Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 16 Part 1 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 16 Part 1 Bahasa Indonesia

August 26, 2017 Pipo Narwastu


Translator: Eros-sama

Volume 2 Chapter 6

Part 1


Dinding pembatas, 2000 meter dari permukaan tanah.

Muncul 4 sosok yang berdiri diatas dinding tersebut yang terletak di atas langit.

Salah satu dari 4 sosok tersebut adalah seorang wanita yang memakai pakaian minim. Rambutnya berwarna putih dan dia terlihat masih berumur sekitar 20 tahun dari penampilannya. Dia bermain dengan seruling yang dia pegang di tangan kanannya sembari memandang arena yang terletak di bawah kakinya.

“Jadi, penantang yang pantas untuk menjadi lawan kita…… dengan ojou-san yang berasal dari [Salamandra], menjadi berjumlah 4 orang ya, Weser?”

“Tidak, Cuma ada 3 orang. Si buah labu (pumpkin)tidak pantas menjadi lawan kita. Yang bakal menjadi lawan yang alot adalah si Vampire dan si Floor master naga api ---- Kita harus segera membereskan mereka termasuk si peniru dari [Rattenfanger]”

Orang yang menjawab pertanyaan si gadis berpakaian putih adalah seorang pria bernama Weser. Rambutnya hitam dan dia memakai seragam militer yang juga berwarna hitam.

Seruling yang dia pegang berbeda dengan seruling yang dipegang oleh si gadis berambut putih yang mana panjangnya hampir sama dengan tinggi lelaki tersebut. Jika seruling itu benar benar sebuah instrumen musik, panjang instrumen musik tersebut jauh melebihi normal.

Sosok ketiga di tempat tersebut bisa dipastikan bukan manusia.

Permukaan luarnya sangat halus seperti terbuat dari keramik dan dari bagian atas sampai bagian bawah tubuhnya, terlihat banyak sekali lubang udara. Secara sederhana, dia adalah bentuk anthropomorphic (suatu benda yang dimanusiakan) dari sebuah seruling yang tingginya sekitar 15 kaki(sekitar 450cm). Dia sekilas tampak seperti seorang prajurit yang berbadan besar.

Pada posisi di mana kepala si seruling anthropomorph seharusnya berada, terdapat lubang ventilasi yang jelas terlihat lebih besar daripada lubang yang lain yang darimana dia bisa mengeluarkan suara suara dan virbrasi aneh.

Di tempat lain, terlihat sosok seorang gadis yang memakai baju polkadot berwarna hitam dan putih berdiri di bawah pohon.

Setelah dia melihat wajah ketiga orang tersebut, gadis polkadot tersebut, dengan suara yang tidak antusias, mengumumkan:

“---- Gift game telah dimulai. Mohon kerjasamanya untuk mematuhi jadwal yang telah ada”

“Kami dengar dan siap laksanakan! Apa yang harus kami lakukan jika ada yang menghalangi kami?”

“Bunuh mereka”

“Kami mengerti master ♪”


Part 2

Perubahan itu terjadi bermula dari balkoni istana.

Angin berwarna gelap tiba tiba muncul dan menyelubungi Shiroyasha dan membentuk lapisan tembus pandang berbentuk bola di sekitarnya.

“Wuhh…… Apa yang……!”

“Shiroyasha-sama!”

Sandora mencoba mengulurkan tangannya ke arah Shiroyasha tetapi tangannya terhalang oleh angin gelap yang berhembus semakin kencang.

Angin gelap tersebut berhembus lebih kencang dan lebih kencang lagi dan akhirnya berhasil meniup jatuh semua orang yang berada di balkoni selain Shiroyasha.

“Yaaaa……!”

“Ojou-sama, pegangan yang erat!”

Izayoi yang juga terlempar jatuh segera mendekap Asuka sembari melihat sosok manusia yang melayang jauh di angkasa.

“Cih! Anggota [Salamandra] semuanya terlempar ke area kursi penonton!”

Semua anggota [No Name] jatuh ke dalam arena.

Sedangkan anggota dari [Salamandra] semuanya terlempar ke area kursi penonton.

Setelah memastikan Jin dan anggotanya berhasil keluar dari area arena dengan selamat, Izayoi mencari Kuro Usagi dan bertanya kepadanya:

“Situasi seperti ini…… Ada Demon Lord yang muncul kan?”

