Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 27 Bahasa Indonesia - Isekai Novel Translation

Isekai Novel Translation




Join Us on Facebook Join Us on Facebook

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 27 Bahasa Indonesia

August 18, 2017 Reisen

Chapter 27 - Pemilihan Senjata dan Rumor-Rumor yang Beredar

Translator : Reisen
Sponsored by : Julius




Di bawah bimbingan Odin, hari-hari ketika mereka berlari, membangun otot, dan meningkatkan kekuatan dari latihan fisik terus berlalu.

Hari itu juga sama. Tetapi setelah melakukan latihan super keras, Odin seorang Ksatria Pendeta, yang merupakan instruktur mereka, membawa mereka ke suatu tempat.

Ada yang tidak biasa dari Odin, yang biasanya memiliki wajah seram, kali ini ia mengeluarkan aura gagah sambil berdiri di depan sebuah pintu tertentu lalu memutarkan badannya ke belakang ke arah para kadet.

“Para kadet Ksatria Pendeta sekalian! Kalian telah menyelesaikan dengan baik latihan-latihan yang kuberikan sampai sekarang! Jadi mulai hari ini kita akan mulai berlatih tentang bagaimana cara menggunakan senjata! Tapi ingat, ini tetap saja dalam batas latihan dasar persenjataan!”

Sehabis mengatakan dengan tersenyum, para kadet berteriak senang gembira.

Sekarang ini, tidak termasuk Tatsumi dan Verse, terdapat 3 orang lain yang termasuk para kadet. Dengan kata lain, totalnya 5 orang. Dibandingkan dengan total awal yaitu 30 orang, hanya tersisa 1/6 saja. Jumlah yang merisaukan memang.

Sudah 60 hari berlalu semenjak mereka melakukan pelatihan dasar ini. Dan para kadet harus melakukan kegiatan dan gerakan berulang-ulang setiap harinya. Di antara mereka, banyak yang muak akan latihan berulang-ulang dan memberi tahu Odin untuk segera melakukan penggunaan senjata.

Akan tetapi Odin, sama sekali tidak menghiraukan apa yang mereka katakan, dan terus melakukan latihan-latihan dasar. Sehingga anak-anak yang tidak puas dengan pelatihannya, dan juga anak yang tidak dapat mengikuti latihannya, mereka semua pada jatuh dan meninggalkan sampai akhirnya hanya tersisa mereka berlima.

“Ini adalah gudang penyimpanan berbagai senjata pasukan ksatria pendeta. Kalian pilih senjata yang kalian anggap enak dan nyaman jika digunakan. Setelah kalian pakai, jika merasa tidak sesuai, kalian dapat menggantinya sampai menjadi yang pas. Tapi ingat, meski aku mengatakan ini sebagai benda latihan, senjata-senjata ini tidak jauh berbeda dengan senjata asli. Jadi pakai dengan hati-hati. Jelas!?”

Setelah mendengar jawaban ‘Hai!’ dari para kadet, Odin membuka pintu gudang tersebut. Dari dalam ruangan, tercium bau karat, besi, serta juga bau keringat, tetapi para kadet tidak keberatan sama sekali. Bahkan kebalikannya mereka masuk dengan penuh semangat.

Tentu saja, Tatsumi juga tanpa terkecuali sambil ia melangkah masuk ke dalam gudang penyimpanan dengan perasaan senang.




Terdapat banyak sekali macam-macam senjata dalam gudang penyimpanan tersebut.

Ada tombak-tombak yang bersandar di dinding, kapak tergeletak di atas tikar, dan berbagai macam pedang ditumpuk di salah satu pojok ruangan.

Tatsumi mengambil sebuah pedang yang kelihatannya enak dari tumpukan tersebut lalu mengayunkannya beberapak kali.

Badan Tatsumi hampir terpeleset karena berat pedang tersebut, akan tetapi 2 bulan pelatihan dasar membuatnya langsung sigap. Ia memberikan tenaga pada lengan dan bagian bawah badannya, sehingga ia dapat menahan badannya yang barusan tidak seimbang.

