menggosok-gosok tongkat itu.

Ketika ia terus melakukannya, ada bunyi teriakan kecil datang dari sebelah Tatsumi. Tentu saja, itu adalah Calcedonia.

Tapi itu bukan suara Calcedonia yang biasanya, tetapi suara menggoda layaknya suara rintihan. Di saat itu Tatsumi tahu akan identitas sebenarnya tongkat yang ia pegang tersebut.

Kaki.

Itu adalah kaki Calcedonia, yang sekarang berada di atas perut Tatsumi.

Pakaiannya hampir sepenuhnya terlipat ke atas pahanya, jadi bahkan dalam kegelapan sekali pun ia dapat tahu bahwa 90% kakinya tidak tertutup apapun.

Dia hampir teriak kaget tapi langsung menahan diri.

Lalu, tiba-tiba wajahnya terasa ada yang memukul.

“….Apa ini…ehh, tangan??”

Dengan mata berair karena sakit, ia dapat melihat apa yang memukul wajahnya.

Rupanya tangan Calcedonia meninju jab langsung ke arah wajah Tatsumi.

Dia meminggirkan tangan yang meninjunya barusan pelan-pelan, juga kakinya.

Tiba-tiba Calcedonia berpaling ke samping, dan kakinya melancarkan serangan kedua.

Tatsumi dengan cepat memiringkan badannya untuk menghindar, dan nyaris sekali berada pada arah serangnnya.

Ia menyipitkan matanya untuk melihat ke arah Calcedonia, tetapi dia sedang tertidur dengan pulas di sana. Enggak, dia sedang asik di dunia mimpinya.

“B-Bentar, kalau gitu….apa dia selalu goyang sana-sini waktu tidur…?”

Tatsumi mengatakan yang sudah pasti fakta. Lalu tiba-tiba badan Calcedonia berbalik arah ke arah yang berlawanan dari Tatsumi.

Kalau lampunya terang sekarang, Tatsumi dapat dengan jelas melihat kakinya yang tidak tertutup itu, bagian bawah CD nya, bagian atas yang gak karuan dan belahan besar gunung tersebut. Tapi untungnya tidak ada cahaya di sini.

“Jangan-jangan…..alasan sebenarnya Giuseppe-san mengirimkan kasur super besar ini…?”

Sebagai kakeknya, tidak aneh jika ia tahu akan kebiasaan buruk tidur Calcedonia.

Dan karena ia tahu itu, ia memutuskan untuk memberi mereka kasur super besar.

Selama kasurnya sebesar ini, tidak mungkin Calcedonia akan bisa jatuh ke bawah, dan dia bisa ada tempat untuk menghindar jika terjadi serangan tiba-tiba dari Calcedonia.

Sambil meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Giuseppe karena kecurigaannya tadi, ia menuju ke arah pojok, meringkukkan badannya, lalu tertidur.


Contact for donate
Line : gugusap

No comments:

DMCA.com Protection Status