“Apa yang kau pikirkan adalah benar”

Kuro Usagi menjawab dengan jujur sembari mengganggukkan kepalanya. Mendengar jawabanya, ketegangan mulai timbul di sekitar mereka.

Massa yang berkumpul di sekitar area menjadi panik setelah menyaksikan kejadian tersebut. Semuanya mencoba melarikan diri jauh dari tempat kemunculan Maou. Keadaan massa tersebut sekarang seperti sebuah kata pepatah: “Menundukkan kepala sambil tergopoh-gopoh lari bagaikan tikus kabur ke lubangnya”
(ga yakin ini. Perlu dicari peribahasa Indonesia yang sesuai juga ga?)

Ketika orang orang disekitar berteriak dalam ketakutan, Izayoi berdiri di tengah tengah kekacauan tersebut. Tetapi, ekspresi yang dia tunjukkan di wajahnya adalah senyum licik yang biasa dia tunjukkan.

Lalu dia merubah ekspresinya menjadi serius dan memandang Kuro Usagi. Ekspresi ini lain dari ekspresinya yang biasa.

“[Ijin Hoster] Shiroyasha masih belum di tembus kan?”

“Belum, Kuro Usagi juga kontroler dari judgement. Tidak akan semudah itu Kuro Usagi biarkan tembus”

“Jadi orang-orang itu muncul di game disc sambil tetap menghomati aturan ya…… Haha, emang Demon Lord-sama yang asli tidak mengecewakan”

“Jadi, gimana? Hadapi mereka di sini?”

“Jangan bercanda. Menghadapi mereka di sini di mana masih banyak orang yang tidak berhubungan berkumpul bukan ide yang bagus. Aku juga penasaran sama situasinya di pihak [Salamandra]. Orang orang itu menyerangnya ke arah mereka kan?”

“Kalau begitu Kuro Usagi akan mencari Sandora-sama dulu. Izayoi-san dan Leticia-sama akan bertanggung jawab untuk bergerak secara offensif untuk menghadapi Maou. Kuro Usagi akan mempercayakan keamanan Shiroyasha-sama di tangan Jin-bocchan”

“Baiklah, aku mengerti”

Leticia dan Jin menganggukkan kepala mereka. Sebaliknya wajah Asuka menunjukkan ekspresi penuh dengan ketidakpuasan.

“Heh…… kenapa diriku tidak diikutsertakan dalam sesuatu yang menarik seperti ini”

“Jangan mengeluh begitu Ojou-sama. [Geass Roll] kan sudah menyatakan Shiroyasha sebagai game leader. Kita harus pastikan dulu apakah point ini ada pengaruhnya----”

“Tunggu sebentar”

Semua anggota segera mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara. Di sana, terlihat sosok Ayesha dan Jack dari [Will O’ Wisp].

“Kami mendengar pokok masalah dari ini semua. Jika kalian berencana untuk menghadapi Demon Lord, kami dari komunitas [Will O’ Wisp] bersedia membantu kalian. Bukan begitu Ayesha?”

“Iya…… iya betul. Saya juga akan lakukan yang terbaik yang saya bisa”

Ayesha yang sebenarnya dipaksa untuk ikut berpartisipasi dalam game melawan Maou ini menjawab dengan nada yang gelisah.

“Kalau begitu kalian berdua akan membantu Kuro Usagi dalam mencari Sandora-sama dan akan mendengarkan instruksinya”

Setelah semua anggota yang hadir mengganggukkan kepala mereka, mereka berpencar untuk memenuhi tugas mereka masing-masing.

Setelah beberapa saat mereka berpencar, salah seorang dari massa yang sibuk melarikan diri tiba-tiba berteriak:

“Hey, lihat itu! Demon Lord mulai turun dari langit!”

Sosok sosok yang sebelumnya berada di langit mulai turun perlahan ke permukaan.

Melihat situasi di arena, Izayoi menggenggam erat kepalan tangannya dan berteriak kepada Leticia:

“Ayo kita pergi! Aku akan hadapi yang hitam dan putih, aku serahkan yang besar dan yang kecil kepadamu!”

“Aku mengerti, Master”

Leticia menjawab dengan nada yang datar. Izayoi mengambil posisi untuk bersiap melompat dan dengan tolakan kakinya yang dapat dengan mudah menghancurkan panggung arena, dia melompat menuju dinding pembatas.

Part 3

“Apa itu!?”