Pelatihan dua bulan ini benar-benar sangat telah membuahkan hasil. Meyadari akan hal itu sekali lagi, Tatsumi merasa senang.

Rasa senangnya itu terlihat pada wajahnya, sambil ia tidak sadar membentuk senyuman. Dari arah belakang, suara pelan Odin yang biasa Tatsumi dengar mengatakan.

“Ooh? Jadi kamu mau pakai pedang? Di negara ini gak banyak orang yang memakai pedang sebagai senjata utamanya, tapi apa di negaramu bukan seperti itu?”

Rambut dan mata hitam merupakan hal langka di dalam kerajaan Largofiely. Jadi orang-orang menyangka bahwa Tatsumi adalah orang asing. Itu sebabnya, Odin berpikir mungkin saja di negara Tatsumi berada menggunakan pedang sebagai senjata utama.

“Memang sih di negaraku ada era dimana orang-orang pada memakai pedang….sejenis pedang yang namanya Katana.”

Tatsumi melihat pedang yang berada di tangannya. Pedang itu memiliki satu sisi yang tajam, tetapi bentuknya panjang lurus dan lebar. Yang mirip dengan pedang Jepang di sini hanyalah pedang bermata satu saja.

Tetapi tetap saja, image yang Tatsumi bayangkan, “kalau yang namanya dunia fantasy pastinya kan pedang!” dan sebagai remaja abad 21, ia pasti sudah mengimpi-impikan memakai pedang.

“…..Hmm awalnya, aku akan memakai yang mainstream dulu.” *

(TL Notes : maksudnya di sini Tatsumi memakai gaya Orthodox / gaya umum biasanya)

Tatsumi mengambil beberapa pedang mata satu dari tumpukan-tumpukan itu, dan mengibaskannya untuk mencoba. Pedang-pedang tersebut memiliki ujung yang tumpul jadi tidak apa-apa.

Ia memegang pedang di tangan kananya, dan ia mengambil sebuah tameng yang diletakkan di tangan kirinya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, kalau yang namanya dunia fantasi, ini lah yang pastinya menjadi Orthodox Style.

“Aku gak bilang kalau kalian harus memakai satu jenis senjata saja. Setelah terbiasa memakai pedang, kalian bisa menggantinya nanti. Tetapi tetap terus memakai pedang saja juga tidak masalah.”

Belajar menggunakan berbagai macam senjata, atau hanya memakai satu senjata sampai benar-benar menguasainya. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Jika seseorang belajar menggunakan berbagai jenis senjata, maka mereka dapat beradaptasi dengan berbagai keadaan, serta kemampuan jack-all-trades mereka juga semakin meluas. Misalnya, jika ada musuh yang sulit untuk dikalahkan dengan pedang, ganti menggunakan tongkat (TLN : staff). Lagian, jika seseorang dapat menggunakan senjata kelemahan musuhnya, itu sendiri merupakan sebuah keuntungan yang besar.

Lalu kekurangannya dari memakai berbagai senjata adalah tidak bisanya menguasai secara penuh senjata-senjata tersebut.

Seni persenjataan sangatlah dalam. Bahkan ada teknik-teknik rahasia dan misterius. Dan jika seseorang ingin menguasainya, daripada menggunakan berbagai senjata sana-sini, lebih baik menggunakan senjata yang tetap saja.

Apahak ia memilih fleksibility tergantung situasi? Ataukah membuang jalan itu dan tetap di satu senjata saja? Jawabannya sangat berbeda berlawanan sekali, dan Tatsumi tidak dapat menjawab itu sekarang.

Pertama adalah, pedang. Dia bisa memikirkan senjata-senjata lain nantinya.

Berpikir seperti itu, ia keluar dari gudang penyimpanan sambil membawa senjata yang dipilihnya tadi.

