Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 26 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 26 Bahasa Indonesia

August 07, 2017 Reisen

Chapter 26 - Latihan Seni Bertarung

Translator : Reisen
Sponsored by Junio



Tatsumi membekkokkan lututnya sebentar dengan kedua karung pasir yang menggantung di pundaknya, lalu kembali berdiri dengan meluruskan lututnya.

Dengan kata lain squat, sudah berapa lama coba Tatsumi melakukan ini secara terus menerus.

Keringat Tatsumi terus berjatuhan menetes di atas tanah. Dan di sekitar Tatsumi yang sedang dengan susah payah melakukan squat, ada 10 orang lain yang seumuran terduduk di sana dengan nafas yang terengah-engah.

“Ayo ayo, ada apa? Sudah lelah? Kalau seperti itu, sampai kapan kamu bisa jadi ksatria kuil, hah!”

Ada seorang lelaki yang berdiri di depan mereka.

Lelaki itu berbadan kekar yang dilapisi dengan pakaian armor berlapis metal dengan sebuah pedang menggantung di pinggangnya. Di tengah armornya terdapat sebuah lambang suci kuil Savaiv yang menandakan bahwa ia adalah salah satu ksatria kuil.

Mungkin umurnya sekitaran pertengahan 40an, dengan perawakan seram serta jenggotnya itu, ia memiliki aura seorang ‘instruktor’ (dalam hal ini pelatih).

Mata ‘pelatih’ itu melototi Tatsumi yang sedang terus berusaha melanjutkan squatnya dengan tatapan mengerikan. Tapi Tatsumi tidak ada waktu untuk mempedulikan itu.

Berat karung masing-masing sekitaran 8 kg. karena Tatsumi memikulnya kanan kiri, sehingga beratnya menjadi dua kali lipat 16 kg.

Sebenarnya Tatsumi sudah melewati batasnya, tapi ia tetap saja menggertakkan giginya dan terus melakukan squat, sehingga sekarang ini ia hanya mengandalkan kekuatan semangat.

Anak-anak lain yang duduk kecapean di bawah juga ikut melihati Tatsumi.

Lalu setelah beberapa kali melakukan squat dengan tenaga terakhirnya, ia akhirnya jatuh juga ke tanah.

‘Pelatih’ itu melihatnya sambil terenyum di bawah jenggotnya.

“Yoosh, sekarang istirahat sampai setengah bell (sekitar 1 jam)! Isi perutmu sekarang, tapi jangan terlalu banyak nanti kalian menderita. Makan secukupnya saja!”

Setelah berkata seperti itu, ksatria kuil yang melatih mereka tersebut meninggalkan tempat latihan dengan langkah besar. Tempat latihan ini terletak di bagian belakang kuil.

Ke sepuluh kadet juga ikut meniggalkan tempat latihan. Seperti yang dibilang pelatih tadi, mereka mungkin pergi untuk makan siang.

Tatsumi masih terbaring di atas tanah dengan bentuk . Salah satu lelaki yang tadi berdiri menuju ke arah Tatsumi, sambil menundukkan kepalanya dari atas dan berkata,

“Oooi, Tatsumi, masih hidup?”

“Verse…. Yeah, untungnya…”

Tatsumi mengangkat tangan kanannya gemetar sambil masih tetap berbaring.

Pemuda itu—Verse, mengambil tangan Tatsumi dan menariknya.

“Tatsumi, apa kamu mau makan siang sekarang?”

“Iya, maunya gitu.”

“Kalau gitu cepetan! Istrimu sudah nunggu di tempat biasanya.”

“E-Enggak, aku masih belum menikahi Chiiko, jadi…”

Verse yang barusan mengangkat badan Tatsumi kaget setelah mendengar jawabannya.

“Apa maksudmu ngomong kayak gitu? Kalian sudah tinggal bersama-sama, dan terlebih lagi Calcedonia-sama membuatkanmu makan siang tiap hari. Walaupun kamu masih belum secara resmi menikah, Calcedonia-sama sudah bisa dibilang istrimu.”

Tatsumi tidak menghiraukan jahilan dan senyum-senyum Verse karena sedikit malu dan berjalan duluan.

Tempat yang mereka berdua tuju adalah pojok halaman kuil, yang menjadi lokasi makan siang mereka akhir-akhir ini.




Setelah mendengar ada ketukan pintu, Giuseppe menyuruh ajudan barunya, Petinggi Pendeta (High Priest), untuk memeriksa siapa orang tersebut lalu ia memberi ijin untuk masuk.

“Permisi.”