Teriakan panik  itu berasal dari lelaki yang memakai seragam berwarna hitam.

Dalam hitungan detik, Izayoi yang menggunakan seluruh kekuatannya untuk melompat berhasil mencapai depan muka dari si lelaki berseragam hitam dan memukulnya sehingga dia terlontarkan menuju dinding pembatas lebih cepat dari kecepatan cosmic ketiga.

Lelaki berseragam hitam menabrak dinding pembatas dalam kecepatan tinggi yang menyebabkan retakan yang cukup besar muncul di dinding pembatas. Lelaki itu memelototi Izayoi dan berteriak:

“Kau…… Apa yang kau lakukan!”

“Aku sudah menantikanmu Maou-sama. Bagaimana kalau kau menemaniku berdansa?”

Izayoi mengeluarkan suara tawa ‘YAHAHA’ dan mulai menyeret lelaki berseragam hitam agar bergesekan dengan dinding pembatas dengan murni menggunakan kekuatan supernya seperti perahu motor menarik peselancar diatas permukaan air.

Walaupun lelaki berseragam hitam dalam keadaan terseret dengan mukanya bergesekan langsung dengan dinding pembatas, dia tidak terluka sedikit pun dan masih bisa berteriak keras:

“Jangan meremehkan kami kau serangga kecil!”

Lelaki itu menggerakkan serulingnya yang terlihat seperti sebuah tongkat dan seruling itu mulai mengeluarkan suara-suara aneh.

Keanehan tiba tiba terjadi di dinding pembatas yang mana memaksa Izayoi untuk berhenti. Lelaki berseragam hitam tidak melewatkan kesempatan ini untuk membebaskan dirinya dari cengkraman Izayoi.

Serangan Izayoi sepertinya berhasil sedikit melukai lelaki berseragam hitam karena setelah dia berhasil membebaskan dirinya, dia meludahkan cairan berwarna merah. Dia lalu berkata pada Izayoi:

“…… Kau sepertinya memiliki sedikit kemampuan, aku tidak pernah menduga kita yang diserang duluan”

“Aku harus berterima kasih pada kalian yang telah memberikan aku kesempatan. Sebenarnya, rapotku juga selalu menilaiku sebagai [anak yang penuh dengan malapetaka]. Aku percaya pada diriku bahwa aku akan selalu, baik dalam arti baik maupun buruk, menghancurkan ekspektasi orang lain karena itu adalah keahlian utamaku”

Izayoi mengeluarkan suara tawa ‘YAHAHA’ sekali lagi sambil berdiri terbalik dibawah dinding pembatas.

Jika diperhatikan baik baik, dari tumit ke bawah, kakinya menancap kedalam dinding seperti sebuah pasak.

Ketika kedua lelaki sedang berdialog, gadis berbaju polka dot dan prajurit berbadan besar yang seperti terbuat dari keramik meneruskan perjalanan mereka untuk turun ke permukaan. Hanya gadis berambut putih yang masih bergantungan di tembok meneriakkan sesuatu kepada lelaki bereragam:

“Weser! Apa yang kamu lakukan? Cepat bereskan dia!”

“Itu yang sedang aku lakukan. Tetapi mungkin kita bisa membereskan dia lebih cepat jika kau juga menggunakan suara serulingmu untuk menghentikan gerakannya”

Gadis itu kemudian mengerutkan bibirnya dan mendekatkan serulingnya ke bibirnya.

Pada momen yang sama, massa yang aktif bergerak melarikan diri tiba-tiba berhenti mendadak.

Nada nada kekacauan tiba tiba berkumandang melingkupi seluruh area arena. Ketika orang orang tersebut mendengarkannya, mereka tidak bisa menangkal efek negatif  yang ditimbulkan dan jatuh berlutut karena tidak kuat menahan rasa tidak nyaman yang ditimbulkan.

Melihat situasi abnormal terjadi di depan matanya, Izayoi terbelalak untuk beberapa saat. Tetapi ekspresi terkejut itu segera berganti dengan senyum penuh percaya diri dan diapun berkata:

“Oh……? Apakah itu seruling ajaib? Jadi gadis itu adalah wujud asli dari [Badut penangkap tikus]?”

Ketika massa di bawah mulai kehilangan akal sehat mereka karena suara seruling ajaib, Izayoi tetap berdiri di tempat dia berada dan menunjukkan kalau dia tidak terpengaruh oleh suara tersebut.