Setelah memilih senjata yang dirasa cocok, para kadet kembali ke lapangan latihan.

Sampai hari ini, mereka tidak berlatih di lapangan latihan sendirian, melainkan ada para senior ksatria yang berlatih bersama mereka. Jadi agar tidak mengganggu para senior, Tatsumi dan kawan-kawan selalu melakukan latihan dasar di pinggir lapangan.

Tetapi hari ini berbeda.

Walaupun berbeda dengan para senior ksatria pendeta, mereka mulai hari ini juga ikut berlatih menggunakan senjata di lapangan latihan.

Tetapi tentu saja, mereka tidak langsung bertarung melawan satu sama lain. Pertama setelah mengambil armor kulit (TLN : leather armor), mereka berlatih menggunakan orang-orangan boneka untuk berlatih memegang senjata.

Tatsumi memakai pedang, dan termasuk Verse, keempat lainnya menggunakan tombak panjang untuk menyerang orang-orangan boneka.

Pertama, Odin menjelaskan bagaimana cara memegang tombak. Tatsumi pun ikut mendengarkan dengan seksama walaupun ia tidak memilih senjata itu karena mungkin suatu hari nanti akan berguna.

Di saat itu.

Para ksatria pendeta yang sedang latihan dan sparring, tiba-tiba menjadi ribut.

Ingin tahu apa yang terjadi, Tatsumi dan grupnya menoleh ke belakang, sembari melihat gadis putih suci dengan rambut silver panjang yang indah, dengan menawan berjalan kemari.

“O-Oi, Tatsumi. Itu kan…”

“I-Iya, itu Chiiko….”

Sambil dilihati para ksatria pendeta yang ada di lapangan latihan, Calcedonia berjalan dan berdiri di samping Odin.

Setelah membungkukkan badannya pada Odin, Odin juga ikut membalas.

“Okay, dengerin para newbie!”

Odin memberi tahu para kadet dengan suara nyaring sambil menoleh ke arah mereka.

“Hari ini kalian akan mulai berlatih senjata. Tapi! Karena kalian masih tidak terbiasa dengan senjata, pastinya nanti akan ada yang cedera. Karena itu, pendeta Chrysophrase disini, si terkenal <<Holy Maiden>> kuil Savaiv mengajukan diri sebagai inspector latihan hari ini. Tentu saja, jika kalian terluka dalam latihan, dia akan segera menyembuhkan lukanya. Baiklah anak-anak sialan! Tunjukan rasa terima kasih!!”

Selain Tatsumi dan Verse, 3 kadet lain berbinar-binar senang sambil mengatakan dengan serempak, “Terima kasih banyak!!” pada Calcedonia.

Tidak hanya mereka melihat si terkenal Calcedonia dengan dekat, mereka juga akan secara langsung di[healing] jika mereka terluka! Ketegangan mereka langsung menjadi maksimal.

Tentu saja, Tatsumi dan Verse juga membungkuk padanya. Verse juga sudah dapat menebak apa tujuan Calcedonia datang kemari.

Alasan mengapa ia dapat menginspeksi sudah pasti karena Tatsumi. Karena ini Calcedonia yang dibicarakan, kalau Tatsumi kenapa-kenapa, ia pasti akan meninggalkan yang lain dan langsung ngebut ke sini.

Dan, pada akhirnya. Kita semua cuma extra ampas di sini.

Meski ia berpikir seperti itu, ia tetap menunjukkan senyum ramah pada Calcedonia.

“Pak pelatih Odin! Kalau kita juga terluka, apa Calcedonia-sama akan meng[healing] kita?”

Setelah melihat para kadet berteriak kesenangan, salah satu senior pendeta mengangkat tangannya dan bertanya dengan antusias seperti itu.

“Dasar sialan! Kalian bersihin pantat kalian sendiri!”

Para senior ksatria pendeta hanya tertawa mendengar teriakan marah Odin.

“Ok kalian! Gak usah pedulikan anak-anak gak jelas itu dan mulai latihan sana!”