Setelah membungkukkan badan, orang yang masuk ke dalam kantor Giuseppe adalah pelatih yang tadi bersama Tatsumi dan kadet-kadet lain.

“Oh kerja bagus, kapten Odin. Jadi, bagaimana mereka? Orang-orang barunya.”

“Yaa, kalau kubilang mereka masih seperti ayam yang baru menetas.”

Menjawab pertanyaan Giuseppe, wajah tegas Odin menjadi lebih tegas.

Di kuil Savaiv, terdapat 5 pasukan ksatria yang tiap-tiapnya beranggota 15 sampai 20 orang. Mereka dipimpin oleh 5 Kapten Ksatria. Dan atasan dari 5 kapten tersebut seluruh pasukan dipimpin oleh seorang komandan ksatria tinggi.

Morganeich yang telah melepaskan posisinya juga termasuk salah satu dari kapten. Setelah ia pergi, ksatria yang sebelumnya bertugas sebagai letnannya mengambil posisinya sebagai Pengganti Kapten Ksatria. Nantinya, ia mungkin akan secara formal dinaikkan jabatannya.

Tetapi Odin di sini adalah orang yang memiliki pangkat Ksatria Kapten 6. Ia tidak memiliki pasukannya sendiri, dan selalu di tempatkan di bagian dalam kuil untuk melatih para newbie-newbie.

“Terutama anak yang namanya Tatsumi, yang Yang mulia secara paksa di daftarkan…dia benar-benar sangat payah.”

“Dia gak punya stamina, dan bahkan gak punya kekuatan untuk mengangkat senjata dan armor. Dia bahkan gak bisa mengayunkan tongkat secara benar. Anak-anak manja yang dari bangsawan aja bisa lebih baik dari dia. Aku melatih dia meski repot karena ini adalah permintaan langsung dari Yang mulia, tapi kalau tidak sudah pasti akan langsung kubuang dari hari pertama.”

Mulutnya walaupun tidak terlalu terlihat, membentuk karakter di bawah jenggotnya, lalu ia meneruskan.

“Waktu aku dulu menyuruh semuanya melakukan latihan fisik, pasti anak itu yang jatuh duluan.”

Giuseppe mendengar ada perubahan aneh dari cara bicara Odin, jadi ia dengan lincah menyebut dan mempertanyakan.

“Oh begitu. Tapi kenapa seperti terdengar masa lalu, kalau aku boleh tahu?” *

(TL Notes : di sini Odin memakai past tense dari kata ”waktu aku….”, dalam Bahasa Indonesia agak susah mengartikan)

Melihat pandangan tajam Giuseppe, Odin pun juga merespon dengan melegakan wajah tegasnya sambil senyum-senyum.

“Yap, karena dia ‘dulunya’. Akhir-akhir ini dia menjadi yang terakhir yang masih berdiri. Baru saja 30 hari berlalu semenjak pelatihan dasar dimulai, tapi ia tidak salah lagi yang paling memberikan hasil dari para anak-anak lain. Aku sendiri mulai menyukai melatih anak sialan itu sampai benar-benar akhir batasnya, mungkin sudah bisa dibilang ngebully.”

Odin mengeluarkan tawa ria, seakan dirinya adalah anak yang baru saja menemukan mainan baru untuk dimainkan.




“Ok master, silahkan dinikmati. Verse-san juga, tidak usah sungkan-sungkan dan nikmati makanannya.”

“Oh! Kalau gitu terima kasih banyak, Calcedonia-sama. Tapi wow, aku bener-bener beruntung. Istri temenku adalah wanita cantik tanpa tandingan dan terlebih lagi kemampuan memasaknya juga luar biasa!”

Dipanggil [Istri] temannya oleh Verse membuat Calcedonia menjadi lebih gembira, sambil ia memberikan makan siang ke Tatsumi yang sudah di siapkan.

“Aku gak becanda tahu? Setelah berteman dengan Tatsumi aku bisa memakan makan siang yang dibuat langsung oleh <<Holy Maiden>>-sama sendiri. Aku belum pernah seberterima kasih ini kepada orang lain seumur hidupku.”

Sambil memberikan perkataan-perkataan pujian, Verse mengambil makanan yang diberikan oleh Tatsumi.

Sudah sekitar 30 hari berlalu semenjak Tatsumi dan Verse memulai pelatihan mereka sebagai Ksatria Pendeta. Dan entah bagaimana, sudah menjadi hal biasa bagi mereka bertiga untuk makan siang bersama-sama seperti ini.

“Tapi, kalau boleh jujur aku gak menjadi penghalang kan di sini? Tatsumi dan Calcedonia-sama lebih baik kalau kalian menghabiskan waktu hanya berdua saja kan?”