“Apa…… apa-apaan ini orang……! Musikku tidak bisa mempengaruhinya……?”

Gadis berbaju putih hanya bisa menarik nafas panjang karena shock. Bahkan bibir tipisnya tidak bisa berhenti bergetar.
Sebaliknya, Weser berhasil menenangkan dirinya dan melemparkan sebuah kedipan mata terhadap si gadis.

“Ratten, pergilah duluan. Jika master sendirian, aku takut dia akan lepas kendali dan membunuh mereka semua”

Ratten hanya bisa mengerutkan bibirnya lagi, tetapi karena dia memang tidak bisa berbuat apa apa disini, dia segera turun menuju ke permukaan.

Melihat Ratten pergi, Izayoi tetap berdiri di tempat. Dia tidak menunjukkan niatan untuk mengejarnya.

Mungkin karena merasa kebingungan dengan sikap Izayoi, Weser bertanya kepadanya sambil memberikan Izayoi pandangan yang penuh dengan tanda Tanya.

“…… Aku tidak mengerti, kenapa kau membiarkan dia pergi?”

“Aku tidak merasa membiarkan dia pergi adalah sebuah masalah serius, lagipula, aku bisa menangkap dia lagi secara perlahan setelah aku selesai berurusan denganmu, [Avatar dari sungai Weser]”

Ekspresi wajah Weser menjadi tidak karuan karena dia telah dikejutkan berkali-kali oelh Izayoi. Sungai Weser yang disebutkan oleh Izayoi adalah sebuah sungai besar yang berada dekat dengan kota Hamelin. Setelah melihat ekspresi wajah lelaki berseragam hitam tersebut, Izayoi menjadi semakin yakin dengan pemikirannya dan dengan ekspresi penuh percaya diri, dia mulai mencela lawannya.

“Heh, dari kata [Ratten] dan [Weser], semuanya sudah jelas. [Gulungan Geass] juga sudah mengatakan [Hancurkan legenda palsu, sebarkan legenda yang sebenarnya ]…… Oi oi, beneran engga apa apa nih membiarkan aku memecahkan gamenya secepat ini? Dalam kata lain, kalian adalah para iblis yang lahir dari legenda [Seruling Hamelin]. Kalian adalah [Metode Pembunuhan] yang telah mendapatkan tumbal nyawa dari 130 anak anak dan akhirnya memiliki kekuatan jiwa sendiri kan?”

Izayoi tetap menjaga senyumnya sembari memberikan pandangan yang tajam ke arah Weser.

Senyumnya sekarang berbeda dari senyum meremehkan yang biasa dia tunjukkan. Senyumnya sekarang terlihat lebih haus darah dari sebelumnya.

Legenda yang disebutkan oleh Izayoi adalah legenda yang terukir di permukaan dekorasi kaca berwarna yang Jin telah beritahukan kepadanya sebelumnya.

---- Jurnal dari John dan Paul, pada 26 Juni tahun 1284.
130 anak anak yang lahir di kota Hamelin terpelet oleh suara seruling, dipakaikan baju berwarna warni, dan akhirnya anak anak tersebut menghilang di dekat sebuah bukit yang mana sering dipakai untuk menghukum mati kriminal. ----

Bangsa iblis mendapatkan kekuatan jiwa [Berdasarakan dari besarnya pengaruh yang mereka sebabkan terhadap dunia nyata. Pengaruh tersebut bisa berupa wibawa, kontribusi, kompensasi, dan hadiah].

Berdasarkan hal tersebut, Izayoi menyimpulkan bahwa, jika para iblis tersebut berhasil mendapatkan kekuatan jiwa melalui cerita Brother Grimms tentang legenda [Seruling Hamelin], maka itu hanya bisa disebabkan dari penumbalan 130 anak anak tersebut.

“Ada banyak versi dan asumsi dibalik legenda kota Hamelin seperti anak anak yang diculik itu terdampar ke alam lain, dipakai sebagai tumbal untuk ritual sihir sesat, dan sebagainya…… Sedangkan legenda mengenai [Sungai Weser] adalah sebuah sungai sumber bencana alam. Maka dari itu, kekuatan jiwa yang kamu miliki dan kamu gunakan untuk membuat kekacauan di dinding pembatas adalah kekuatan yang berhubungan dengan banjir dan longsor. Dan untuk memenuhi syarat dari game [Hancurkan legenda palsu, sebarkan legenda yang sebenarnya ], salah satu pengartiannya adalah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Hamelin kala itu untuk bisa memenangkannya……  Bagaimana logikaku? Mungkin hasil analisisku masih belum sempurna tapi paling tidak, aku percaya analisaku benar 80%”

Izayoi tertawa bangga. Weser yang tetap diam mendengarkan penjelasannya  hanya bisa menggaruk kepalanya sambil menunjukkan senyuman pahit.