Mendengar teriakan Odin, para kadet sekali lagi memegang pegangan senjata mereka.




“Err….*uhuk*! Pendeta Junior Yamagata. Apa anda ada yang terluka?”

Setelah selesai melakukan latihan menggunakan orang-orangan boneka dan diinstruksikan oleh Odin untuk berganti dengan Verse yang sedang menunggu gilirannya, Tatsumi yang sedang istirahat didekati oleh Calcedonia dengan senyum ramahnya.

“E…Emm… Pendeta Chrysophrase….-sama? E-Enggak ada yang masalah kok…?”

Gak bagus kalau di depan umum pakai bahasa yang intim!!

Pikir Tatsumi sehingga ia menjawab Calcedonia dengan jawaban sopan tidak natural. Tiba-tiba memanggil seseorang yang dirinya kenal dengan cara tidak biasa tentu saja berakibat dirinya merasa malu dan merinding.

“Jangan terlalu berlagak kuat deh? Anda pasti ada yang terluka di suatu tempat. Sini sini, beri tahu aku mana yang sakit gak usah malu-malu. Aku akan menyembuhkannya segera.”

“K-Kubilang aku gak kenapa-kenapa!!”

“Ah, gak usah malu-malu!!”

Perselisihan tiba-tiba terjadi! Selain mereka berdua yang tahu (Verse dan Odin), yang lainnya berhenti dan melihati mereka dengan wajah bingung.

Tatsumi yang berwajah merah dan bersiap-siap untuk kabur, dan Calcedonia yang mendekati Tatsumi sambil senyum-senyum bahagia sendiri.

Bagi orang-orang yang tidak tahu sisi Calcedonia yang ini, mereka hanya memandang dengan mata melebar.

“Sudah kubilang!! Aku gak kenapa-kenapa!!”

“Kalau gitu, kalau gitu, setidaknya biarkan aku memijat otot tegang anda!! Setelah mengayunkan pedang banyak kali pasti ada bagian yang tegang!! Biarkan aku memijat!! Sini, sini, gak usah malu-malu!!”

“Aku yang bakal malu kalau gitu!!”

Percekcokan mereka semakin meninggi. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka menjadi bahan penarik perhatian.

Bayangan besar mendekat dari arah belakang mereka, dan tiba-tiba bayangan itu memukul kepala mereka berdua dengan tangan yang mirip dengan kekuatan battle staff.

“Ughyaa!?”

“Hyiee!?”

Tatsumi dan Calcedonia bersamaan jongkok karena sakitnya pukulan di kepala mereka.

“…..Haah, dasar pasangan* sialan ini…”

(TL Notes : 夫婦 = Fūfù, agak bingung antara dia ngomong couple atau suami istri)

Mencoba mengembalikan kesadaran setelah melihat bintang-bintang bersinar memutari kepala mereka, Tatsumi dan Calcedonia berbalik arah, dan mendapati Odin dengan wajah marah tetapi pusing berdiri dengan tangan yang dilekukkan di dadanya.

“Lakukan kayak gitu itu di rumah!! Jika kalian di rumah, aku gak akan keberatan seberapa besar kalian saling goda godaan!”

Odin sendiri adalah seorang Pendeta dari Kuil Savaiv. Dan kerena Dewa yang disembahnya adalah penjaga pernikahan, dia sendiri tidak ada masalah kalau seorang pasangan menjadi membaik.

Masalahnya, harus ada waktu dan tempat yang tepat.

Odin membawa Tatsumi dan Calcedonia lalu menceramahi mereka sebentar, dan setelah mereka merefleksikan diri akhirnya ia melepaskan mereka berdua dengan menghela nafas.

Kemudian ia berbalik ke arah newbie-newbie.

Tetapi apa yang dilihatnya bukan para newbie saja, melainkan para senior jugakecuali Versemelihati Odin seakan susah bernafas.