Sambil berkata seperti itu dengan senyum-senyum jahil ke arah Calcedonia, tatapi orangnya sendiri, bukannya malu, malah mengeluarkan ekspresi senang dan berkata,

“Gak apa-apa kok Verse-san. Karena kalau di rumah, kami selalu berduaan, aku sama master. Ya kan master?”

Berkata seperti itu, ia melingkarkan tangannya ke lengan Tatsumi dengan cara memeluk ke arah dada besarnya. Tatsumi yang sedang memerah hanya diam dan terus melanjutkan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Melihat interaksi keduanya Verse memasang wajah bosan sambil berkata “Wah, aku nyerah” dan melanjutkan makan.

“Tapi untuk Verse-san ingin mengikuti Pelatihan Ksatria Pendeta, aku sama master juga gak tahu, iya kan?”

“Yaa iya, dalam hal ini aku yang kaget waktu aku mendengar kalau Tatsumi akan mengikuti pelatihan. Terus aku berpikir, ‘hmm, gak ada salahnya kan kalau kita mengikutinya bersama?’. Pertamanya aku hanya mengikuti dengan santai-santai tapi setelah tiap hari melakukannya, aku sendiri juga menjadi serius. Lagian, Pak Pelatih Odin bukan orang yang bisa diajak sembarangan.”

Di waktu pertama pelatihan, anak-anak baru berjumlah sekitar 30. Tapi setelah 30 hari mereka berjatuhan satu per satu sampai menyentuh angka 1/3 dari keseluruhan. Sekarang hanya 10 orang yang tersisa.

“Ufufu. Aku juga ingat waktu aku masih menjadi anak baru. Waktu Odin-sama melatih kita-kita. Banyak kali aku jatuh ke tanah sambil mengeluarkan air mata karena kelelahan.” (Calcedonia)

“Woah, pak tua itu juga gak main-main sama perempuan juga rupanya.”

Tatsumi dan Calcedonia tertawa melihat Verse memasang wajah muram.

“Tapi, bagimana pun juga, aku bisa makan makanan lezat yang dimasak langsung oleh Calcedonia-sama setiap hari. Lain kali sebagai terima kasih, nanti kuajak kalian ke toko yang kutahu. Kukasi tahu yaa, toko ini memiliki makanan yang benar-benar enak.”

Tatsumi dan Calcedonia, setelah mendengar itu, melihat satu sama lain lalu tersenyum sambil berkata,

“Ok, akan kami tunggu.”




“Bayangin anak sialan itu berlatih tiap hari sampai ia pingsan, lalu di hari berikutnya dia muncul lagi bersih mengkilat seakan tidak terjadi apa-apa. Ketahanan tubuhnya itu, bukan hal yang bisa dianggap enteng.”

“Kayaknya Calsey yang membuatnya seperti itu. Dia harusnya me[healing] menantu dengan sihirnya setiap hari.”

“Oh? Bentar, kalau gak salah Calsey juga bersama anak sialan itu yaa. Hmm, kalau gitu aku mengerti.”

“Yaa, dalam kasus menantu, selain latihan seni bertarung, dia juga berusaha keras dalam hal-hal lain.”

“Yeah aku juga sudah dengar sebelumnya. Bagaimana anak sialan itu melakukan pelatihan sihir dari Yang mulia dan Calsey selain pelatihan seni bertarung.”

Saat ini, Tatsumi sedang belajar sihir selain pelatihan seni bertarung. Baru-baru ini ia akhirnya dapat merasakan sebagian kecil mana [Outer Origin]. Jadi ia sudah mengambil langkah pertama sebagai seorang penyihir, atau dalam kasus Tatsumi, lebih tepatnya pengguna mana.

“Selain itu, anak itu selalu nurut mendengar perkataanku dan melakukan apa yang kusuruh kepadanya. Orang yang gak punya kebiasaan-kebiasaan buruk seperti dia sangat menarik buatku, maksudku, mereka hanya selalu berjalan sesuai dengan petunjukku.”

Tatsumi belum pernah mendapatkan pelatihan apa-apa sampai sekarang. Dengan kata lain ia seperti kertas kosong. Itu sebabnya ia dengan serius mendengarkan apa yang dikatakan Odin, dan mengikuti semua perintah-perintahnya.

Jenis anak baru yang nurut-nurut seperti ini, bagi instruktur membuat mereka mudah ditangani, karena mereka akan menjadi orang yang mudah diajari dengan benar.