“Chi, aku kira kau cuma sekedar bocah biasa…… tapi kau punya otak juga"

“Oh, begitu ya?”

“Yah, apa boleh buat……… Peraturan adalah peraturan. Sepertinya kamu cukup memenuhi persyaratan. Kalau begitu, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan……”

“Aku menolaknya”

“Cepat sekali kau menolak!”

“Itu karena aku tidak tertarik untuk menyelesaikan game terlalu cepat begini. Jangan membuat aku kecewa Demon Lord-sama. Game ini tidak akan menyenangkan bila terlalu cepat selesai bukan? Apakah kamu tau kalau aku datang ke dunia ini hanya agar dapat bisa bertemu dengan para Maou?”

Apa yang Izayoi katakan adalah jujur dari dalam hatinya. Setelah datang ke dunia Little Garden selama lebih dari sebulan ---- mimpi terbesarnya adalah untuk berpartisipasi dalam Maou-game. Izayoi mengatakan mimpinya tersebut sambil membusungkan dada penuh dengan kepercayaan pada dirinya.

“…… Oh begitu ya? Kalau begitu aku harus minta maaf padamu bocah”

Weser merespon dengan nada yang cukup sentimental.
Dia mengeluarkan senyuman yang brutal sebelum mengayunkan tongkatnya yang berbentuk seperti seruling dengan penuh tenaga. Suara suara bernada keras menyelimuti area sekitar Weser dan perubahan mulai terjadi di bebatuan yang ada dalam lingkup suara tersebut. Pada akhirnya, daerah yang terlingkupi oleh suara tersebut menjadi bersih dari segala macam halangan.

Weser mendarat di permukaan datar yang dia buat dan segera mengambil kuda kuda.

“Untuk menjawab expektasimu, aku harus mengoreksi salah satu perkataanmu ---- Aku bukanlah Demon Lord. Aku hanya salah satu iblis berlevel rendah. Sedangkan yang mulia Demon Lord adalah, salah satu dari mereka yang turun ke bawah duluan”

Izayoi melihat kearah di mana Weser menunjuk dan dia melihat monster berbadan besar yang terlihat seperti terbuat dari tanah liat dan seorang gadis kecil yang memakai baju polkadot. Saat ini mereka sedang bertarung menghadapi Leticia.

Melihat Leticia terpojok, Izayoi dengan menggerutu mengatakan:

“Begitu ya? Kalau begitu mari kita segera selesaikan adegan pembuka ini, atau nanti Demon Lord akan menganggap aku kurang punya tata krama”

“Hal bodoh apa yang kau katakan? Adegan pembuka adalah adegan yang mulai membakar gairah penonton. Adegan pembuka yang paling hebat adalah klimaks yang paling hebat pula ---- Lupakan yang aku katakan tadi. Melihat kamu, aku rasa kamu bahkan tidak cukup pantas untuk menjadi adegan pembuka, ya kan?”

“”Heh!””

Mereka saling mengejek satu sama lain dan mengambil kuda kuda untuk bersiap menghadapi musuh mereka sambil tersenyum.

Mereka mulai berlari sembari membuat retakan retakan besar di dinding pembatas. Kerikil dan debu beterbangan kemana mana.
Weser menggunakan tongkat serulingnya untuk menangkis tinju Izayoi yang mampu menghancurkan gunung dan sungai.

Tenaga di balik pukulan Izayoi membuat Weser terkejut, tetapi dia hanya butuh 1 langkah kebelakang untuk me-negasi tinju tersebut.

Setelah bertarung dengan mantan Maou dari [Perseus], Algol, jarang ada yang bisa bertahan setelah menerima 1 pukulan dari Izayoi.

Ketika bertarung, Izayoi tertawa bahagia.

“Hah! Sepertinya ini bakalan menjadi adegan pembuka yang hebat……!”

“Cih! Itu harusnya menjadi kata-kataku bocah!”

Setelah berteriak, Weser menggunakan kekuatannya untuk mengayunkan tongkat serulingnya sekali lagi.