Bukan, mereka bukan melihati Odin, tetapi Tatsumi dan Calcedonia yang wajah mereka berdua telah menjadi patuh dan penurut.

“Apa-apaan kalian semua ini? Berwajah kayak orang bodoh begitu.”

“Ah, enggak, Pak pelatih Odin….Barusan, maaf kalau bertanya lancang tapi…apa anda baru saja memanggil mereka berdua seorang pasangan…?”

“Ah, mereka berdua ini? Hmm iya, mereka masih belum secara resmi menikah tetapi pada dasarnya sama saja. Ini sudah mendapat persetujuan langsung bahkan dari Yang mulia Pendeta Tertinggi Chrysophrase sendiri.”

Setelah berkata seperti itu, lapangan latihan menjadi sunyi senyap untuk sementara.

Beberapa detik pun berlalu pada kesunyian tersebut.

“”EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHH!!!””

Suara bersamaan yang begitu nyaringnya sampai-sampai Odin, yang berada paling dekat, harus menutupi telingannya dengan kedua tangan.

“G-Gak mungkiiiiin!! Waktu Morganeich-sama akhirnya pergi kukira aku akhirnya punya kesempatan untuk mendekati Calcedonia-sama!?”

“A-Aku dengar kalau Morganeich-sama habis ditolak Calcedonia-sama, lalu ia pergi untuk menyembuhkan hatinya yang terluka….jangan-jangan rumor itu apa memang benar….?”

“I-Itu bohong…kan? M-Maksudku, T-Tatsumi yang itu…? Hanya newbie, tidak lebih dari seorang junior ksatria pendeta, dia, dengan <<Holy Maiden>>-sama…?”

“Enggak bentar dulu kawan-kawan! Pikirkan, coba pikirkan baik-baik! Kalau Tatsumi aja bisa, berarti kita juga bisa kan…?”

“Ou? Ooohh!? K-Kalau dipikir-pikir benar juga!? Kamu, kamu itu jenius bener!?”

“Enggak, itu gak bakal mungkin…”

Orang yang berkomentar terakhir adalah Verse yang sedang berlatih dengan tombaknya tanpa berkata-kata.

“Lagian, Calcedonia-sama yang nge approach Tatsumi tahu? Atau bisa dibilang juga, aku yakin Calcedonia-sama tidak tertarik pada siapapun kecuali Tatsumi.”

Verse telah sering berkali-kali nongkrong bersama Tatsumi dan Calcedonia, ia paling tahu bahwa tidak ada celah diantara mereka berdua untuk dimasuki.

Dan juga, perasaan sayang Tatsumi pada Calcedonia kalau dilihat jauh lebih rendah dibandingkan perasaan sayang Calcedonia yang sampai tumpah-tumpah.

Perasaan cintanya itu, sampai-sampai dapat membuat seorang lelaki hancur tertindis oleh perasaan itu, atau dapat membuatnya meninggalkan semuanya dan melarikan diri. Mengesampingkan laki-laki lain, Verse berpikir bahwa jika itu Tatsumi maka ia dapat menerima semua perasaan cinta Calcedonia padanya.

“Ah, terlebih lagi? Jika kalian ingin melakukan hal-hal aneh terhadap Tatsumi karena perasaan cemburu gak jelas kalian, maka dampaknya akan sangat buruk. Jika Tatsumi nantinya kenapa-napa, <<Seijo>> nanti akan menjadi <<Maō>>.” *

(TL Notes : Seijo berarti Holy Maiden, Maō berarti Demon Queen)

“K-Kenapa kok kamu bisa ngomong yakin seperti itu?”

“Yaa karena aku telah berteman dengan Calcedonia-sama sejak lama.”

Dengan senyuman bangga, Verse mengangkat jempolnya.

“Kuberi tahu kalian sesuatu yang bagus. Jika kalian berteman dengan Tatsumi, kalian juga akan bisa berinteraksi dengan Calcedonia walaupun ada batasnya. Yaa menjadi pacar bukanlah hal yang mungkin selama di situ ada Tatsumi, tapi kalian akan masih dapat menjadi teman. Seperti aku yang hebat ini!!”