“Untuk sekarang aku hanya membuat mereka melakukan latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan mereka, tetapi akhir-akhir ini ada beberapa yang memberi tahuku untuk lanjut ke tahap berikutnya berlatih senjata. Orang-orang jenis ini, mereka seperti punya pengalaman setengah-setengah dan percaya diri dari persenjataan, dan di saat seperti inilah yang berbahaya. Saat ini walaupun mereka mendengarkan perkataanku, rasa berat hati terpampang di wajah mereka. Jadi aku berpikir sudah waktunya untuk lanjut ke tahap berikutnya.”

Odin telah melatih kadet-kadet tidak terhitung jumlahnya. Sehingga ia sudah mengerti ketika ketidakpuasan para kadet telah mencapai batasnya.

“Ooh? Jadi apa kamu akhirnya akan mengajarkan mereka bagaimana menggunakan senjata?”

“Apa maksudnya anda berkata seperti itu, yang mulia? Masih sangat terlalu awal bagi mereka untuk memegang senjata.”

Dan wajah Odin sekali lagi membentuk senyuman evil.*

(TL Notes : kayaknya di sini senyum-senyum evil)




Sambil mengobrol satu sama lain antara ketiganya, Tatsumi, Calcedonia, dan Verse dengan harmonis, makan siang pun telah selesai dan mereka membersihkan tempat tersebut.

Di saat itu Verse melihat adanya gelang biasa normal tanpa ada yang spesial di pergelangan tangan Tatsumi.

“Hey Tatsumi. Apa itu? Apa itu hadiah dari Calcedonia-sama?”

“Hmm? Ah ini. Bukan, ini bukan dari Chiiko tapi aku pinjam dari Giuseppe-san.”

“Maksudnya Giuseppe-san kan….ya ampun, kamu ini. Kamu mengatakan nama Pendeta Tertinggi layaknya orang tua pensiun yang hidup tetanggaan dan memberikan mainan pada anak-anak kecil. Sisi mu yang ini, hmm, aku gak bisa bilang keren tapi…”

Verse mengangkat pundaknya takjub. Tapi meskipun begitu pandangannya tidak lepas dari gelang yang berada di pergelangan Tatsumi.

Menyadari itu, Tatsumi mengangkat tangannya agar Verse dapat melihat dengan jelas dan menjelaskan,

“Gelang ini adalah ‘Benda Sihir’ (Magic Item) yang bisa menyimpan mana….ah bentar, dalam bahasamu ini disebut ‘Alat Penyimpan Sihir’ (Magic Seal Device), benar kan?”

Mendengar Tatsumi yang berwajah bingung, Calcedonia berbalik dan mengangguk mengonfirmasi.

“Hmmm, alat yang bisa menyegel dan menyimpan sihir yaa?.... Berarti, kamu ini bener-bener seorang penyihir?”

“Sepertinya begitu? Yaa aku ini merupakan tipe yang agak spesial jadi pertamanya Chiiko dan Giuseppe-san juga gak tahu.”

Gelang yang Giuseppe pinjamkan ke Tatsumi memiliki efek yang barusan Tatsumi katakan.

Di dunia ini, karena membuat Alat Penyimpan Sihir sangatlah susah, harganya pun menjadi benar-benar mahal. Itu sebabnya Giuseppe tidak memberikan tetapi meminjamkan ke Tatsumi.

Sama seperti pada saat memotong kayu, Tatsumi mungkin saja tanpa sadar mengambil semua mana yang ada di sekitaran untuk memperkuat tubuhnya.

Sekarang ini Tatsumi sedang membentuk kekuatan dasarnya terlebih dahulu, jadi jika ia bergantung pada mana, akan memperlambat pertumbuhannya. Berpikir seperti itu, Giuseppe memutuskan untuk meminjamkan Tatsumi gelang dari koleksi-koleksinya.

Ngomong-ngomong, sepertinya mengoleksi alat penyimpan sihir merupakan hobi dari Giuseppe. Walaupun ini tidak bisa disangka, bahkan Pendeta Tertinggi sekalipun tidak memiliki banyak alat penyimpan sihir yang berkualitas tinggi.

“Ok, kita harus balik sekarang Tatsumi. Kalau terlambat Pak pelatih Odin nanti akan menggila lagi.”

“Yep. Kalau gitu, sampai nanti Chiiko.”

“Ya. Jaga diri, Master, Verse-san.”


Calcedonia berdiri ditempat melihat mereka pergi, sampai bayangan Tatsumi dan Verse tidak terlihat lagi dari area halaman.


Contact for donate
Line : gugusap

No comments:

DMCA.com Protection Status