1000 kaki diatas langit, pertarungan antara Izayoi dan iblis dari Hamelin mulai memanas.

Di sisi lain, Leticia mulai berkonfrontasi dengan gadis berbaju polkadot dan prajurit raksasa yang terbuat dari tanah liat. Prajurit dari tanah liat itu menghembuskan nafas dengan tenaga yang cukup besar melalui lubang ventilasi di tubuhnya yang mana menyebabkan munculnya beberapa tornado yang mengarah ke segala arah disekitarnya.

“BRUUUUUUUUM!”

“Guuu……”

Udara di sekitar merespon dengan mengeluarkan suara suara aneh karena getaran yang terjadi. Reruntuhan yang berserakan di tanah tersedot ke dalam tornado berhembus dengan sangat kencang.

Leticia sebenarnya berniat untuk mengembangkan sayapnya dan terbang tetapi tidak bisa menjalankannya dengan lancar karena terganggu tiupan angin kencang yang ditimbulkan oleh musuhnya. Gadis berbaju polkadot menggunakan matanya yang terlihat seperti mata orang mati untuk memandangi Leticia.

“Apakah kamu benar-benar Vampir berdarah murni?”
“Kritikmu benar-benar pedas! Aku juga bertarung dengan semua yang aku punya……!”

Leticia menjawab dengan nada yang terdengar sedih. Tetapi, ketika dia mendengar nama dari si prajurit raksasa, dia menyadari sesuatu.

(Storm ---- Artinya ‘Badai’ bukan? Kalau begitu prajurit raksasa itu adalah seekor iblis yang memiliki hubungan dengan bencana alam……!)

Walaupun dia telah kehilangan banyak dari kekuatan aslinya karena kehilangan kekuatan dewa-nya, Leticia telah mendapatkan banyak pengalaman dari berbagai macam game yang telah dia ikuti. Karena itu, dia tahu betapa berharganya informasi yang sepertinya tidak penting ketika menghadapi Maou games. Terlebih mengetahui nama dari musuh yang dia hadapi sering kali menjadi faktor yang penting untuk menyelesaikan game tersebut.

(Apapun yang terjadi, aku harus bisa mendapatkan informasi soal gadis polkadot ini)

“Sudah cukup Strom, aku sudah tidak tertarik lagi dengan wanita itu. Bunuh dia”

Gadis berbaju polkadot menyatakan hukuman mati terhadap musuhnya tanpa ekspresi di wajahnya. Dengan aba-aba tersebut, Strom menembakkan material material yang tersedot ke dalam tornadonya dalam keadaan terkompresi seperti menembakkan peluru mortar.

“BRUUUUUUUUM!”

Lubang ventilasi besar di ‘wajah’ prajurit raksasa menembakkan puing puing reruntuhan ke arah Leticia.
Tetapi pada saat itu, Leticia tiba-tiba mengepakkan sayapnya untuk meningkatkan kecepatannya dan terbang mendekat menuju si prajurit raksasa.;

“…… Eh?”

“Aku tidak akan meminta maaf! Itu salahmu karena mau ditipu!”

Leticia tertawa dengan bangga. Walaupun lawannya menyadari bahwa keadaannya yang terpojok sebelumnya hanyalah dia berakting lemah, semuanya sudah terlambat. Leticia mengambil kartu gift berwarna hitam keemasan yang darimana tombak panjang tiba-tiba muncul dan terbang ke arah si gadis berbaju polkadot lalu menusuk gadis itu tepat di dadanya.

“Apakah aku berhasil--!”

“Tidak, kau tidak berhasil”

Gadis itu menjawab dengan nada berirama. Yang lebih mengejutkan dari jawabannya yang berirama adalah keadaan tombak yang menghantam dada gadis tersebut. Tombak itu hanya berhasil sedikit mendorong gadis itu kebelakang. Ujung dari tombak tersebut yang telah menghantam dada gadis tersebut kini telah hancur dan menjadi tumpul.

Gadis berbaju polkadot dengan mudah menyingkirkan tombak tersebut dan dengan angin hitam yang dia lepaskan dari tangannya, dia melumpuhkan dan mengikat Leticia lalu menariknya mendekati dirinya sendiri.

(Apa…… apa ini? Angin ini sangat aneh……?)

Bahkan Leticia tidak tahu sama sekali tentang angin hitam tersebut.