Dengan dramatik, ia menunjukkan jempolnya ke arah dirinya.

Verse sendiri, beberapa bulan lalu mengidolakan <<Holy Maiden>> Kuil Savaiv. Tapi tentu saja, hanya sebatas kagum karena idola saja, bukan mencapai garis mencintai.

Lalu, karena berteman dengan Tatsumi, ia juga dapat berteman dengan si terkenal <<Holy Maiden>>.
Setelah mengenal dirinya yang sebenarnya, ia mengerti bahwa Calcedonia tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis normal seusianya. Dari situ, keidolaannya berubah menjadi keakraban.

Sekarang ini bagi Verse, Calcedonia bukanlah seorang <<Holy Maiden>> Kuil Savaiv, melainkan [Istri dari Temannya].

“Dengerin! Hal terpenting adalah tidak memiliki unsur-unsur licik. Gadis itu, karena adanya kejadian tertentu, sekarang menjadi sangat sensitif terhadap rencana-rencana licik. Kalian harus melihat Calcedonia-sama sebagai tidak lebih dari ‘Istrinya Teman’. Jika kalian dapat melakukan itu, pasti kalian nanti akan bisa berteman dengannya.”

Kadet-kadet lain mendengar nasihat Verse baik-baik.

Yang terlihat di situ tetapi,

“Aku mengerti! Kalau gitu setelah kita berhasil mendekat, akhirnya kita bisa mencuri Calcedonia-sama dari Tatsumi di waktu yang tepat, gitu kan?!”

“Bukan! Kan sudah kubilang, gak boleh ada rencana-rencana licik!!”

Tinjuan Verse, melayang mendarat ke wajah salah satu kadet yang barusan berbicara seperti itu.




Setelah kejadian itu, sebuah rumor mulai menyebar di sekitar kuil Savaiv.

Isi rumor tersebut adalah <<Holy Maiden>> kuil akhirnya telah menemukan seorang partner hidup.
Terlebih lagi, dia telah tinggal bersama-sama dengan partner tersebut, dan upacara pernikahan sudah tinggal menunggu waktu.

Itu adalah hari, dimana orang-orang yang memiliki kepercayaan dan keyakinan pada <<Holy Maiden>> menangis darah. Dan para penganut-penganut tersebut ingin melakukan rencana licik seperti memberikan tumbal darah lelaki dalam rumor.

Akan tetapi terdapat rumor lain yang membuat mereka dapat menahan diri.

Rumor itu adalah, “Bagi seseorang yang ingin membuat celaka partner Yang mulia <<Holy Maiden>>-sama akan merasakan siksaan dan derita dari <<Seijo>> yang berubah menjadi <<Maō>>, karena kemarahannya yang sangat besar. Juga mereka akan dibenci <<Holy Maiden>> selamanya.”

Tentu saja mereka membenci lelaki yang mencuri <<Holy Maiden>> dari hati mereka, tetapi mereka lebih tidak mau jika dibenci oleh <<Holy Maiden>> sendiri.

Berpikir seperti itu, semua para penganut <<Holy Maiden>> hanya meneteskan air mata, sambil melihati pasangan tersebut dari jauh.

Sebagian penganut yang sedikit fanatic terhadapnya mencari peluang untuk mengusir lelaki partner yang mereka benci tersebut, tetapi setelah melihat keharmonisan hubungan mereka berdua, mereka mau tidak mau memutuskan rencana mereka.

Seperti itulah jadinya.


Sebuah pasangan laki-laki dan wanita, <<Holy Maiden>> Kuil Savaiv dan lelaki asing berambut dan bermata hitam secara perlahan mulai diakui oleh orang-orang sekitar.

Previous Chapter - Daftar Isi - Next Chapter


Contact for donate
Line : gugusap

No comments:

DMCA.com Protection Status