Angin hitam tersebut tidak sama dengan manipulasi bayangan, atau tiupan angin yang kencang, juga jauh dari kategori udara panas.

Jika harus dideskripsikan, angin aneh itu berwarna gelap dan sedikit hangat.

Angin itu bergerak bagaikan mahluk hidup dan perlahan lahan merenggut kesadaran Leticia.

Gadis berbaju polkadot mengangkat wajah Leticia dari dagunya. Dia tersenyum kecil ketika melihat wajah Leticia.

“Seranganmu membuatku merasa sakit, benar benar merasa sakit. Tapi aku akan memaafkanmu…… dan aku juga akan menarik perkataanku sebelumnya. Kau punya potensi untuk menjadi bidak yang sempurna. Hehe”

Gadis berbaju polkadot mengeluarkan suara tawa kecil. Angin hitam yang dia hasilkan mulai menjalar ke seluruh tubuh Leticia seperti mau mengambil alih tubuhnya.

Ketika angin ribut yang dihasilkan oleh strom bahkan sampai berhasil menguncangkan lampu hias yang menerangi dinding pembatas ---- sebuah kelebat berwarna merah terlihat menembus badan prajurit raksasa yang seperti terbuat dari tanah liat tersebut.

“BRUUUUUUUUUUUUUM!”

Setelah menerima serangan tepat di tengah tubuhnya, prajurit raksasa tersebut mulai meleleh dan kemudian hancur menjadi puing puing lalu kembali menjadi debu. Mengambil kesempatan ketika gadis berbaju polka dot dengan terkejut melihat ke arah prajurit raksasa, Leticia mengerakkan kedua tangannya dan melepaskan dirinya dari genggaman musuhnya.

Tetapi, setelah menjauh dari gadis berbaju polkadot, badannya tidak bisa mengeluarkan tenaga lagi. Dia pun jatuh berlutut dengan lemas di tanah.

Gadis berbaju polkadot tidak memperdulikan Leticia. Dia memfokuskan pandangannya jauh di atas.

“…… Jadi kau muncul juga akhirnya”

Sesuatu yang lain selain lampu hias menyala terang di area tersebut. Sembari membiarkan Api dari naga api tetap terbakar di tubuhnya, [Floor Master] dari distrik utara, Sandora, telah hadir di area tersebut. Dia memandangi ke arah arena dari angkasa sembari terbalut dalam api naga api.

Angin berhembus dan meniup baju gadis polkadot. Melihat kedatangan Sandora, diapun mengeluarkan senyum simpul.

“Aku telah lama menunggumu. Aku takut kau akan tidak berani muncul dan kabur”

“…… Apa alasanmu membuat kekacauan, Demon Lord dari Hamelin?”

“Ah, panggilan itu kurang tepat. Panggilan yang tepat untuk gift ku adalah [Black Death Demon Lord]” *maut hitam, wabah penyakit dari Eropa abad pertengahan

“……… Generasi [Naga Api]ke 24, Sandora”
“Terima kasih telah memberi tahukan namamu. Kau tidak perlu bertanya apa alasanku melakukan ini semua karena itu sudah jelas bukan? Aku menginginkan hak atas Sun dominion yang dimiliki Shiroyasha dan jenazah dari Naga Xinghai. Atau dalam kata lain, apa yang kau pakai di kepalamu itu”

“Jadi berikan itu padaku”

Nada gadis itu berubah menjadi nada memerintah sambil menunjuk pada mahkota yang dipakai Sandora di kepalanya.

“…… Jadi itu ya. Kamu memang pantas menyandang gelar Demon Lord. Kamu sangat tidak sopan dan kurang ajar. Walaupun begitu, sebagai pelindung kedamaian, aku tidak bisa membiarkan angkara murka ini berlanjut. Aku pasti akan menghukummu atas nama bendera yang aku junjung”

“Apakah benar begitu? Kau sangat mengesankan Floor Master”

Badai angin hitam yang aneh tersebut menghalangi lidah api dari sang naga api.

Ketika serangan dari kedua belah pihak bertemu, terjadilah gelombang kejut yang sangat dasyat yang mana bahkan sampai menghancurkan lampu hias di dinding pembatas.

Kepingan kepingan dari lampu hias tersebut menerangi kedua belah pihak yang berkonfrontasi sekali lagi sebelum cahaya yang mereka hasilkan menghilang untuk selamanya.

No comments:

DMCA.com Protection Status